⚠️INFO GEMPA BUMI: Magnitudo 5.2 di 28 km S of Cilacap, Indonesia pada 4/9/2026, 12.04.54. Baca peringatan dan analisis selengkapnya.

Lautan Api di Sumsel: Karhutla Makin Meluas, Ancaman Kabut Asap dan Krisis Lingkungan

Berita Daerah
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Lautan Api di Sumsel: Karhutla Makin Meluas, Ancaman Kabut Asap dan Krisis Lingkungan
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan masih terus terjadi, dengan luas area yang terbakar semakin bertambah.
  • Upaya pemadaman terpadu dilakukan, namun kendala di lapangan seperti akses sulit dan cuaca ekstrem menghambat penanganan.
  • Dampak asap mulai dirasakan masyarakat sekitar dan mengancam kesehatan, sekaligus memperparah krisis iklim nasional.

Sumatera Selatan kembali dilanda bencana tahunan yang tak kunjung usai. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas di sejumlah titik, terutama di wilayah Simpang Pelabuhan Dalam dan sekitarnya. Berdasarkan pantauan lapangan, lautan api menyelimuti puluhan hektar lahan gambut dan semak belukar, menyisakan kepulan asap tebal yang mulai mengganggu aktivitas warga.

Tim gabungan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, dan Masyarakat Peduli Api terus berjibaku memadamkan api. Namun, kondisi medan yang sulit dan hembusan angin kencang membuat api kerap muncul kembali di titik-titik yang sebelumnya sudah dipadamkan. Hingga berita ini diturunkan, belum ada data pasti mengenai total luas lahan yang terbakar, namun diperkirakan angka tersebut akan terus bertambah seiring musim kemarau yang masih berlangsung.

Kepala BPBD Sumsel, melalui siaran pers, menyatakan bahwa pihaknya telah mengerahkan helikopter water bombing dan melakukan pembuatan sekat kanal untuk membatasi penyebaran api. Namun, upaya ini dinilai belum maksimal karena kurangnya infrastruktur dan peralatan modern, serta masih adanya praktik pembukaan lahan dengan cara dibakar yang dilakukan oleh oknum perusahaan maupun petani.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan pun telah menegaskan sanksi tegas bagi pelaku pembakaran, tetapi penegakan hukum di lapangan kerap terkendala bukti dan koordinasi antarinstansi. Situasi ini menjadi ironi di tengah komitmen Indonesia untuk menurunkan emisi gas rumah kaca.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis yang telah mengikuti dinamika karhutla selama lebih dari dua dekade, saya melihat bahwa bencana ini bukan sekadar masalah musim kemarau, melainkan cerminan kegagalan tata kelola sumber daya alam yang sistemik. Setiap tahun, kita menyaksikan siklus yang sama: kebakaran terjadi, upaya pemadaman digerakkan, janji penindakan dilontarkan, tetapi ketika api padam, semua kembali terlupakan. Tidak ada terobosan berarti dalam pencegahan, sementara lahan gambut yang terbakar melepas karbon dalam jumlah raksasa dan mempercepat perubahan iklim.

Yang lebih memprihatinkan adalah lemahnya koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah. Anggaran untuk pencegahan seringkali tidak tepat sasaran, dan peta kerawanan kebakaran yang sudah dibuat tidak diikuti dengan tindakan nyata. Selain itu, ketergantungan pada metode pembakaran dalam pengelolaan lahan masih menjadi budaya yang sulit diubah, karena kurangnya sosialisasi dan alternatif ekonomi bagi petani. Sanksi pidana yang ada terkesan 'tikus mati'—hanya mengenai pelaku kecil, sementara korporasi besar kerap lolos dari jerat hukum.

Kita juga tidak bisa mengabaikan dampak sosial dan kesehatan. Kabut asap yang dihasilkan mengandung partikel PM2.5 yang sangat berbahaya, memicu infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan menurunkan kualitas hidup masyarakat di Sumatera Selatan dan sekitarnya. Anak-anak, lansia, dan ibu hamil menjadi kelompok paling rentan. Ini adalah darurat kemanusiaan yang seharusnya mendapatkan prioritas lebih tinggi daripada sekadar angka luas lahan terbakar.

Sudah saatnya pemerintah mengevaluasi ulang kebijakan tata ruang, memperkuat pengawasan terhadap konsesi lahan, dan menginvestasikan teknologi deteksi dini seperti satelit dan drone. Masyarakat juga harus diberdayakan dengan insentif ekonomi yang jelas agar beralih dari praktik bakar lahan. Tanpa perubahan paradigma yang radikal, api akan terus menjadi 'hama tahunan' yang menghancurkan ekosistem, ekonomi, dan kesehatan bangsa.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa penyebab utama kebakaran hutan dan lahan di Sumsel?
    A: Penyebab utamanya adalah kombinasi faktor alam (kemarau panjang) dan faktor manusia, yaitu pembukaan lahan dengan cara dibakar, baik secara ilegal oleh perorangan maupun perusahaan, serta kelalaian dalam pengelolaan lahan gambut.
  • Q: Bagaimana dampak karhutla bagi kesehatan masyarakat?
    A: Asap yang dihasilkan mengandung partikel berbahaya yang dapat menyebabkan ISPA, iritasi mata dan kulit, serta memperburuk penyakit kronis seperti asma dan jantung. Dampak jangka panjang juga meningkatkan risiko kanker paru-paru.
  • Q: Apa yang bisa dilakukan masyarakat untuk membantu mencegah karhutla?
    A: Masyarakat dapat melaporkan titik api ke pihak berwajib, tidak melakukan pembakaran lahan, serta mendukung program restorasi gambut. Selain itu, mengikuti informasi resmi dan edukasi tentang bahaya karhutla sangat penting untuk meningkatkan kesadaran kolektif.
Meow! Tanya Nesi!
😸