5G XLSmart Makin Gila! Target 101 Kota, Spektrum Baru Bikin Jangkauan Melesat
Membahas teknologi dari kacamata pengembang dan inovasi perangkat lunak.

Ringkasan Singkat
- XLSmart menambah target kota 5G dari 88 menjadi 101 kota/kabupaten hingga akhir 2026, setelah mengaktifkan spektrum 2,6 GHz.
- Spektrum baru 2,6 GHz (50 MHz) dan 700 MHz (30 MHz) diimplementasikan secara bertahap; 2,6 GHz untuk kapasitas, 700 MHz untuk jangkauan.
- Capex 2026 naik dari Rp15 triliun menjadi Rp20 triliun untuk mendukung ekspansi, termasuk ribuan BTS dan perluasan ke Lombok serta Malang.
XLSmart benar-benar serius mengejar peta jalan 5G. Setelah memenangkan lelang frekuensi dan mengaktifkan spektrum 2,6 GHz pada awal Agustus lalu, operator ini langsung mempercepat ekspansi. Target awal 88 kota/kabupaten pada akhir 2026 kini melonjak menjadi 101 kota, dengan tambahan wilayah seperti Lombok dan Malang yang akan ‘turn on’ sebelum tahun ini berakhir.
Direktur dan CTO Shurish Subbramaniam mengungkapkan bahwa izin pengaktifan spektrum baru terbit pada 5 Agustus, dan dalam waktu tiga pekan seluruh site 5G sudah mengudara di pita 2,6 GHz. “Itu first to on,” tegasnya. Spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz memang memiliki peran berbeda—yang pertama untuk memperluas jangkauan dan penetrasi sinyal, sedangkan yang kedua memberikan kapasitas besar untuk area padat trafik.
Menurut Merza Fachys, Direktur & CRO XLSmart, perusahaan tidak ingin sekadar “ceplok” 5G di titik-titik tertentu. “Kita enggak sekadar ceplok-ceplok 5G hanya untuk sekadar menyatakan saya sudah 5G. Tapi betul-betul 5G dan 4G berada pada titik yang sama,” ujarnya. Hingga semester I-2026, layanan 5G sudah hadir di lebih dari 50 kota dengan dukungan sekitar 15 ribu BTS 5G yang mencakup 23% populasi. Target awal 88 kota diprediksi menjangkau lebih dari 50% populasi, dan dengan 101 kota, cakupan akan semakin masif.
Untuk mendukung ambisi ini, XLSmart menaikkan panduan capex 2026 dari Rp15 triliun menjadi Rp20 triliun. Investasi tersebut akan digunakan untuk mengoperasikan lebih dari 265 ribu BTS secara total, termasuk perluasan 5G dan optimalisasi spektrum baru. Yang menarik, pembangunan tidak hanya difokuskan di wilayah dengan trafik tinggi, tetapi juga daerah yang masih membutuhkan peningkatan konektivitas—langkah yang patut diapresiasi untuk mengurangi kesenjangan digital.
Analisis Pakar
Langkah XLSmart memperluas target 5G ke 101 kota patut disebut sebagai sinyal kuat bahwa persaingan di ranah 5G Indonesia mulai memanas. Dengan tambahan spektrum 2,6 GHz seluas 50 MHz dan 700 MHz 30 MHz, mereka kini memiliki amunisi yang lebih lengkap untuk menyeimbangkan kapasitas dan jangkauan. Namun, yang perlu dicermati adalah seberapa besar dampak nyata terhadap pengalaman pengguna. Spektrum 2,6 GHz memang unggul dalam kecepatan dan kapasitas, tetapi jangkauannya lebih pendek dibandingkan 700 MHz. Kombinasi keduanya ideal—asalkan implementasi di lapangan tidak sekadar mengejar angka kota, melainkan benar-benar menghadirkan koneksi stabil di dalam ruangan dan daerah suburban. Saya melihat ini sebagai ujian bagi tim engineering XLSmart dalam hal optimasi jaringan dan manajemen interferensi.
Dari sisi bisnis, kenaikan capex menjadi Rp20 triliun menunjukkan komitmen finansial yang kuat, namun juga pertaruhan besar. Mengingat penetrasi 5G di Indonesia masih di bawah 10% (berdasarkan data pengguna), ROI dari investasi sebesar ini membutuhkan strategi monetisasi yang matang—tidak hanya mengandalkan paket data premium, tetapi juga kemitraan dengan industri (IoT, smart city, manufacturing) yang bisa memanfaatkan latency rendah 5G. XLSmart perlu belajar dari pengalaman operator lain yang terlalu agresif di awal 5G tanpa ekosistem konten dan perangkat yang memadai.
Yang paling menarik adalah pernyataan Merza Fachys tentang pendekatan “5G di titik yang sama dengan 4G”. Ini adalah filosofi yang tepat—5G tidak boleh menjadi layanan eksklusif di sudut kota. Dengan menambah 13 kota baru, termasuk Lombok dan Malang, XLSmart menunjukkan perhatian pada wilayah pariwisata dan kota menengah yang potensial. Namun, tantangan infrastruktur backhaul dan lisensi site di daerah-daerah tersebut seringkali lebih kompleks. Saya berharap XLSmart tidak hanya mengandalkan spektrum baru, tetapi juga melakukan modernisasi transport network dan edge computing agar latensi tetap rendah. Secara keseluruhan, ekspansi ini adalah kabar baik bagi penggemar teknologi, tetapi eksekusi di lapangan akan menjadi penentu apakah XLSmart benar-benar bisa menjadi pemimpin 5G di Indonesia atau sekadar pemenang dalam hitungan kota.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Q: Apakah 5G XLSmart sudah tersedia di semua kota yang disebutkan?
A: Belum. Target 101 kota baru akan dicapai hingga akhir 2026. Saat ini (pertengahan 2026) sudah hadir di lebih dari 50 kota, dan sisanya akan diaktifkan secara bertahap, dengan Lombok dan Malang menyusul akhir tahun ini.
Q: Apa perbedaan spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz untuk 5G XLSmart?
A: Spektrum 700 MHz memiliki kemampuan jangkauan luas dan penetrasi sinyal yang baik—cocok untuk area pedesaan dan dalam gedung. Sedangkan 2,6 GHz memberikan kapasitas besar dengan kecepatan tinggi, ideal untuk perkotaan dengan kepadatan trafik tinggi. Kombinasi keduanya memungkinkan XLSmart mengoptimalkan cakupan dan kapasitas secara bersamaan.
Q: Apakah pengguna 4G XLSmart akan merasakan dampak dari tambahan spektrum ini?
A: Secara tidak langsung, ya. Dengan adanya spektrum baru, XLSmart dapat mengalokasikan ulang spektrum lama untuk 4G, sehingga kapasitas 4G juga meningkat. Selain itu, investasi capex yang naik juga digunakan untuk memperbaiki infrastruktur secara keseluruhan, termasuk pemeliharaan BTS 4G.
BERITA TERKAIT (Teknologi)
