Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Netanyahu Akui 'Puas' Bom Qatar, Memicu Kemarahan Regional dan Diplomasi yang Canggung

DuniaBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Internasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Netanyahu Akui 'Puas' Bom Qatar, Memicu Kemarahan Regional dan Diplomasi yang Canggung
BAGIKAN:

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka mengakui bahwa ia memerintahkan serangan udara ke Qatar pada September 2025, menyatakan kepuasannya atas aksi militer tersebut dan menyebut Doha sebagai negara "bermusuhan" yang tidak berhak mendikte kebijakan Israel. Pengakuan mengejutkan ini disampaikan dalam wawancara dengan i24NEWS pada 5 September 2025, dan diunggah ke media sosialnya, menjelang peringatan satu tahun serangan Israel ke Doha yang menewaskan lima anggota Hamas dan satu petugas keamanan Qatar. Pernyataan Netanyahu tidak hanya memperuncing ketegangan diplomatik di kawasan, tetapi juga memicu respons keras dari berbagai negara, termasuk sekutu dekat Israel seperti AS, serta memaksa Netanyahu meminta maaf secara langsung kepada pemimpin Qatar dalam pertemuan di Gedung Putih.

Latar Belakang Serangan dan Pengakuan Netanyahu

Dalam wawancara tersebut, Netanyahu menegaskan bahwa dirinya "menyerang Qatar, membom dan menyerang mereka selama perang," seraya menuding Qatar sebagai pihak yang memusuhi Israel. Ia juga menepis kritik domestik yang menyebut dana Qatar untuk Gaza dialihkan untuk kepentingan lain selain bantuan kemanusiaan. Pengakuan ini muncul tepat setahun setelah serangan Doha pada 9 September 2025, yang menargetkan pertemuan anggota Hamas yang membahas proposal gencatan senjata yang didukung AS.

Qatar selama ini berperan sebagai mediator utama antara Israel dan Hamas, dengan kantor politik Hamas yang beroperasi di Doha sejak 2012 atas permintaan Washington. Serangan Israel ke Doha—yang menewaskan lima pejabat Hamas dan seorang aparat keamanan Qatar—dinilai oleh pemerintah Qatar sebagai "pelanggaran terang-terangan terhadap semua hukum dan norma internasional," dengan juru bicara Kementerian Luar Negeri, Majed Al Ansari, menyebutnya sebagai tindakan "pengecut."

Reaksi Internasional dan Eskalasi Diplomatik

Kecaman datang dari berbagai penjuru. Iran dan Pakistan mengeluarkan pernyataan keras, sementara para pemimpin Yordania, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi melakukan kunjungan solidaritas ke Qatar tidak lama setelah serangan. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres juga menyebut serangan tersebut sebagai "pelanggaran terang-terangan" terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Qatar. Di tengah gelombang protes, Netanyahu dan Presiden AS Donald Trump mengadakan pertemuan dengan Perdana Menteri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani di Gedung Putih pada bulan yang sama—sebuah momen diplomatik yang langka, di mana Netanyahu secara pribadi menyampaikan permintaan maaf atas serangan ke Doha.

Langkah ini menyoroti ketegangan antara kepentingan keamanan Israel dan kebutuhan untuk mempertahankan hubungan dengan negara-negara Teluk yang terlibat dalam proses perdamaian. Pengamat menilai bahwa meski Netanyahu mengekspresikan kepuasan pribadi, realitas politik mengharuskannya untuk meredakan ketegangan melalui jalur diplomatik, terutama mengingat peran penting Qatar dalam mediasi konflik Gaza dan stabilitas energi regional.

Analisis: Dilema Keamanan dan Diplomasi

Sebagai analis hubungan internasional, insiden ini mencerminkan paradoks dalam strategi Israel: di satu sisi, menganggap Qatar sebagai pemain bermusuhan karena dukungannya terhadap Hamas, namun di sisi lain, Doha tetap menjadi saluran komunikasi yang tak terhindarkan dalam upaya gencatan senjata. Sikap Netanyahu yang terkesan arogan di hadapan publik kontras dengan permintaan maaf di belakang layar, menunjukkan betapa rapuhnya keseimbangan antara retorika politik domestik dan tuntutan diplomasi luar negeri.

Kunjungan para pemimpin Arab ke Qatar pasca-serangan juga mengindikasikan solidaritas yang kuat di antara negara-negara Teluk, yang dapat mengancam normalisasi hubungan dengan Israel jika eskalasi berlanjut. Sementara itu, keterlibatan AS sebagai penengah—yang sebelumnya mendukung serangan tersebut melalui persetujuan gencatan senjata—menempatkan Washington dalam posisi sulit, karena harus menyeimbangkan dukungan terhadap sekutu utamanya dengan upaya menjaga stabilitas kawasan. Kejadian ini juga mengingatkan pada dinamika hubungan Israel-AS yang sering kali memaksa Netanyahu untuk mengoreksi langkah-langkahnya setelah tekanan internasional.

Ke depan, insiden ini berpotensi mempengaruhi proses negosiasi Gaza, mengingat Qatar telah mengancam untuk menarik diri dari mediasi jika serangan terulang. Apakah permintaan maaf Netanyahu cukup untuk memulihkan kepercayaan, atau apakah ini hanya jeda sementara sebelum ketegangan kembali memuncak? Yang jelas, pernyataan "puas" Netanyahu telah membuka luka diplomatik yang akan sulit disembuhkan dalam waktu dekat.

FAQ Terkait Berita Ini

1. Mengapa Netanyahu menyerang Qatar jika Qatar menjadi mediator?
Netanyahu menganggap Qatar sebagai negara yang mendukung Hamas dan memusuhi Israel, sehingga serangan tersebut dimaksudkan untuk menekan Doha agar tidak ikut campur dalam kebijakan Israel di Gaza, meskipun Qatar berperan sebagai fasilitator perundingan.

2. Bagaimana reaksi AS terhadap pengakuan Netanyahu?
AS tidak mengeluarkan kecaman terbuka, namun pertemuan di Gedung Putih yang dihadiri Trump dan permintaan maaf Netanyahu menunjukkan bahwa Washington mendorong penyelesaian diplomatik untuk mencegah keretakan lebih lanjut dengan sekutu Teluk.

3. Apa dampak serangan ini terhadap proses perdamaian Gaza?
Serangan ini mengancam peran Qatar sebagai mediator, dan meskipun telah ada permintaan maaf, kepercayaan Doha terhadap Israel menurun, yang dapat menghambat upaya gencatan senjata di masa mendatang. Konflik Gaza tetap menjadi isu yang sangat sensitif di tengah dinamika kekuatan regional.

Meow! Tanya Nesi!
😸