Sherina Bikin Mahasiswa Kalimantan Makin Semangat! Ajak Serbu Api Karhutla dengan Semangat Juara

Selebriti
Rio DewantoRio Dewanto
Rio Dewanto
Rio Dewanto
Kritikus Film

Menyajikan ulasan tajam seputar film lokal, internasional, dan dunia perfilman.

Sherina Bikin Mahasiswa Kalimantan Makin Semangat! Ajak Serbu Api Karhutla dengan Semangat Juara
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Sherina Munaf mengunjungi Universitas Palangka Raya dan ikut serta memadamkan kebakaran hutan gambut di belakang kampus.
  • Ia mengajak mahasiswa lain turun tangan, karena api sulit dipadamkan dan mengancam ekosistem serta satwa langka seperti burung bangau tongtong dan elang kelelawar.
  • BPBD Kalteng mencatat 2.864 titik hotspot dan 195,91 hektar lahan terbakar, dengan 10.700 personel serta helikopter dikerahkan.

Penyanyi sekaligus aktivis lingkungan, Sherina Munaf, kembali menunjukkan kepeduliannya yang nggak main-main. Kali ini, perempuan yang akrab disapa Sherina itu menyempatkan diri datang ke Universitas Palangka Raya di Kalimantan Tengah untuk langsung bergabung dalam pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Bukan cuma sekadar tinjauan, Sherina bahkan ikut turun ke area hutan gambut yang panas membara!

Di hari ketiganya bersama Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), Sherina bertemu rektor dan puluhan mahasiswa yang sudah berhari-hari berjibaku memadamkan api. Lokasinya hanya 200 meter dari gedung Fakultas MIPA—bayangkan, kebakaran sampai sedekat itu! Dalam video yang diunggah Kamis (3/9), ia bersemangat mengajak, “Para mahasiswa lain ayo ikutan bergabung memadamkan hutan. Supaya kita bisa melindungi, melestarikan kekayaan alam negeri kita.” Ia juga menyebut para relawan di sana luar biasa, bahkan sampai malam masih bertahan.

Sherina mengungkapkan bahwa hutan belakang kampus bukan sekadar area hijau biasa. Bagi dosen dan mahasiswa, tempat ini adalah laboratorium alam tempat praktikum, rumah bagi 63 spesies burung pada 2020. Namun kini, akibat kebakaran, burung-burung itu menghilang. “Ada spesies seperti bangau tongtong dan elang kelelawar, terakhir terlihat 2022. Ini indikasi ekosistem sehat, dan sangat disayangkan jika lenyap,” ujarnya. Ia pun merasa medan kali ini lebih sulit dibandingkan saat rewetting di kawasan Hiu Putih dan Taman Wisata Alam Galeget Tiawu. “Jujur ini terrain yang lebih challenging, banyak batang kayu di atas gambut yang sangat panas. Setiap melangkah, harus didinginkan dulu karena baranya masih aktif.”

Upaya pemadaman pun menguras tenaga dan mental. Sherina merasakan sendiri betapa gambut mudah terbakar—padam di satu titik, api muncul lagi di sisi lain. Ia berharap pengalaman ini bisa membangun kesadaran publik. “Bantuan kalian matters untuk kita semua. Mari pulihkan hutan milik kita bersama-sama,” pungkasnya. Sementara itu, BPBD Provinsi Kalimantan Tengah mencatat per 3 September 2026 ada 2.864 titik hotspot, 70 kejadian karhutla, dan luas lahan terbakar 195,91 hektar. Angka ini turun dari hari sebelumnya, namun masih tinggi, dengan dukungan 10.700 personel, 6 helikopter, dan 1 pesawat patroli.

Analisis Pakar

Nadia Putri di sini, dan saya harus bilang: aksi Sherina ini bukan cuma sekadar seremonial. Di tengah gempuran konten hiburan instagramable, kehadiran seorang publik figur yang benar-benar turun tangan di lokasi bencana itu patut diacungi jempol. Saya melihat ini sebagai bentuk edutainment yang langka—di mana Sherina tidak hanya bicara, tapi juga membuktikan bahwa memadamkan api gambut itu jauh lebih berat dari yang dibayangkan. Kata-katanya tentang “nyala lagi di kiri saat kita padamkan kanan” adalah gambaran nyata betapa ekosistem gambut itu rapuh dan berbahaya. Ini penting, karena selama ini isu karhutla sering dianggap masalah “jauh” dan “tidak menyentuh” kehidupan urban. Dengan gaya komunikasi Sherina yang lugas dan penuh semangat, ia berhasil menjembatani jarak itu.

Yang membuat saya kagum, Sherina tidak sekadar mengandalkan status selebriti. Ia menyebut data spesies burung, mengingatkan bahwa hilangnya satwa adalah alarm ekologi. Ini menunjukkan ia riset sebelumnya. Saya juga apresiasi bagaimana ia memuji mahasiswa dan dosen Palangka Raya yang memiliki “kelekatan khusus” dengan hutan. Di era sekarang, keterlibatan generasi muda dalam isu lingkungan adalah kunci. Ajakan “all hands on deck” yang dilontarkannya bukanlah kalimat kosong—itu adalah seruan taktis bahwa tanpa bantuan semua pihak, api gambut bisa berkobar lagi kapan saja. Namun, saya juga ingin mengkritik bahwa perhatian publik terhadap karhutla sering kali musiman. Begitu musim hujan tiba, isu ini menghilang dari pemberitaan. Sherina, dengan popularitasnya, punya tanggung jawab menjaga konsistensi suara ini, bukan hanya saat kebakaran memuncak.

Dari sisi pemberitaan, data BPBD yang menunjukkan penurunan hotspot patut disyukuri, tapi fakta 195 hektar lahan terbakar tetaplah angka mengerikan. Saya mendorong agar media dan figur publik seperti Sherina lebih banyak menyoroti solusi jangka panjang, misalnya pembasahan gambut (rewetting) dan pemberdayaan masyarakat lokal. Jangan sampai energi terfokus hanya pada pemadaman, padahal pencegahan jauh lebih efektif. Saya juga penasaran, mengapa belum ada tindakan tegas dari korporasi yang membuka lahan dengan cara bakar? Nah, di sinilah peran kita semua—termasuk pembaca—untuk menuntut akuntabilitas. Semoga aksi Sherina menjadi pemicu gerakan kolektif yang lebih besar, bukan sekadar momen viral yang usai dalam sepekan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa yang menyebabkan kebakaran hutan di Kalimantan Tengah tahun 2026?
    A: Kebakaran umumnya dipicu oleh musim kemarau panjang, praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar, dan kondisi gambut yang mudah terbakar. Titik api juga muncul akibat kelalaian manusia.
  • Q: Bagaimana cara masyarakat umum bisa membantu pemadaman karhutla?
    A: Masyarakat bisa berkontribusi dengan tidak membakar lahan, melaporkan titik api ke pihak berwenang, bergabung dalam relawan pemadaman, serta mendukung organisasi seperti BOSF melalui donasi atau edukasi.
  • Q: Apakah Sherina Munaf pernah terlibat dalam aksi lingkungan sebelumnya?
    A: Ya, Sherina aktif bersama BOSF dan pernah terlibat dalam kegiatan rewetting (pembasahan kembali) di kawasan Hiu Putih dan Taman Wisata Alam Galeget Tiawu, serta berbagai kampanye pelestarian alam.
Meow! Tanya Nesi!
😸