Menyelam ke Pusat Energi Bersih: KELANA Bawa 11 Pelajar ke PLTA Bengkok, Bisakah Ini Ubah Masa Depan Transisi Energi Indonesia?

Teknologi
Reza AdityaReza Aditya
Reza Aditya
Reza Aditya
Pakar Teknologi

Reviewer gadget independen dengan perspektif teknis yang mendalam.

Menyelam ke Pusat Energi Bersih: KELANA Bawa 11 Pelajar ke PLTA Bengkok, Bisakah Ini Ubah Masa Depan Transisi Energi Indonesia?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menggelar Program KELANA Episode 4 di PLTA Bengkok, Bandung, mengajak 11 pelajar SMA dari berbagai daerah dan Puteri Indonesia Lingkungan 2026.
  • PLTA Bengkok, yang beroperasi sejak 1923, memanfaatkan aliran Sungai Cikapundung dan menerapkan pengelolaan sampah serta penanaman pohon sebagai bentuk komitmen keberlanjutan.
  • Program ini bertujuan memperluas wawasan ekologis dan mendorong generasi muda menjadi agen perubahan, namun masih perlu dipertanyakan dampak nyata terhadap kebijakan transisi energi nasional.

Bandung, 1 September 2026 – Di tengah peringatan Hari Danau Dunia 2026, KLH/BPLH kembali menggelar program unggulan mereka, Kenali Lingkungan Bareng Anak Muda (KELANA) Episode 4. Kali ini, 11 pelajar terpilih dari berbagai penjuru Nusantara diajak menyelami praktik pengelolaan air dan transisi energi di PLTA Bengkok, Bandung, Jawa Barat. Mereka didampingi oleh Puteri Indonesia Lingkungan 2026, Victoria Titiasari Kosasieputri, yang turut memeriahkan kunjungan edukatif tersebut.

PLTA Bengkok bukanlah pembangkit biasa. Beroperasi sejak zaman kolonial Belanda pada 1923, instalasi bersejarah ini masih memegang peranan penting dalam memasok listrik ke wilayah Jawa Barat dengan memanfaatkan derasnya aliran Sungai Cikapundung. Bagi para pelajar, pengalaman melihat langsung turbin dan generator yang selama ini hanya mereka kenal dari buku teks menjadi momen yang membuka mata.

Namun, di balik keseruan dan antusiasme peserta, program ini menyimpan pertanyaan besar: seberapa efektifkah kunjungan seremonial seperti ini dalam mendorong perubahan nyata di tengah krisis iklim yang kian memburuk? Transisi energi membutuhkan lebih dari sekadar pemahaman teoritis—ia menuntut kebijakan yang terukur, investasi masif, dan komitmen jangka panjang dari seluruh pemangku kepentingan.

Tim Leader PLTA Bengkok, Hamzah Wildan Muharam, menyambut hangat inisiatif KLH/BPLH. Ia memaparkan bahwa pihaknya secara rutin membersihkan sampah dari aliran sungai sebelum air digunakan untuk pembangkitan listrik. Sampah yang terkumpul kemudian didistribusikan ke TPS-TPS setempat. Selain itu, perusahaan juga menjalankan program penanaman pohon secara berkala di sekitar wilayah operasional yang telah berusia lebih dari satu abad tersebut.

"Program yang bagus dari KLH, karena dapat menambah wawasan teman-teman kita, terutama yang masih di jenjang SMA, dan bisa menjadi tambahan portofolio untuk menentukan arah masa depan mereka," ujar Hamzah. Ia menilai langkah ini visioner, namun tidak memungkiri bahwa tantangan terbesar justru terletak pada bagaimana generasi muda dapat mengimplementasikan ilmu yang didapat ke dalam tindakan kolektif.

Puteri Indonesia Lingkungan, Victoria, juga menyampaikan apresiasinya. "Hari pertama penuh keseruan, karena kami bisa melihat alat-alat yang sebenarnya ada di textbook, sekarang kami lihat turbin dan generator langsung," tuturnya. Namun, sebagai figur publik yang mengemban misi lingkungan, Victoria diharapkan mampu mendorong agenda transisi energi yang lebih konkret, bukan sekadar menjadi bintang dalam kegiatan seremonial.

Salah satu peserta, Najwa Aisyah Raihanah dari SMAN 2 Purworejo, mengungkapkan kegembiraannya karena pertanyaan-pertanyaan selama ini tentang bagaimana air bisa menjadi listrik akhirnya terjawab. "Selama ini aku terbayang-bayang bendungan, tapi sekarang aku paham prosesnya," katanya. Antusiasme ini patut diapresiasi, tetapi penting untuk diingat bahwa pemahaman individu tidak akan cukup tanpa adanya sistem pendidikan dan kebijakan yang mendukung gerakan energi bersih secara massal.

KLH/BPLH berharap melalui KELANA Episode 4, para pelajar tumbuh menjadi agen perubahan yang mengawal pembangunan berkelanjutan. Namun, sebagai jurnalis investigasi, saya melihat bahwa program-program seperti ini terlalu sering berhenti pada tataran edutainment. Jika tidak diiringi dengan evaluasi dampak dan tindak lanjut yang jelas, maka ia hanya akan menjadi potret manis tanpa substansi.

Analisis Pakar

Sebagai pimpinan redaksi yang telah lama meliput isu lingkungan dan energi, saya menilai program KELANA ini memiliki dua sisi mata uang. Di satu sisi, inisiatif mendekatkan generasi muda dengan infrastruktur energi terbarukan adalah langkah yang patut dipuji. PLTA Bengkok adalah warisan teknologi yang masih relevan, dan menunjukkan bahwa energi air bisa bertahan lama. Namun, di sisi lain, kegiatan ini terkesan lip service belaka jika tidak diintegrasikan dengan kurikulum pendidikan yang lebih kuat dan program magang atau proyek nyata yang melibatkan pelajar secara langsung dalam pemecahan masalah energi di daerah masing-masing.

Kita perlu bertanya: apa yang terjadi setelah para pelajar kembali ke sekolah? Apakah ada tugas lanjutan, penelitian kecil, atau pendampingan dari KLH/BPLH? Tanpa keberlanjutan, pengalaman ini akan sirna seperti liburan biasa. Saya menduga bahwa anggaran yang dikucurkan untuk acara ini cukup besar—mulai dari transportasi, akomodasi, hingga konsumsi—namun hasil yang terukur masih abstrak. Seharusnya, pemerintah bersama PLN mampu merancang program yang lebih terstruktur, misalnya dengan memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengusulkan proyek konservasi di wilayah mereka yang didanai oleh CSR perusahaan.

Lebih jauh lagi, transisi energi di Indonesia tidak bisa hanya mengandalkan PLTA-PLTA lama. Kita membutuhkan diversifikasi sumber energi, seperti tenaga surya dan angin, yang masih sangat minim pemanfaatannya. Kunjungan ke PLTA Bengkok, meskipun bersejarah, justru bisa memberikan gambaran yang usang jika tidak diimbangi dengan wawasan tentang teknologi baru. Generasi muda perlu diajak melihat pembangkit listrik tenaga surya terapung atau proyek angin di daerah terpencil, agar mereka memahami bahwa masa depan energi adalah kombinasi dari berbagai sumber terbarukan, bukan hanya mengandalkan air.

Sebagai penutup analisis, saya mengapresiasi niat baik KLH/BPLH, tetapi saya mengkritik keras kurangnya indikator keberhasilan yang jelas. Jika program ini hanya sekadar untuk konten media sosial dan portofolio peserta, maka kita tidak akan pernah melihat perubahan signifikan dalam perilaku energi masyarakat. Saya menantikan transparansi data tentang seberapa banyak peserta yang kemudian melanjutkan studi di bidang energi terbarukan, atau seberapa banyak ide-ide mereka yang diadopsi oleh pemerintah daerah. Tanpa itu, KELANA hanyalah gimmick.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa itu program KELANA dari KLH/BPLH?
    A: KELANA (Kenali Lingkungan Bareng Anak Muda) adalah program edukasi yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup untuk memperkenalkan isu-isu lingkungan, konservasi air, dan transisi energi kepada pelajar SMA melalui kunjungan langsung ke lokasi-lokasi strategis seperti PLTA.
  • Q: Mengapa PLTA Bengkok dipilih sebagai lokasi KELANA Episode 4?
    A: PLTA Bengkok dipilih karena merupakan pembangkit listrik tenaga air tertua di Indonesia yang masih beroperasi sejak 1923, sehingga menjadi contoh nyata pemanfaatan sumber daya air untuk energi bersih dan sekaligus memiliki nilai sejarah yang kuat untuk edukasi.
  • Q: Apa kontribusi nyata program KELANA terhadap transisi energi di Indonesia?
    A: Secara langsung, program ini meningkatkan kesadaran generasi muda tentang energi terbarukan. Namun, kontribusi nyata masih bergantung pada tindak lanjut, seperti pengembangan kurikulum, proyek kolaboratif, dan dukungan kebijakan. Saat ini, program lebih bersifat pengenalan awal daripada aksi perubahan sistemik.
Meow! Tanya Nesi!
😸