Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Optimisme Gubernur Luthfi: 6,69 Juta Ton Padi Sudah di Tangan, Target 10,5 Juta Ton Akhir Tahun Tetap Realistis?

Berita DaerahSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Nasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Optimisme Gubernur Luthfi: 6,69 Juta Ton Padi Sudah di Tangan, Target 10,5 Juta Ton Akhir Tahun Tetap Realistis?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyatakan optimistis bahwa target produksi padi 10,5 juta ton pada akhir 2026 dapat tercapai.
  • Realisasi Januari-Agustus telah mencapai 6,69 juta ton atau sekitar 63 persen, ditopang oleh musim panen raya kedua dan rencana panen ketiga di sejumlah daerah.
  • Pemprov Jateng mendorong produktivitas lewat bantuan alsintan, program pemetaan lahan 'Pilar Jateng', serta adopsi sistem pertanian modern PMAS.

Pemalang — Di tengah semangat panen raya yang menyelimuti pesawahan Kabupaten Pemalang, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi melontarkan optimisme tinggi. Ia meyakini, catatan produksi padi hingga Agustus 2026 yang menyentuh angka 6,69 juta ton merupakan sinyal kuat bahwa target 10,5 juta ton pada akhir tahun bukan sekadar angan-angan.

Optimisme itu muncul saat Luthfi melakukan kunjungan kerja ke Desa Kedungbanjar, Kecamatan Taman, Kamis (3/9). Di tengah hamparan padi menguning yang siap dipanen, ia memaparkan bahwa capaian 6,69 juta ton dalam kurun Januari-Agustus telah menyentuh sekitar 63 persen dari target. Angka ini, menurutnya, menjadi modal penting menjelang musim panen raya kedua yang nyaris mencapai puncak, plus panen ketiga yang masih akan berlangsung di sejumlah daerah.

"Januari-Agustus ini sudah 6,69 juta ton. Hari ini kita panen padi di Pemalang, di kabupaten/kota lain juga melakukan panen. Apabila ini bisa dipertahankan, maka akan bisa terpenuhi," tegas Luthfi di hadapan awak media.

Tak sekadar menunggu, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bergerak cepat. Bantuan alat pertanian—mulai dari traktor, combine harvester, pompa air, hingga benih—digelontorkan tidak hanya ke Pemalang, tetapi juga merata ke berbagai daerah. Luthfi menjelaskan, pendekatan teknis yang diambil pun dirancang secara spesifik menyesuaikan tipologi lahan.

"Alat-alat pertanian dan pompa kita geser ke sini. Kita juga ada dua mekanisme penanganan lahan pertanian, yaitu sawah tadah hujan dengan perpompaan dan perpipaan, kemudian sawah irigasi dengan optimalisasi jaringan irigasi tersier," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jateng, Defransisco Dasilva Tavares, menambahkan bahwa Jateng sesungguhnya memiliki kekayaan pola tanam berbasis kearifan lokal. Di wilayah Pantura, misalnya, Desa Kedungbanjar menerapkan pola dua kali musim tanam padi yang diselingi komoditas lain. Di sisi lain, ada daerah yang mampu melakukan tiga kali musim tanam dan panen dalam setahun.

"Semua petani itu sebenarnya tergantung pada air. Kalau ada air, mereka pasti akan menanam padi. Tapi dengan metode PMAS atau Pertanian Modern Agriculture Advance System, dua kali musim tanam sudah cukup karena produksinya tinggi," terang Defransisco.

Untuk memetakan dan memaksimalkan produktivitas, Pemprov Jateng menggulirkan program "Pilar Jateng". Program ini menjadi semacam dashboard komprehensif yang memuat data infrastruktur lahan, jaringan irigasi, hingga alat mesin pertanian berikut kondisinya. Dengan basis data yang solid, intervensi kepada kelompok tani diharapkan lebih presisi.

"Dari situ kita bisa tentukan intervensi atau bantuan yang akan diberikan kepada kelompok tani," tegas Defransisco.

Dampaknya mulai terasa di kalangan petani. Modernisasi pertanian di Pemalang memang belum merata, namun bantuan alsintan disebut sangat krusial. Ketua Kelompok Tani Sri Berkah 1 Tegalbati, Petarukan, menceritakan bagaimana kehadiran combine harvester memangkas biaya produksi secara signifikan. Sebelumnya, petani harus merogoh kocek dalam-dalam untuk mendatangkan mesin dari luar daerah—yang sering kali berujung pada keterlambatan panen dan anjloknya harga gabah.

"Terima kasih atas bantuan combine harvester ini. Biasanya kami datangkan dari daerah lain. Pada musim tanam satu, kita kadang telat panen karena menunggu mesin dari daerah lain, itu juga mempengaruhi harga gabah," tutupnya.

Analisis Pakar

Dari kacamata seorang jurnalis investigasi senior, klaim optimisme Gubernur Luthfi ini tentu perlu diuji dengan pisau analisis yang tajam. Angka 6,69 juta ton dalam delapan bulan memang terdengar impresif, tetapi jangan sampai kita terjebak euforia. Capaian 63 persen dari target dalam dua pertiga tahun memang sejalan dengan tren musiman, di mana produksi padi biasanya memang memuncak pada semester kedua—tepatnya saat musim panen raya I dan II berlangsung hampir bersamaan. Pertanyaannya, apakah laju produktivitas ini benar-benar melompat dibanding tahun sebelumnya, atau sekadar meniru pola siklus yang sudah lazim?

Yang menarik patut dicermati adalah kebijakan teknis di lapangan. Luthfi bicara soal dua mekanisme—perpompaan dan perpipaan untuk sawah tadah hujan, plus optimalisasi irigasi tersier. Ini pendekatan yang pragmatis, terutama mengingat ancaman perubahan iklim yang makin nyata. Ketika curah hujan makin tak terprediksi, ketergantungan pada sistem tadah hujan tanpa dukungan infrastruktur pompa adalah bentuk kemewahan yang tak lagi bisa ditoleransi. Langkah menggeser alsintan ke titik-titik strategis menunjukkan bahwa Pemprov setidaknya memiliki pembacaan yang lebih realistis terhadap peta kebutuhan riil petani.

Namun, ada pekerjaan rumah besar yang tak boleh diabaikan: modernisasi pertanian di Pemalang dan banyak daerah lain masih belum merata. Pernyataan Petarukan, Ketua Kelompok Tani Sri Berkah 1, soal harus mendatangkan mesin panen dari luar daerah adalah cermin ketimpangan yang memprihatinkan. Bayangkan, di sebuah provinsi yang menargetkan 10,5 juta ton, masih ada petani yang mengalami keterlambatan panen akibat menunggu mesin—dan ironisnya, keterlambatan itu menekan harga gabah di tingkat petani. Ini artinya, program-program besar di atas kertas belum sepenuhnya menerjemahkan dirinya menjadi kesejahteraan konkret di tangan petani kecil.

Program "Pilar Jateng" dengan sistem pemetaan infrastruktur lahan dan alsintan adalah langkah maju yang patut diapresiasi. Dalam dunia pertanian modern, data is the new fertilizer—dan tanpa pemetaan yang akurat, bantuan akan selalu menjadi senjata yang menusuk buta. Tapi efektivitas program ini sepenuhnya bergantung pada kemampuan Pemprov mengeksekusi data menjadi kebijakan. Jangan sampai Pilar Jateng berakhir menjadi proyek pameran yang fotonya banyak di media sosial, namun tak menyentuh persoalan struktural: alih fungsi lahan, regenerasi petani yang makin mandek, hingga lemahnya posisi tawar petani di hadapan tengkulak. Optimisme boleh, data boleh dipamerkan, tapi petani di Tegalbati masih menunggu jawaban: kapan mereka tak lagi harus "menunggu mesin dari daerah lain"?

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Berapa produksi padi Jawa Tengah hingga Agustus 2026?
A: Produksi padi Jawa Tengah periode Januari-Agustus 2026 mencapai 6,69 juta ton, atau sekitar 63 persen dari target tahunan sebesar 10,5 juta ton.

Q: Apa strategi Pemprov Jateng untuk mencapai target produksi padi?
A: Pemprov Jateng menggelontorkan bantuan alsintan seperti traktor, combine harvester, pompa air, dan benih, serta mengoptimalkan jaringan irigasi tersier. Mereka juga menerapkan program Pilar Jateng untuk pemetaan lahan dan program PMAS (Pertanian Modern Agriculture Advance System).

Q: Di mana lokasi panen raya padi yang dikunjungi Gubernur Luthfi?
A: Gubernur Luthfi melakukan kunjungan panen raya padi di Desa Kedungbanjar, Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang, Kamis (3/9).

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸