Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Ancaman di Balik Erupsi Krakatau: Bagaimana Abu Vulkanik Bisa 'Mematikan' Mesin Pesawat?

TeknologiKelvin WijayaKelvin WijayaSumber: CNN Teknologi
Kelvin Wijaya
Kelvin Wijaya
Software Engineer

Membahas teknologi dari kacamata pengembang dan inovasi perangkat lunak.

Ancaman di Balik Erupsi Krakatau: Bagaimana Abu Vulkanik Bisa 'Mematikan' Mesin Pesawat?
BAGIKAN:

Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK) yang meningkat pada Minggu (6/9) memaksa otoritas penerbangan menghentikan operasional di delapan bandara, mulai dari Bandara Soekarno-Hatta hingga Radin Inten II Lampung. BMKG menyebut abu vulkanik sebagai biang kerok utama—material halus berbahaya yang dapat terbawa angin hingga ratusan kilometer. Dampaknya tidak main-main: selain mengganggu kesehatan dan lingkungan, partikel abu dapat mematikan mesin pesawat, mengikis kaca kokpit, dan mengacaukan sistem navigasi, menjadikannya ancaman serius bagi keselamatan penerbangan.

Mengapa Abu Vulkanik Begitu Mematikan bagi Pesawat?

Menurut penjelasan BMKG melalui akun Instagram resminya, abu vulkanik mengandung serpihan kaca dan batuan tajam. Saat terhisap ke dalam mesin yang bersuhu sangat tinggi, abu meleleh dan menyumbat saluran udara, menyebabkan teknologi mesin pesawat kehilangan daya dorong hingga mati total. Ini bukan sekadar teori—beberapa insiden penerbangan dunia pernah mengalaminya, seperti kasus British Airways 9 pada 1982.

Selain mesin, abu juga menyerang komponen vital lain. Gesekan partikel abrasif dapat mengikis kaca kokpit layaknya amplas, mengurangi jarak pandang pilot hingga kabur. Sistem navigasi pun tak luput: sensor kecepatan dan ketinggian yang tersumbat abu menghasilkan data keliru, mengancam akurasi informasi penerbangan. Sebagai pengamat teknologi penerbangan, saya melihat bahwa ketergantungan pesawat modern pada sistem elektronik yang presisi justru membuat mereka lebih rentan terhadap partikel halus—sebuah ironi di tengah kemajuan avionik.

Sebaran Abu dan Langkah Mitigasi

Berdasarkan analisis RGB Citra Himawari-9 dan laporan PVMBG serta VAAC Darwin per Minggu pukul 12.00 WIB, sebaran abu terbagi dua: pertama bergerak ke timur laut-selatan mencakup DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat; kedua ke barat daya-barat laut menyentuh Lampung, Bengkulu, dan Selat Sunda bagian selatan. Dengan diameter partikel kurang dari 2 mm, abu bisa melayang jauh, sehingga penutupan bandara menjadi langkah preventif wajib demi keselamatan penumpang dan awak.

Keputusan berani ini menunjukkan bahwa manajemen krisis penerbangan Indonesia mulai mengedepankan data ilmiah, meskipun berdampak pada jadwal dan ekonomi. Namun, dari sudut pandang insinyur, saya menilai perlu ada investasi lebih besar pada sensor deteksi abu jarak jauh dan sistem kecerdasan buatan untuk memprediksi pergerakan abu secara real-time—sehingga gangguan bisa diminimalkan tanpa mengorbankan keselamatan.

FAQ Terkait Berita Ini

Apakah semua pesawat otomatis dihentikan jika ada abu vulkanik?
Tidak otomatis, namun otoritas bandara dan maskapai akan mengevaluasi berdasarkan laporan VAAC (Volcanic Ash Advisory Center) dan panduan dari pabrikan mesin.

Bagaimana cara mesin pesawat didesain agar tahan terhadap abu?
Mesin modern memiliki ruang bakar dan bilah turbin yang lebih tahan panas, tetapi tidak ada yang sepenuhnya kebal. Protokol penerbangan selalu menghindari area dengan konsentrasi abu tinggi.

Apakah abu vulkanik juga berbahaya bagi pesawat kargo?
Sama bahayanya, karena kargo pesawat tetap menggunakan mesin dan sistem navigasi yang sama. Keselamatan operasional tidak membedakan jenis muatan.

BERITA TERKAIT (Teknologi)

Meow! Tanya Nesi!
😸