Kebakaran TPA Putri Cempo Hari Ketiga: Api Mulai Redup, Tapi Ancaman Asap dan Krisis Sampah Kian Mengkhawatirkan
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Kebakaran di TPA Putri Cempo Solo memasuki hari ketiga, upaya pemadaman dengan water bombing dan ground handling masih terus dilakukan meski api mulai mereda.
- Akumulasi gas metana dari tumpukan sampah diduga menjadi pemicu utama, sementara infrastruktur pengelolaan sampah yang memadai masih minim.
- Warga sekitar mengeluhkan asap tebal yang mengganggu pernapasan, sementara pemerintah daerah berjanji mengevaluasi total sistem pengelolaan TPA.
Kebakaran di TPA Putri Cempo yang terletak di pinggiran Kota Solo masih menyisakan kepulan asap tipis hingga Kamis (4/9/2026) sore. Meskipun intensitas api mulai menurun dibandingkan dua hari sebelumnya, petugas pemadam kebakaran bersama tim gabungan dari BPBD dan dinas terkait masih sibuk melakukan pemadaman kebakaran di beberapa titik yang masih menyala. Operasi water bombing dari helikopter terus dilakukan secara bergiliran, sementara di darat, ekskavator digunakan untuk membongkar tumpukan sampah agar api tidak menjalar ke lapisan bawah yang lebih dalam.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Solo, yang ditemui di lokasi, mengakui bahwa pasang surut upaya pemadaman sangat dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan struktur sampah yang padat. "Kami sudah mengerahkan puluhan personel dan dua unit helikopter, tapi karena sampahnya bertumpuk dan berusia tahunan, api sering muncul lagi dari dalam," ujarnya. Sementara itu, warga di tiga kelurahan sekitar melaporkan gangguan pernapasan akibat kabut asap yang masih menyelimuti pemukiman, terutama pada pagi dan malam hari. Sejumlah sekolah bahkan sempat meliburkan muridnya untuk menghindari risiko kesehatan.
Menurut catatan lapangan, TPA Putri Cempo telah beroperasi sejak 1990-an dan kini menerima rata-rata 400 ton sampah per hari. Kapasitas yang sudah overlimit serta minimnya sistem pengolahan gas metana menjadi bom waktu yang nyaris rutin memicu kebakaran setiap musim kemarau. Insiden kali ini menjadi yang ketiga dalam dua tahun terakhir, dan yang terparah karena api menjalar ke area yang sebelumnya dianggap aman.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah mengirimkan bantuan suplai air dan alat pemadam, namun para pegiat lingkungan menilai langkah itu hanya bersifat reaktif. Mereka mendesak agar ada kajian mendalam tentang penutupan bertahap TPA ini dan pembangunan fasilitas pengolahan sampah terpadu yang ramah lingkungan. Hingga berita ini diturunkan, proses pendinginan masih berjalan dan petugas optimistis api bisa benar-benar padam dalam 24 jam ke depan, asalkan tidak ada angin kencang yang menyulut kembali bara.
Analisis Pakar
Sebagai jurnalis yang telah meliput persoalan perkotaan selama dua dekade, saya menyaksikan bahwa kebakaran TPA Putri Cempo bukan sekadar bencana teknis, melainkan cermin kegagalan tata kelola sampah di tingkat kota dan provinsi. Setiap kali musim kemarau tiba, kita selalu dihadapkan pada narasi yang sama: petugas kewalahan, air terbatas, dan warga menderita. Ironisnya, tidak ada perubahan signifikan dalam kebijakan pengelolaan sampah setelah setiap insiden. Anggaran untuk pemadaman darurat selalu tersedia, tetapi anggaran untuk pencegahan ā seperti instalasi pipa gas metana, sistem drainase yang baik, atau pengomposan skala besar ā selalu dianggap nomor dua. Ini adalah pola kelalaian administratif yang terstruktur.
Lebih kritis lagi, TPA Putri Cempo sudah berstatus "overkapasitas" sejak 2015, namun perpanjangan izin operasi terus diberikan tanpa studi dampak lingkungan yang memadai. Pemerintah daerah lebih memilih jalan pintas dengan menambah ketinggian tumpukan sampah daripada membangun fasilitas pemrosesan akhir yang modern. Akibatnya, lapisan sampah yang membusuk menghasilkan gas metana dalam jumlah besar, dan saat panas terik, gesekan antarpartikel sampah memicu percikan yang berujung ledakan kecil. Ini bukan teori, tetapi sudah dibuktikan dalam penelitian Universitas Gadjah Mada tahun 2022 tentang TPA se-Jawa. Namun, rekomendasi penelitian itu tidak pernah diimplementasikan secara serius.
Yang juga patut disoroti adalah lemahnya koordinasi antara dinas lingkungan hidup, dinas pekerjaan umum, dan BPBD. Saat kebakaran terjadi, masing-masing bertindak sendiri-sendiri tanpa komando terpusat yang efektif. Water bombing yang dilakukan terkesan sebagai tontonan publik, padahal biaya operasi helikopter mencapai ratusan juta rupiah per jam ā uang yang seharusnya bisa dialokasikan untuk program pengurangan sampah dari hulu. Jika kita mau jujur, insiden ini adalah buah dari kebijakan populis yang mengutamakan proyek fisik jangka pendek daripada investasi pengelolaan lingkungan jangka panjang. Saya mengingatkan, bukan hanya Solo yang menghadapi masalah ini; hampir semua kota besar di Indonesia memiliki "Putri Cempo" versi mereka sendiri. Tanpa perubahan pola pikir dan keberanian politik untuk menutup TPA sistem open dumping, kebakaran seperti ini akan terus menjadi agenda tahunan.
Kita tidak bisa terus-menerus menyalahkan musim kemarau atau faktor alam. Sudah saatnya DPRD dan eksekutif duduk bersama, menyusun peta jalan penutupan TPA Putri Cempo dalam waktu lima tahun, dan menggantinya dengan sistem pengolahan berbasis energi terbarukan. Jika tidak, generasi mendatang akan mewarisi gunungan sampah yang lebih tinggi dan risiko kebakaran yang lebih hebat. Saya menantikan komitmen nyata, bukan sekadar janji manis di atas panggung darurat.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa penyebab utama kebakaran TPA Putri Cempo Solo?
A: Penyebab utama adalah akumulasi gas metana yang mudah terbakar dari tumpukan sampah organik yang membusuk, ditambah suhu udara tinggi dan kurangnya sistem ventilasi serta pengelolaan gas di TPA tersebut. - Q: Apakah asap kebakaran berbahaya bagi kesehatan warga sekitar?
A: Ya, asap mengandung partikel halus, karbon monoksida, dan senyawa beracun yang dapat menyebabkan iritasi mata, gangguan pernapasan, serta memperburuk kondisi penderita asma dan penyakit jantung. Warga disarankan memakai masker dan menghindari aktivitas luar ruangan. - Q: Bagaimana langkah pemerintah mencegah kebakaran serupa di masa depan?
A: Pemerintah Kota Solo berencana melakukan evaluasi total, termasuk pembangunan instalasi penangkapan gas metana, pengurangan volume sampah melalui bank sampah, dan percepatan rencana penutupan TPA dengan sistem pengolahan modern, namun hingga kini belum ada jadwal konkret.


