Revolusi Pemadaman Gambut: Tepung Singkong Jadi Senjata Baru Korbrimob di Kalteng

Ekonomi & Pasar
Hendra GunawanHendra Gunawan
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Revolusi Pemadaman Gambut: Tepung Singkong Jadi Senjata Baru Korbrimob di Kalteng
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Korbrimob Polri mendukung Polda Kalimantan Tengah dengan inovasi pemadam api berbahan dasar tepung singkong (Hertindo AF31) untuk menangani karhutla gambut.
  • Teknologi ini menggunakan drone thermal untuk mendeteksi bara bawah tanah, meningkatkan efisiensi penggunaan air yang kritis selama musim kemarau.
  • Campuran 25 kg serbuk dan 100 liter air disuntikkan langsung ke titik bara untuk mencegah kebakaran berulang dan mengurangi asap tebal.

PALANGKA RAYA – Dalam upaya mengatasi tantangan kompleks kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di lahan gambut, Kepolisian Daerah Kalimantan Tengah menerima dukungan strategis dari Korps Brimob Polri. Inovasi terbaru yang diterapkan adalah penggunaan serbuk pemadam api berbahan dasar tepung singkong, yang dinilai lebih efektif dalam memadamkan bara api yang tersembunyi di bawah permukaan tanah dibandingkan metode konvensional.

Kapolda Kalteng, Irjen Pol Iwan Kurniawan, menyoroti bahwa kendala utama dalam penanganan karhutla gambut adalah persistensi bara api di bawah tanah meskipun api permukaan telah padam. Kondisi ini sering kali memicu munculnya asap tebal dan risiko kebakaran kembali saat tertiup angin kencang. Untuk mengatasi hal ini, bahan pemadam bernama Hertindo AF31 dicampur dengan air dan diinjeksikan secara presisi ke titik-titik panas yang terdeteksi oleh drone thermal.

Efisiensi sumber daya menjadi kunci dalam operasi ini. Satu kantong serbuk seberat 25 kilogram dicampur dengan 100 liter air. Dalam satu tampungan berkapasitas 1.200 liter, diperlukan 12 kantong serbuk. Pendekatan ini tidak hanya mempercepat proses pembasahan tetapi juga menghemat volume air yang sangat terbatas selama musim kemarau. Bantuan logistik dari Mabes Polri telah didistribusikan ke berbagai wilayah di Kalteng untuk mendukung operasional lapangan.

Analisis Pakar

Dari perspektif ekonomi makro dan manajemen sumber daya, inovasi penggunaan tepung singkong sebagai agen pemadam api gambut merepresentasikan pergeseran paradigma dari pendekatan reaktif berbasis volume air menuju pendekatan presisi berbasis teknologi. Biaya oportunitas dari kegagalan pengendalian karhutla—mulai dari kerugian sektor pertanian, gangguan transportasi udara akibat asap, hingga dampak kesehatan masyarakat—jauh melebihi biaya investasi awal untuk teknologi seperti Hertindo AF31. Efisiensi penggunaan air bukan sekadar isu teknis, melainkan isu ekonomi krusial di daerah rawan kekeringan seperti Kalimantan Tengah, di mana akses terhadap sumber air bersih bisa menjadi komoditas langka dan mahal selama puncak musim kemarau.

Selain itu, integrasi drone thermal dalam proses deteksi menunjukkan adopsi teknologi Industri 4.0 dalam sektor keamanan publik dan penanggulangan bencana. Ini menciptakan nilai tambah berupa data real-time yang dapat digunakan untuk pemodelan risiko kebakaran di masa depan. Bagi investor dan pelaku bisnis di sektor agribisnis dan kehutanan, stabilitas lingkungan akibat pengendalian karhutla yang lebih baik berarti penurunan premi asuransi dan peningkatan kepastian operasional. Namun, skalabilitas solusi ini perlu dikaji lebih lanjut; apakah produksi massal tepung singkong khusus untuk pemadam api akan mengganggu rantai pasok pangan atau justru membuka pasar baru bagi petani lokal?

Kritik konstruktif harus ditujukan pada keberlanjutan jangka panjang. Ketergantungan pada bantuan pusat (Mabes Polri) melalui Korbrimob menunjukkan bahwa kapasitas fiskal daerah mungkin belum cukup untuk mendanai inovasi semacam ini secara mandiri. Oleh karena itu, kolaborasi publik-swasta (KPS) perlu dipertimbangkan untuk mengembangkan industri lokal produksi bahan pemadam ramah lingkungan. Jika dikelola dengan benar, ini bisa menjadi klaster ekonomi hijau baru di Kalimantan, mengubah limbah pertanian atau hasil sampingan singkong menjadi produk bernilai tinggi untuk mitigasi bencana.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Apa itu Hertindo AF31 dan bagaimana cara kerjanya?
A: Hertindo AF31 adalah serbuk pemadam api berbahan dasar tepung singkong yang dicampur air dan disuntikkan ke bara api bawah tanah untuk menyekat oksigen dan mendinginkan titik panas secara efektif.

Q: Mengapa pemadaman api gambut lebih sulit daripada api biasa?
A: Api gambut membakar material organik di bawah permukaan tanah, sehingga bara api bisa bertahan lama tanpa terlihat di permukaan dan mudah menyala kembali jika tertiup angin, menghasilkan asap tebal yang berbahaya.

Q: Berapa rasio campuran tepung singkong dan air untuk pemadaman?
A: Rasio standarnya adalah 25 kilogram serbuk tepung singkong dicampur dengan 100 liter air untuk membentuk larutan pemadam yang efektif.

Meow! Tanya Nesi!
😾