Israel Klaim Rezim Iran di Ambang Keruntuhan: Netanyahu Yakin 'Waktunya Sudah Dekat'
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan rezim Iran saat ini lebih lemah dari sebelumnya dan berada di ambang kehancuran.
- Netanyahu meyakini penggulingan rezim dapat terjadi dalam waktu dekat, meskipun AS dinilai 'kehilangan arah' akibat negosiasi yang mandek dengan Teheran.
- Ketegangan meningkat setelah AS kembali menerapkan tekanan dan serangan, memicu serangan balasan Iran ke sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk dan Kurdistan Irak.
Tel Aviv, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan keyakinannya bahwa rezim ayatollah Iran yang kini dipimpin Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei akan segera tumbang. Dalam acara bersama para petinggi militer Israel pada Kamis (3/9), Netanyahu menilai Iran berada dalam kondisi terlemah sepanjang sejarah, terutama setelah serangan terbaru yang dilancarkan oleh Amerika Serikat beberapa hari terakhir.
"Rezim ini saat ini berada di ambang kehancuran. Mereka lebih lemah dari sebelumnya. Mereka sedang berjuang untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya," ujar Netanyahu. Ia menambahkan, "Saya yakin kita dapat menyingkirkan ancaman ini untuk selamanya, yakni dengan menggulingkan rezim tersebut. Itulah tugas utama yang masih harus kita selesaikan, tetapi waktunya sudah dekat. Itu bukan sesuatu yang mustahil. Kita sudah berada dalam jangkauan untuk mewujudkannya."
Menurut Netanyahu, misi Israel terhadap Iran belum selesai meskipun AS saat ini seperti "kehilangan arah" karena upaya negosiasinya dengan Teheran tak kunjung membuahkan hasil. Iran dilaporkan ogah bernegosiasi hingga Washington kembali kehilangan kesabaran. Netanyahu menegaskan bahwa Iran tidak menyerang Israel bukan karena kebetulan, melainkan karena mereka mengetahui kekuatan persenjataan dan tekad Israel.
Setelah puluhan tahun menggambarkan pemerintahan Iran sebagai ancaman eksistensial, Netanyahu kini bergabung dengan AS dalam serangan bersama terhadap Iran. Namun, setelah perang yang berlarut-larut dan melenceng dari rencana awal, Presiden Donald Trump berupaya menggeret Iran ke meja perundingan. Gencatan senjata sempat tercapai pada April lalu, tetapi perundingan mandek. Sementara itu, Israel menunjukkan keengganan menghentikan peperangan dan bahkan bertekad melancarkan serangan sepihak tanpa lampu hijau Washington.
Belakangan, AS kembali menerapkan tekanan kepada Iran, mulai dari ancaman sanksi baru hingga serangan teranyar, karena Trump disebut telah kehabisan kesabaran. Iran pun merespons dengan melancarkan serangan balasan ke sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk, seperti Kuwait, Qatar, Yordania, serta wilayah Kurdistan yang otonom di Irak.
Analisis Pakar
Pernyataan Netanyahu mengenai ambang keruntuhan rezim Iran patut dicermati dengan skeptisisme ilmiah. Meskipun secara retorika ia memproyeksikan keyakinan tinggi, realitas di lapangan menunjukkan bahwa Iran memiliki ketahanan struktural yang tidak bisa diremehkan. Rezim teokratis di Teheran telah bertahan selama lebih dari empat dasawarsa di tengah sanksi, isolasi, dan tekanan militer, sebagian karena kemampuannya memobilisasi dukungan domestik melalui narasi anti-imperialisme dan ketahanan ekonomi bawah tanah. Klaim bahwa Iran "lebih lemah dari sebelumnya" lebih mencerminkan harapan strategis Israel daripada analisis objektif, mengingat Iran masih memiliki jaringan proksi yang luas di Lebanon, Suriah, Yaman, dan Irak, serta program rudal dan drone yang terus berkembang.
Faktor kunci yang sering diabaikan adalah pergantian kepemimpinan di Iran. Meskipun Mojtaba Khamenei disebut sebagai calon penerus ayahnya, proses suksesi di Iran sangat rumit dan melibatkan Dewan Ahli, Korps Garda Revolusi, dan faksi-faksi konservatif. Ketidakpastian internal justru bisa membuat rezim lebih agresif untuk menunjukkan kekuatan, bukan lebih rapuh. Serangan balasan Iran ke sekutu AS di kawasan Teluk merupakan sinyal bahwa Teheran masih mampu memproyeksikan kekuatan dan membalas setiap eskalasi, yang justru dapat memicu siklus konflik lebih luas.
Dari sisi geopolitik, pernyataan Netanyahu tampaknya juga bertujuan mempengaruhi posisi AS. Dengan menyebut Washington "kehilangan arah", Israel ingin mendorong sikap yang lebih keras terhadap Iran, meskipun AS sendiri tampak lebih memilih pendekatan kombinasi tekanan dan diplomasi. Ketidakselarasan antara Tel Aviv dan Washington ini menciptakan dinamika yang berbahaya: Israel bisa melancarkan aksi sepihak yang memaksa AS terlibat, tanpa menghiraukan risiko konflik regional berskala besar. Sementara itu, negara-negara Teluk seperti Arab Saudi dan UEA, yang secara diam-diam meningkatkan kerja sama dengan Israel, berada dalam posisi terjepit karena mereka juga menjadi sasaran potensial serangan Iran.
Kesimpulannya, klaim tentang keruntuhan rezim Iran perlu dilihat sebagai bagian dari perang narasi, bukan prediksi yang berbasis bukti kuat. Israel mungkin memang memiliki kapabilitas militer untuk merusak infrastruktur nuklir atau militer Iran, tetapi menggulingkan rezim membutuhkan perubahan internal yang tidak bisa dipaksakan dari luar. Tanpa dukungan luas dari rakyat Iran—yang justru banyak menunjukkan ketidakpuasan terhadap rezim tetapi juga anti-intervensi asing—skenario "tumbang" masih jauh dari kenyataan. Yang lebih mungkin adalah eskalasi bertahap yang akan memperburuk ketidakstabilan kawasan, tanpa ada pihak yang benar-benar menang.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apakah benar rezim Iran akan segera tumbang seperti klaim Netanyahu?
A: Klaim tersebut belum terbukti dan banyak analis meragukannya. Iran memiliki ketahanan politik, militer, dan ekonomi yang masih kuat, serta dukungan dari basis konservatif dan jaringan proksi di kawasan. - Q: Apa peran AS dalam konflik Israel-Iran saat ini?
A: AS berada dalam posisi ambigu: di satu sisi memberikan tekanan melalui sanksi dan serangan terbatas, tetapi di sisi lain berupaya menarik Iran ke meja perundingan. Ketidakselarasan dengan Israel menambah kompleksitas dinamika konflik. - Q: Siapa Mojtaba Khamenei dan mengapa ia disebut sebagai pemimpin tertinggi Iran?
A: Mojtaba Khamenei adalah putra Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Meskipun belum resmi ditunjuk sebagai penerus, ia dianggap sebagai kandidat kuat oleh faksi konservatif, namun proses suksesi masih bergantung pada Dewan Ahli dan konsensus internal rezim.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Senjata 'Pasukan Lula': Strategi Gerilya Media Sosial yang Membalikkan Arah Pilpres Brasil

Gebrakan Global: 33 Negara Perintahkan Warga Stok Bahan Darurat Hadapi Ancaman Siber dan Cuaca

Guncangan Ganda India: Siklon Murasu Ancam Pemulihan Pasca-Arnab, 30.000 Warga Dievakuasi
