Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Kapan Hujan Abu Krakatau Berhenti? Pakar Ungkap Pola yang Justru Jadi Penentu, Bukan Kalender

TeknologiReza AdityaReza AdityaSumber: CNN Teknologi
Reza Aditya
Reza Aditya
Pakar Teknologi

Reviewer gadget independen dengan perspektif teknis yang mendalam.

Kapan Hujan Abu Krakatau Berhenti? Pakar Ungkap Pola yang Justru Jadi Penentu, Bukan Kalender
BAGIKAN:

Hujan abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau masih mengguyur sejumlah wilayah di Provinsi Lampung sejak Sabtu (5/9) sore hingga malam hari. Namun, kapan tepatnya fenomena ini berakhir? Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menegaskan bahwa tidak ada yang bisa memprediksi tanggal pasti—yang ada hanyalah pembacaan pola aktivitas magma dan penurunan gempa vulkanik. Menurutnya, letusan baru akan berhenti jika pasokan magma segar dari perut bumi habis dan tekanan di dapur magma mereda, sebuah proses yang hingga kini belum bisa diukur secara presisi oleh teknologi apa pun di dunia.

Faktor Penentu: Magma dan Angin

Daryono menjelaskan bahwa selama kantong magma di bawah gunung masih terus menerima kiriman baru dari kedalaman, letusan susulan yang membawa abu akan terjadi secara naik-turun—kadang tenang, kadang membesar. Arah sebaran abu sangat bergantung pada dua hal: kekuatan letusan dan arah angin. Abu halus yang terlontar tinggi bisa terbawa hingga puluhan bahkan ratusan kilometer, seperti yang terjadi di Lampung Selatan, Bandar Lampung, Lampung Timur, Pesawaran, Pringsewu, Tanggamus, Pesisir Barat, Mesuji, dan Lampung Barat.

Dampaknya pun langsung dirasakan warga: mata perih, tenggorokan tidak nyaman, hingga gangguan pernapasan. Perubahan arah angin diduga menjadi penyebab utama abu vulkanik menjangkau lebih jauh dari perkiraan awal.

Mengapa Prediksi Hari Henti Sangat Sulit?

Dalam pernyataan tertulisnya, Senin (7/9), Daryono mengibaratkan prediksi ini mirip dengan prediksi gempa bumi—sama-sama terjadi di kedalaman puluhan kilometer di bawah permukaan, sehingga belum ada teknologi yang mampu mengukur sisa jumlah magma secara persis. "Perut bumi adalah sistem alam yang rumit," ujarnya. "Yang bisa dilakukan ahli vulkanologi bukan menebak tanggal, melainkan membaca pola melalui pemantauan gempa dalam, penurunan bau gas, dan deformasi tubuh gunung."

Ia menambahkan, ketika dorongan alami dari dalam bumi kehilangan tenaganya, magma akan mendingin, mengeras, dan menyumbat saluran. Tanda-tanda seperti hilangnya gempa dalam, menurunnya gas menyengat, dan tubuh gunung yang mulai menyusut bisa menjadi indikasi bahwa pasokan mulai habis—namun semua itu tetap tidak bisa dijadikan patokan waktu pasti.

Teknologi dan Keterbatasannya: Sebuah Catatan Kritis

Sebagai tech-reviewer, saya melihat bahwa kasus ini kembali menggarisbawahi batasan teknologi dalam menghadapi fenomena geologi. Kita memiliki satelit, sensor seismik, dan model komputer canggih, tetapi semua itu hanya mampu membaca gejala, bukan menghitung sisa "bahan bakar" di dalam perut Bumi. Ini bukan soal kurangnya investasi riset—melainkan karena kompleksitas alam yang tidak linear. Sementara kita sering tergiur dengan prediksi berbasis AI untuk cuaca atau pasar saham, untuk gunung berapi, kepastian tetap berada di tangan alam.

Namun, bukan berarti kita pasif. Pemantauan berkelanjutan oleh PVMBG Badan Geologi patut diapresiasi. Mereka bekerja tanpa lelah membaca pola, dan justru pendekatan berbasis data inilah yang menjadi andalan kita untuk mitigasi. Bagi masyarakat di zona terdampak, yang terpenting adalah mengikuti arahan evakuasi dan memakai masker, karena meski prediksi tanggal tidak mungkin, kewaspadaan tetap bisa kita kendalikan.

FAQ Terkait Berita Ini

1. Apakah hujan abu vulkanik berbahaya bagi kesehatan?

Ya. Abu vulkanik mengandung partikel silika yang dapat mengiritasi mata, saluran pernapasan, dan memperparah penyakit paru-paru. Gunakan masker N95 atau kain basah, dan hindari aktivitas di luar ruangan saat hujan abu sedang deras.

2. Bisakah teknologi saat ini memprediksi kapan erupsi berhenti?

Tidak. Belum ada alat yang mampu mengukur sisa magma secara presisi. Para ahli hanya bisa memantau penurunan aktivitas seismik dan deformasi gunung untuk memperkirakan tren, bukan tanggal pasti.

3. Apa yang harus dilakukan warga saat terjadi hujan abu?

Segera gunakan masker, tutup pintu dan jendela, hindari kontak kulit dengan abu, dan bersihkan abu dari atap rumah untuk mencegah beban berlebih. Ikuti informasi resmi dari PVMBG dan BPBD setempat.

Meow! Tanya Nesi!
😸