Pramono Anung Targetkan Jakarta Jadi Pusat Kopi Dunia: Ambisi atau Realita?
Edukator keuangan milenial dengan pendekatan yang mudah dipahami.

Ringkasan Singkat
- Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, resmi membuka Indonesia Coffee Expo (ICX) 2026 dan menargetkan Jakarta sebagai simpul utama industri kopi nasional.
- Pemprov DKI menilai potensi kopi Nusantara sangat besar, didukung oleh 193.000 pelaku usaha kopi di Jakarta dan kontribusi ekonomi daerah sebesar 16,32% terhadap PDB nasional.
- Pramono mendorong SCAI untuk menghadirkan ajang World of Coffee ke Jakarta sebelum 2030, dengan janji dukungan penuh dari pemerintah daerah.
Jakarta, 5 September 2026 – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, secara resmi membuka perhelatan Indonesia Coffee Expo (ICX) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat (4/9). Dalam sambutannya, ia menegaskan ambisi besar menjadikan Jakarta sebagai simpul utama ekosistem kopi nasional, sekaligus gerbang promosi dan perdagangan kopi Indonesia ke pasar global.
“Kami serius mendorong Jakarta menjadi pusat bagi industri kopi Indonesia. Dari Sabang hingga Merauke, kita punya kekayaan varietas yang luar biasa. Jika dikelola dengan kolaborasi terencana, dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi daerah akan sangat besar,” ujar Pramono di hadapan ratusan pelaku usaha dan pengunjung pameran.
Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa industri hilir kopi di Jakarta kini melibatkan hampir 193.000 pelaku usaha, mulai dari kedai kopi, kafe, hingga restoran. Fenomena budaya “take away” di kalangan generasi muda turut mendorong konsumsi kopi yang semakin masif. Pramono juga menyoroti stabilitas ekonomi Jakarta dengan inflasi rendah 2,5% dan kontribusi PDB 16,32% sebagai fondasi kokoh bagi pengembangan industri ini.
Dalam kesempatan itu, ia membandingkan pengalamannya mencicipi kopi Tanzania yang hanya mengandalkan satu varietas, berbeda dengan kopi lokal seperti Gayo, Luwak, Toraja, dan Mandailing yang kaya karakter. Namun, di balik optimisme itu, Pramono justru menantang SCAI (Specialty Coffee Association of Indonesia) untuk menghadirkan kembali ajang World of Coffee ke Jakarta sebelum 2030, bahkan menyebut target spesifik Mei 2029. “Pemprov siap memberikan dukungan penuh, termasuk asistensi kebijakan dan kemudahan lainnya,” tegasnya.
Presiden Direktur PT Dyandra Promosindo, Daswar Marpaung, menyambut baik gelaran ini sebagai momentum mempertemukan pemangku kepentingan dan membuka peluang bisnis. Sementara Ketua Umum SCAI, Daryanto Witarsa, menegaskan bahwa ICX dirancang menjadi platform nasional yang menghubungkan petani, barista, pengolah, hingga pembeli internasional, dengan harapan dapat memperluas jaringan global.
Analisis Pakar
Sebagai jurnalis yang telah malang melintang di dunia investigasi ekonomi, saya melihat pernyataan Gubernur Pramono Anung bukan sekadar seremonial, melainkan sebuah sinyal politik-ekonomi yang perlu dibaca dengan kritis. Ambisi menjadikan Jakarta sebagai simpul utama industri kopi nasional memang terdengar menggembirakan, tetapi di balik retorika itu menganga sejumlah persoalan struktural yang selama ini kerap terabaikan.
Pertama, soal kesiapan rantai pasok. Jakarta memang pusat konsumsi dan perdagangan, tetapi rantai pasok kopi nasional masih didominasi oleh petani kecil di daerah yang menghadapi kendala produktivitas, perubahan iklim, dan akses pembiayaan. Mengklaim Jakarta sebagai simpul tanpa memperkuat hulu – mulai dari bibit unggul, pendampingan teknis, hingga kepastian harga – sama saja membangun menara di atas rawa. Sejauh mana Pemprov DKI memiliki program nyata untuk menjembatani petani dengan pelaku usaha di Jakarta? Tidak ada satu pun data konkret dalam sambutan tersebut.
Kedua, soal daya saing global. Pramono membandingkan dengan Tanzania, tetapi nyatanya Indonesia masih kalah dalam standar mutu dan konsistensi ekspor. Menurut data Kementerian Perdagangan, nilai ekspor kopi Indonesia justru cenderung stagnan dalam lima tahun terakhir, sementara Vietnam dan Ethiopia terus melesat. Mengandalkan kekayaan varietas saja tidak cukup tanpa strategi branding dan sertifikasi internasional yang terintegrasi. Apakah Jakarta akan menjadi inkubator bagi peningkatan kualitas, atau sekadar pasar besar yang membanjiri kedai kopi dengan biji impor? Ironis jika target “pusat” justru berujung pada dominasi kopi luar negeri di gerai-gerai premium Jakarta.
Ketiga, yang paling menggelitik adalah janji dukungan penuh untuk World of Coffee 2029. Sebuah ajang prestisius memang bisa mendongkrak citra, tetapi biaya penyelenggaraan dan infrastruktur pendukung (akomodasi, transportasi, keamanan) tidaklah murah. Saya menduga ada kepentingan bisnis di balik dorongan ini, mengingat SCAI dan Dyandra memiliki relasi erat dengan sejumlah pengusaha besar. Apakah ini bentuk nyata pembinaan industri, atau justru ajang bagi segelintir korporasi untuk meraup keuntungan dari subsidi publik? Pemerintah daerah perlu transparan soal skema pendanaan dan dampak ekonominya bagi pelaku UMKM, bukan sekadar euforia seremonial.
Yang tak kalah penting, budaya konsumsi kopi di Jakarta memang berkembang, namun sebagian besar masih mengandalkan gaya hidup konsumtif kelas menengah. Jika tidak diimbangi dengan edukasi tentang kopi asli Indonesia dan penghargaan terhadap petani lokal, maka “simpul utama” hanya akan menjadi simbol gentrifikasi perkopian. Saya berharap Pramono dan jajarannya tidak berhenti di atas panggung ICX, tetapi turun ke lapangan untuk memastikan bahwa setiap cangkir kopi yang dinikmati di Jakarta benar-benar membawa kesejahteraan bagi petani di Gayo, Toraja, dan Flores. Tanpa itu, semua ini hanyalah ilusi urban.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa itu Indonesia Coffee Expo (ICX) 2026 dan apa tujuannya?
- A: ICX 2026 adalah pameran dagang kopi berskala nasional yang diselenggarakan di Jakarta, bertujuan mempertemukan pelaku industri hulu hingga hilir, serta memperluas akses pemasaran kopi Indonesia ke pasar internasional.
- Q: Mengapa Jakarta dipilih sebagai pusat industri kopi nasional?
- A: Jakarta memiliki basis konsumen besar, pertumbuhan kedai kopi yang pesat, kontribusi ekonomi signifikan, dan infrastruktur pendukung pameran internasional, sehingga dianggap strategis sebagai simpul perdagangan dan promosi.
- Q: Kapan World of Coffee akan kembali digelar di Jakarta?
- A: Gubernur Pramono Anung menargetkan ajang World of Coffee dapat diselenggarakan di Jakarta sebelum 2030, dengan usulan spesifik pada Mei 2029, dan Pemprov DKI siap memberikan dukungan penuh bagi penyelenggaraannya.


