Pertamina Main Dua Strategi di IdeaFest 2026: Bisnis Migas Tetap Jalan, Bisnis Hijau Disiapkan untuk Masa Depan

Ekonomi & Pasar
Siti AmaliaSiti Amalia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Pertamina Main Dua Strategi di IdeaFest 2026: Bisnis Migas Tetap Jalan, Bisnis Hijau Disiapkan untuk Masa Depan
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Pertamina memperkenalkan strategi 'Dual Growth' di IdeaFest 2026 untuk generasi muda, menggabungkan penguatan bisnis energi eksisting dan pengembangan bisnis rendah karbon.
  • Konsumsi energi nasional masih lebih tinggi dari produksi, sehingga impor tetap diperlukan—ini menjadi tantangan ketahanan energi yang harus dijawab dengan produksi dalam negeri dan energi baru.
  • Pertamina telah mengembangkan Sustainable Aviation Fuel (SAF) dari minyak jelantah, yang sudah diuji sejak 2015 dan kini digunakan pada rute Jakarta-Bali oleh Pelita Air.

PT Pertamina (Persero) membawa isu ketahanan energi dan transisi energi ke panggung IdeaFest 2026 yang berlangsung di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan. Dalam forum yang dihadiri generasi muda itu, perusahaan pelat merah ini memperkenalkan Dual Growth Strategy—strategi ganda yang menjaga bisnis energi konvensional tetap berjalan sambil membangun fondasi bisnis rendah karbon untuk masa depan.

Corporate Secretary Pertamina, Arya Dwi Paramita, menyatakan bahwa acara ini menjadi ruang penting untuk membuka wawasan anak muda tentang kompleksitas tantangan energi Indonesia. Menurutnya, sebagai perusahaan energi nasional, Pertamina memiliki posisi strategis karena konsumsi energi di dalam negeri saat ini masih melampaui kemampuan produksi. Kondisi ini sudah berlangsung lama dan memaksa Indonesia untuk mengimpor sebagian kebutuhan minyak dan gas.

"Sudah lama sekali kita melakukan impor. Artinya, konsumsi kita lebih tinggi daripada produksi nasional. Di situlah kita perlu mendatangkan pasokan migas dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri," ujar Arya dalam keterangan tertulis yang dirilis Sabtu (5/9).

Untuk menjawab tantangan tersebut, Pertamina menjalankan dua fokus sekaligus. Fokus pertama: mengoptimalkan bisnis energi yang sudah ada agar pasokan BBM dan gas tetap terjamin bagi masyarakat. Fokus kedua: mengembangkan bisnis rendah karbon yang mencakup panas bumi, energi surya, hingga bahan bakar penerbangan berkelanjutan (SAF). Arya menegaskan bahwa kedua jalur ini harus berjalan beriringan agar transisi energi tidak mengganggu kebutuhan energi hari ini.

Di sisi inovasi, Pertamina telah sukses mengubah minyak jelantah (used cooking oil) menjadi SAF. Minyak jelantah yang dikumpulkan diolah di Kilang Cilacap bersama bahan baku pendukung, menghasilkan bahan bakar rendah karbon untuk pesawat. Arya menekankan bahwa proses riset ini panjang dan ketat: "Minyak itu kita buat untuk bahan bakar pesawat udara. Namun jangan khawatir, ini aman karena risetnya sudah diinisiasi sejak 2015, diteliti secara ketat dan diuji coba dari 2021 hingga 2025." Produk tersebut kini sudah diaplikasikan pada penerbangan Pelita Air Service—anak usaha Pertamina—untuk rute Jakarta-Bali.

Dengan langkah ini, Pertamina menunjukkan bahwa transisi energi bukanlah zero-sum game, melainkan strategi adaptif yang menjaga ketersediaan energi saat ini sekaligus membangun kemandirian di masa depan. Arya menutup, "Untuk memenuhi kebutuhan kita, energi yang existing tetap dijalankan, sembari terus mengembangkan energi yang ramah lingkungan."

Analisis Pakar

Strategi ganda yang diusung Pertamina memang terdengar ideal, tetapi tantangan implementasinya sangat berat. Di satu sisi, perusahaan harus memastikan pasokan energi fosil tetap stabil—terutama di tengah harga minyak dunia yang fluktuatif dan tekanan geopolitik yang mempengaruhi rantai pasok. Di sisi lain, mengembangkan bisnis rendah karbon membutuhkan investasi masif, teknologi canggih, dan regulasi yang mendukung. Pertamina tidak bisa sekadar mengandalkan minyak jelantah; skala ekonomi dari SAF masih jauh dari kata kompetitif dibandingkan avtur konvensional, dan insentif pemerintah masih terbatas.

Lebih kritis lagi, ketergantungan impor energi yang diakui sendiri oleh manajemen bukanlah masalah baru. Ini adalah cermin dari kebijakan hilirisasi yang belum optimal dan eksplorasi migas yang terhambat sejak satu dekade terakhir. Pertamina memang tidak bisa disalahkan sepenuhnya—struktur harga BBM bersubsidi dan regulasi tumpang tindih sering menjadi kendala. Namun, ketika perusahaan BUMN sekelas Pertamina masih berbicara soal "produksi dalam negeri" sebagai solusi, kita perlu bertanya: apakah target peningkatan produksi itu realistis dengan kondisi sumur-sumur tua dan rendahnya tingkat keberhasilan eksplorasi?

Yang menarik, Pertamina memilih venue IdeaFest—yang notabene dihadiri oleh generasi milenial dan Gen Z—untuk mempromosikan strategi ini. Ini langkah cerdas dalam membangun citra hijau, namun perlu diingat bahwa generasi muda juga kian kritis terhadap greenwashing. Mereka tidak hanya mendengar janji, tetapi juga melihat data emisi, transparansi rantai pasok, dan kontribusi nyata terhadap target Net Zero Emission 2060. Pertamina harus konsisten mengomunikasikan kemajuan nyata, bukan sekadar angan-angan, dan melibatkan publik dalam monitoring dampak lingkungan dari proyek-proyek rendah karbonnya.

Terakhir, perlu dicatat bahwa SAF berbasis minyak jelantah adalah langkah positif, namun volumenya masih sangat kecil dibanding kebutuhan avtur nasional. Jika ingin benar-benar berdampak, Pertamina harus mengakselerasi kerja sama dengan produsen minyak jelantah skala industri dan mendorong regulasi mandatori pencampuran SAF. Tanpa kebijakan yang memaksa dan insentif fiskal, transisi energi akan berjalan lambat dan Indonesia bisa tertinggal dari negara tetangga seperti Singapura atau Malaysia yang sudah lebih agresif dalam ekosistem SAF. Pertamina perlu bertindak sebagai katalis, bukan sekadar pengikut tren.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa itu Dual Growth Strategy Pertamina?
    A: Strategi yang menggabungkan penguatan bisnis energi konvensional (migas dan BBM) dengan pengembangan bisnis rendah karbon (energi baru terbarukan dan teknologi ramah lingkungan) secara simultan.
  • Q: Apakah SAF dari minyak jelantah sudah aman digunakan di pesawat?
    A: Ya, aman. Risetnya dimulai sejak 2015, diuji ketat dari 2021-2025, dan telah digunakan pada penerbangan Pelita Air rute Jakarta-Bali.
  • Q: Mengapa Indonesia masih impor migas meski Pertamina terus berproduksi?
    A: Konsumsi energi nasional lebih tinggi dari produksi dalam negeri, sehingga impor diperlukan untuk menutupi defisit—ini sudah berlangsung lama dan menjadi tantangan ketahanan energi.
Meow! Tanya Nesi!
😸