Rabu, 4 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Royalti Rp600 Juta Mandek! Ecko Show cs Serbu Kementerian HAM, Menteri Pigai Siap Turun Tangan?

SelebritiRio DewantaraRio DewantaraSumber: KapanLagi
Rio Dewantara
Rio Dewantara
Kritikus Film

Menyajikan ulasan tajam seputar film lokal, internasional, dan dunia perfilman.

Royalti Rp600 Juta Mandek! Ecko Show cs Serbu Kementerian HAM, Menteri Pigai Siap Turun Tangan?
BAGIKAN:
INTISARI BERITA (POIN PENTING)
  • Ringkasan Singkat Musisi Ecko Show, Silet Open Up, dan Faris Adam melaporkan dugaan penahanan royalti oleh label Ide Timur.
  • Total royalti yang belum dibayarkan untuk periode Mei-Juni 2026 mencapai sekitar Rp600 juta.
  • Menteri HAM Natalius Pigai langsung menerima pengaduan dan akan menurunkan 90 mediator untuk memediasi sengketa.

Ringkasan Singkat

  • Musisi Ecko Show, Silet Open Up, dan Faris Adam melaporkan dugaan penahanan royalti oleh label Ide Timur.
  • Total royalti yang belum dibayarkan untuk periode Mei-Juni 2026 mencapai sekitar Rp600 juta.
  • Menteri HAM Natalius Pigai langsung menerima pengaduan dan akan menurunkan 90 mediator untuk memediasi sengketa.

Ada angin segar buat para musisi tanah air yang selama ini guling-guling mikirin royalti. Ecko Show bersama Silet Open Up dan Faris Adam kompak mendatangi kantor Kementerian Hak Asasi Manusia (HAM) pada Selasa (1/9/2026). Mereka ngadu soal hak cipta dan royalti yang katanya belum juga cair dari label Ide Timur.

Bayangkan, Ecko Show yang dulu menjabat sebagai Direktur di Ide Timur, sekarang justru ikut merasakan pahitnya jadi artis yang 'digantung' hasil karyanya. Ia bilang, pendapatan digital alias revenue lagu untuk bulan Mei dan Juni 2026 sampai sekarang masih tertahan. Total kerugian yang diadukan? Sekitar Rp600 juta! Wah, bukan main-main, ini bisa buat beli rumah mewah atau modal bikin album baru, lho.

Nggak cuma soal uang, para musisi ini juga nagih transparansi. Mereka pengen banget tahu rincian pendapatan dan rumus bagi hasil yang dipakai Ide Timur. Selama ini, kayaknya hitungannya masih misteri, dan para kreator jadi bingung sendiri. Nah, Menteri HAM Natalius Pigai yang langsung temui mereka pun sigap. Beliau berjanji bakal proses pengaduan secara profesional dan mengedepankan restorative justice—alias solusi damai yang adil buat semua pihak, baik pencipta, penyanyi, maupun produser.

Yang bikin makin seru, Kementerian HAM siap turunkan 90 mediator dari seluruh Indonesia untuk mempertemukan para pihak yang berseteru. Duh, semoga cepat beres ya, supaya musik Indonesia tetap berkobar tanpa ada yang dirugikan.

Analisis Pakar

Kasus ini bukan sekadar urusan duit, melainkan cermin besar dari sistem pengelolaan royalti yang masih kacau balau di negeri kita. Ecko Show cs berani angkat bicara publik, padahal Ecko sendiri pernah duduk di kursi direktur label tersebut. Artinya, bahkan orang dalam pun kesulitan mengakses keadilan dan kejelasan kontrak. Ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan hanya di satu label, tapi mungkin sudah menjadi praktik umum yang merugikan kreator.

Royalti digital seharusnya menjadi pilar kebangkitan industri musik di era streaming. Namun, jika para musisi harus turun ke jalan (atau ke kementerian) hanya untuk menagih hak yang sudah jelas diatur Undang-Undang, maka patut dipertanyakan efektivitas pengawasan dan kepatuhan pelaku usaha. Menteri Pigai menyebut akan menggunakan 90 mediator, ini langkah bagus, tapi apakah mediasi cukup? Kasus seperti ini butuh efek jera—bisa berupa sanksi administratif atau bahkan pencabutan izin jika terbukti ada pelanggaran serius.

Yang lebih ironis, banyak musisi indie atau pemula yang nasibnya lebih parah. Mereka mungkin tidak punya akses ke publikasi seperti Ecko Show sehingga lebih mudah diabaikan. Jika kasus ini tidak ditangani dengan tegas dan transparan, maka akan menjadi preseden buruk: label-label lain merasa bisa seenaknya menahan royalti tanpa konsekuensi. Saya menilai, perlu ada terobosan berupa dashboard publik yang menampilkan aliran royalti secara real-time, atau pembentukan badan independen yang mengawasi distribusi royalti dari hulu ke hilir.

Selain itu, edukasi hukum untuk musisi juga penting. Banyak seniman yang belum paham seluk-beluk kontrak dan hak ekonomi mereka. Kasus ini seharusnya menjadi tamparan keras bagi ekosistem musik Indonesia: keadilan harus ditegakkan, bukan hanya di panggung, tapi juga di balik meja kontrak. Semoga langkah Kementerian HAM benar-benar membawa angin segar, bukan sekadar angin lalu.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa total royalti yang ditahan Ide Timur hingga saat ini?
    A: Berdasarkan laporan Ecko Show dkk, total royalti yang belum dibayarkan untuk periode Mei dan Juni 2026 sekitar Rp600 juta.
  • Q: Siapa saja musisi yang melaporkan kasus ini?
    A: Mereka adalah Ecko Show, Silet Open Up, dan Faris Adam, yang merupakan klien sekaligus mantan direktur di Ide Timur.
  • Q: Apa langkah Kementerian HAM dalam menangani sengketa ini?
    A: Kementerian HAM akan menurunkan tim mediator (total 90 mediator di seluruh Indonesia) untuk memfasilitasi mediasi antara para musisi dan pihak label, dengan pendekatan restorative justice.
Meow! Tanya Nesi!
😸