Mirza Siap Genjot Ekonomi Lampung dengan Gen Z: Bonus Demografi atau Mimpi?

Ekonomi & Pasar
Hendra GunawanHendra Gunawan
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Mirza Siap Genjot Ekonomi Lampung dengan Gen Z: Bonus Demografi atau Mimpi?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menargetkan Gen Z dan Post Gen Z (45% populasi) sebagai tulang punggung ekonomi daerah.
  • Modal utama: populasi 9,5 juta jiwa (terpadat di Sumatra) dan melek digital, namun perlu peningkatan literasi keuangan dan keterampilan produktif.
  • Program ini akan difokuskan pada pengambilan keputusan keuangan yang tepat dan penciptaan usaha, dengan syarat generasi muda produktif.

Jakarta, CNBC Indonesia – Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan visi besarnya: menjadikan generasi Z dan pasca-gen Z sebagai kekuatan ekonomi utama provinsi tersebut. Dalam sambutannya di Lampung Financial Festival, Sabtu (5/9/2026), Mirza—sapaan akrabnya—mengungkapkan bahwa Lampung memiliki populasi 9,5 juta jiwa berdasarkan SUPAS 2025, menjadikannya provinsi terpadat di Sumatra. Dengan proporsi Gen Z mencapai 24,77% dan Post Gen Z 20,67%, Mirza melihat ini sebagai peluang bonus demografi yang tidak boleh disia-siakan.

"Mereka ini tidak bisa lepas dari digital," ujar politikus Gerindra itu, merujuk pada hampir universalnya kepemilikan smartphone di kalangan muda. Namun, ia menekankan bahwa perangkat semata tidak cukup. Kunci utamanya adalah produktivitas: memiliki keterampilan, mampu menciptakan usaha, dan yang terpenting, mampu mengambil keputusan keuangan yang tepat. Di sinilah peran literasi keuangan menjadi vital—Mirza menyebutnya sebagai "skill wajib" bagi generasi muda Lampung.

Festival keuangan itu sendiri menjadi ajang sosialisasi sekaligus pembuka jalan bagi program-program pelatihan dan inklusi keuangan yang akan digulirkan. Pemerintah provinsi tampaknya serius menggarap potensi ini, namun tantangan nyata ada di lapangan: bagaimana mengubah angka-angka demografi menjadi pertumbuhan ekonomi riil, bukan sekadar statistik.

Analisis Pakar

Visi Gubernur Mirza memang terdengar ambisius dan tepat sasaran secara demografis. Lampung, dengan posisinya sebagai pintu gerbang Sumatra dan tetangga Jakarta, seharusnya sudah lama memanfaatkan momentum urbanisasi dan digitalisasi. Namun, pernyataan tersebut perlu diuji dengan data dan realitas ekonomi. Populasi muda yang besar adalah pedang bermata dua—jika tidak dibekali dengan ekosistem yang mendukung, mereka justru akan menjadi beban ketimpangan dan pengangguran terdidik. Saya melihat tiga celah kritis yang harus segera diatasi.

Pertama, literasi keuangan tidak bisa berdiri sendiri tanpa akses modal dan pasar. Gen Z di Lampung mungkin paham cara mengelola uang, tetapi di mana mereka bisa memperoleh pinjaman usaha mikro dengan bunga wajar? Bagaimana dengan infrastruktur internet yang merata di kabupaten-kabupaten seperti Way Kanan atau Pesisir Barat? Tanpa itu, digitalisasi hanya akan menjadi wacana di perkotaan. Kedua, kurikulum pendidikan dan pelatihan vokasi di Lampung masih jauh dari kebutuhan industri 4.0. Banyak lulusan SMA dan SMK yang belum memiliki portofolio keterampilan digital yang mumpuni—seperti pemasaran online, analitik data, atau bahkan coding dasar. Pemerintah harus bergerak cepat menjalin kemitraan dengan startup edutech dan perusahaan teknologi.

Ketiga, dan ini yang paling sering terlupakan: budaya kewirausahaan. Menciptakan usaha bukanlah sekadar modal dan skill, tetapi juga mentalitas mengambil risiko dan beradaptasi dengan kegagalan. Gen Z di Lampung, seperti halnya di daerah lain, cenderung memilih pekerjaan formal yang stabil dibandingkan berwirausaha. Gubernur perlu mencontohkan keberhasilan pengusaha muda lokal dan menciptakan ekosistem mentorship yang nyata. Jangan sampai festival dan seminar menjadi seremonial belaka, tanpa tindak lanjut yang terukur.

Secara makro, potensi Lampung sebenarnya sangat besar: sektor pertanian, perikanan, dan logistik pelabuhan Bakauheni bisa menjadi pijakan. Namun, semua itu membutuhkan kolaborasi lintas sektor dan komitmen jangka panjang. Saya menilai target Mirza untuk menjadikan Gen Z sebagai kekuatan ekonomi memang logis, tetapi butuh peta jalan yang detail—dari tingkat desa hingga provinsi—serta indikator keberhasilan yang jelas, misalnya peningkatan kontribusi UMKM digital terhadap PDRB dalam 5 tahun ke depan. Tanpa itu, pernyataan ini hanya akan menjadi headline manis tanpa substansi.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Apa yang dimaksud dengan bonus demografi dan mengapa Lampung diuntungkan?
A: Bonus demografi adalah kondisi ketika proporsi penduduk usia produktif (15–64 tahun) lebih besar dari usia non-produktif. Lampung memiliki 45% penduduk dari Gen Z dan Post Gen Z, sehingga jika diberdayakan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi tinggi.

Q: Bagaimana cara meningkatkan literasi keuangan bagi Gen Z di daerah?
A: Melalui pendidikan formal (kurikulum sekolah), pelatihan praktis (workshop keuangan), aplikasi edukatif, serta akses ke layanan perbankan dan fintech yang aman. Pemerintah daerah juga bisa menggandeng OJK dan bank-bank BUMN untuk program inklusi keuangan.

Q: Apa tantangan terbesar Lampung dalam memanfaatkan potensi Gen Z?
A: Tantangan utamanya adalah kesenjangan infrastruktur digital antara perkotaan dan pedesaan, rendahnya tingkat pendidikan vokasi, serta kurangnya ekosistem startup dan modal usaha. Selain itu, perlu ada perubahan pola pikir dari mencari kerja menjadi menciptakan lapangan kerja.

Meow! Tanya Nesi!
😾