Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

SUPER LEAGUE 2026/2027: PSSI & I.League BUKTIKAN BERANI BERUBAH! Aturan Kontroversial Pemain U-23 Dihapus, Apa Dampaknya?

OlahragaMaya SariMaya SariSumber: CNN Olahraga
Maya Sari
Maya Sari
Wartawan Olahraga

Ahli dalam liputan bulu tangkis dan berbagai event olahraga internasional.

SUPER LEAGUE 2026/2027: PSSI & I.League BUKTIKAN BERANI BERUBAH! Aturan Kontroversial Pemain U-23 Dihapus, Apa Dampaknya?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Aturan wajib pemain U-23 yang telah berjalan sejak 2017 akhirnya dihapus di Super League 2026/2027!
  • Keputusan ini diambil karena banyak pelatih menilai regulasi tersebut tidak lagi relevan untuk kompetisi profesional elite.
  • I.League tetap mendorong penggunaan pemain muda dengan insentif bagi klub yang memberikan menit bermain lebih banyak kepada mereka!

Setelah delapan musim berjalan, aturan kontroversial pemain U-23 wajib main di Super League akhirnya dihapuskan! Keputusan berani ini diumumkan oleh I.League bekerja sama dengan PSSI, menandai babak baru dalam sejarah kompetisi sepak bola tertinggi Indonesia.

Regulasi yang diberlakukan sejak 2017—saat Indonesia baru saja bebas dari sanksi FIFA—ini awalnya dibuat untuk memastikan pemain muda menjadi tulang punggung tim. Namun, setelah delapan edisi, banyak pelatih yang menilai aturan tersebut justru melenakan pemain muda dan tidak lagi sesuai dengan semangat kompetisi profesional.

Mengapa aturan ini dihapus? Direktur Kompetisi I.League, Asep Saputra, mengungkapkan bahwa resistensi terbesar datang dari para pelatih. "Resistensi utama dari pelatih, karena ini top league profesional, kok bisa diatur starting eleven-nya", ujarnya. Menurutnya, di level profesional, pemain harus bersaing secara ketat tanpa paksaan usia. "Bukan eranya lagi memaksakan pemain U-23 menjadi starter dalam pertandingan elite", tegasnya.

Namun, I.League tidak serta-merta meninggalkan pemain muda! Mereka justru memberikan insentif bagi klub-klub yang secara aktif memberikan menit bermain kepada pemain muda. "Poin teknis yang tadinya dipaksa, sekarang kami relaksasi, tapi tujuan kami tidak turun untuk memberi ruang kepada pemain muda", kata Asep. "Makanya ada stimulan insentif bagi klub".

Salah satu klub yang mendukung keputusan ini adalah Persik Kediri. COO Persik, Arthur Irawan, menjelaskan bahwa penghapusan aturan ini justru akan membuat pemain muda lebih lapar akan kompetisi. "Kalau dipaksa main karena usia, mungkin pemain bakal lebih tenang, enggak selapar kalau mereka harus memenangkan posisi ini", ungkapnya. Menurutnya, tanpa paksaan, pemain muda akan terdorong untuk membuktikan diri secara alamiah.

Lantas, apakah keputusan ini akan berdampak positif bagi sepak bola Indonesia? Hanya waktu yang akan menjawab. Jika para pelatih benar-benar memberikan kesempatan kepada pemain muda tanpa paksaan, kompetisi ini bisa menjadi wadah yang lebih sehat untuk regenerasi. Namun, jika justru pemain muda semakin terpinggirkan, maka pertanyaan besar akan muncul: Apakah PSSI dan I.League benar-benar serius dalam membangun masa depan sepak bola nasional?

Satu hal yang pasti: Super League 2026/2027 akan menjadi ajang uji coba yang menarik. Kita tunggu saja bagaimana para pelatih menerjemahkan kebijakan baru ini di lapangan. Apakah pemain muda akan diberi kesempatan, atau justru semakin terabaikan? Semua mata kini tertuju pada kompetisi ini!

Analisis Pakar

Keputusan penghapusan aturan pemain U-23 wajib main di Super League bukan sekadar perubahan regulasi biasa—ini adalah pergeseran paradigma besar dalam pengelolaan sepak bola Indonesia. Selama delapan tahun, aturan tersebut menjadi simbol upaya PSSI untuk membangun regenerasi pemain muda. Namun, realitasnya, regulasi tersebut justru menciptakan efek kontraproduktif. Banyak pelatih yang merasa dipaksa untuk memainkan pemain muda tanpa mempertimbangkan kualitas dan performa mereka di lapangan. Akibatnya, pemain muda tersebut malah tidak mendapatkan pengalaman yang berharga, melainkan hanya menjadi

Meow! Tanya Nesi!
😸