Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Gempa Magnitudo 4,5 Guncang Ruteng, NTT: Tidak Berpotensi Tsunami, Warga Diimbau Tetap Tenang

BencanaBudi SantosoBudi SantosoSumber: EarthquakeBot
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Gempa Magnitudo 4,5 Guncang Ruteng, NTT: Tidak Berpotensi Tsunami, Warga Diimbau Tetap Tenang
BAGIKAN:

Gempabumi tektonik berkekuatan magnitudo 4,5 mengguncang wilayah Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, pada Sabtu dini hari, 5 September 2026, pukul 02.17.48 WIB. Pusat gempa terletak di darat pada jarak 38 kilometer arah timur laut dari Kota Ruteng, dengan kedalaman hiposenter yang tergolong dangkal, yakni sekitar 10 kilometer. Getaran dilaporkan terasa cukup kuat di sejumlah kecamatan, terutama di sekitar Kota Ruteng dan Kabupaten Manggarai Timur, namun hingga berita ini diturunkan belum ada laporan kerusakan signifikan maupun korban jiwa.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui analisis cepat mengonfirmasi bahwa gempa ini tidak berpotensi tsunami mengingat magnitudo di bawah ambang batas 7,0 dan lokasi episenter yang berada di darat. Meski demikian, pihak BMKG mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan (aftershock) yang umumnya memiliki magnitudo lebih kecil. Kepala Stasiun Geofisika Kupang, dalam keterangan resminya, menyatakan bahwa parameter gempa masih bersifat sementara dan dapat direvisi seiring adanya data baru dari jaringan seismograf nasional.

Getaran dirasakan di Ruteng dengan skala intensitas III–IV MMI (Modified Mercalli Intensity), di mana guncangan dirasakan nyata oleh banyak orang dan benda-benda ringan bergoyang. Di beberapa daerah perbukitan, warga melaporkan suara gemuruh dari dalam tanah yang berlangsung beberapa detik. Pemerintah daerah setempat bersama BPBD telah melakukan kaji cepat di wilayah-wilayah rawan longsor, mengingat topografi NTT yang berbukit dan curah hujan tinggi akhir-akhir ini dapat memperparah dampak guncangan meskipun magnitudo tergolong sedang.

Analisis Pakar Geofisika

Wilayah Nusa Tenggara Timur, khususnya sekitar Ruteng, berada pada zona interaksi kompleks antara Lempeng Indo-Australia yang bergerak ke utara dan Lempeng Eurasia yang relatif diam. Gempa ini terjadi di bagian utara Pulau Flores, yang merupakan segmen dari Busur Banda. Struktur sesar aktif utama di daerah ini adalah Sesar Naik Flores (Flores Thrust) yang membentang dari Teluk Bone hingga Laut Flores, serta sistem sesar lokal yang berarah barat-timur dan utara-selatan akibat gaya kompresi tektonik. Berdasarkan mekanisme sumber sementara, gempa ini diduga disebabkan oleh pergerakan sesar mendatar (strike-slip) dengan komponen naik, yang konsisten dengan pola tegasan regional di ujung timur Sunda Arc.

Sejarah kegempaan mencatat bahwa wilayah Ruteng dan sekitarnya pernah diguncang gempa destruktif pada tahun 1992 dengan magnitudo 7,8 di Maumere, serta gempa berkekuatan 6,5 pada tahun 2013 di Larantuka. Meski gempa kali ini berkekuatan kecil, keberadaan sesar-sesar aktif yang belum terpetakan secara detail menjadikan kawasan ini tetap rawan. Kedalaman dangkal (10 km) memperkuat guncangan di permukaan, namun karena magnitudo terbatas, energi yang dilepaskan tidak cukup untuk memicu deformasi dasar laut yang dapat menimbulkan tsunami. Potensi gempa susulan diperkirakan rendah hingga sedang, dengan magnitudo maksimum sekitar 3,5–4,0, dan dapat berlangsung dalam beberapa hari ke depan. Masyarakat diimbau untuk tidak terpancing isu hoaks, selalu merujuk pada informasi resmi BMKG, dan memastikan bangunan tempat tinggal memiliki struktur tahan gempa mengingat ancaman gempa besar di masa depan tetap nyata akibat akumulasi tegangan di segmen sesar yang belum terlepas.

Meow! Tanya Nesi!
😸