Krisis Peringkat Janice Tjen: Dari 36 ke 51 usai US Open, Bisakah Dia Bangkit?
Selalu terdepan dalam menyajikan berita balap motor dan olahraga bola basket.

- Ringkasan Singkat Janice Tjen kalah telak 2-6, 2-6 dari Mirra Andreeva di babak pertama US Open 2026.
- Akibat kekalahan ini, peringkat WTA-nya anjlok dari posisi 36 ke 51, dengan koleksi 1.090 poin.
- Ini adalah penurunan terburuk dalam 14 turnamen terakhir, di mana ia sering gagal lolos dari babak kedua.
Ringkasan Singkat
- Janice Tjen kalah telak 2-6, 2-6 dari Mirra Andreeva di babak pertama US Open 2026.
- Akibat kekalahan ini, peringkat WTA-nya anjlok dari posisi 36 ke 51, dengan koleksi 1.090 poin.
- Ini adalah penurunan terburuk dalam 14 turnamen terakhir, di mana ia sering gagal lolos dari babak kedua.
Pecinta tenis Indonesia, bersiaplah menerima kabar kurang sedap! Janice Tjen, harapan utama kita di kancah putri, harus menerima kenyataan pahit setelah US Open 2026 berakhir pahit. Ya, petenis kebanggaan kita itu harus mengakui keunggulan Mirra Andreeva dengan skor dua set langsung, 2-6, 2-6, dalam waktu kurang dari satu jam di Stadion Louis Amstrong, Rabu (2/9) dini hari WIB.
Dari awal pertandingan, terlihat jelas bahwa Janice Tjen kesulitan beradaptasi dengan permainan agresif Andreeva yang kini menduduki peringkat kelima dunia. Pukulan-pukulan groundstroke Andreeva yang datar dan cepat membuat Janice terus tertekan di sepanjang lapangan. Ia bahkan tidak mampu mempertahankan servisnya, dengan persentase poin pertama yang sangat rendah. Kekalahan ini bukan sekadar angka, melainkan pukulan telak bagi perjuangan Janice untuk mempertahankan posisi di papan atas.
Berdasarkan Live WTA Ranking, poin Janice kini tersisa 1.090, yang membuatnya merosot ke peringkat ke-51. Posisinya kini di bawah bayang-bayang Liudmila Samsonova (peringkat 50 dengan 1.099 poin) dan hanya terpaut 28 poin dari Tamara Korpatsch di peringkat 49. Di belakangnya, Katie Boulter (1.062 poin) dan Zhang Shuai (1.055 poin) sudah siap menyusul. Persaingan di zona 50 besar benar-benar sengit!
Yang lebih mengkhawatirkan adalah tren penurunan performa Janice dalam 14 turnamen terakhir. Ia selalu kandas di babak kedua atau lebih awal โ mulai dari Monterrey Open, Cincinnati Open, hingga Canadian Open. Kegagalan untuk menembus babak ketiga membuatnya kehilangan poin besar, dan US Open menjadi puncak dari kemerosotan ini. Pertanyaannya, apakah ini sinyal alarm bagi tim pelatihnya untuk segera membenahi taktik dan mentalitas?
Analisis Pakar
Sebagai pengamat yang telah mengikuti perjalanan Janice sejak junior, saya tidak bisa menutup mata bahwa ada masalah fundamental dalam permainannya. Kekalahan dari Andreeva bukanlah aib, karena Andreeva adalah bintang muda yang tengah naik daun. Namun, cara Janice kalah โ tanpa perlawanan berarti โ menunjukkan bahwa ia belum menemukan solusi taktis saat menghadapi pemain dengan power play tinggi. Servisnya yang menjadi senjata andalan justru sering kali menjadi sasaran empuk pengembalian lawan. Ia perlu segera mengembalikan konsistensi pada pukulan pertama dan kedua, karena tanpa itu, ia akan terus tertinggal di reli-reli pendek.
Selain aspek teknis, faktor mental juga tidak bisa diabaikan. Melihat raut wajah Janice di lapangan, saya menangkap aura kurang percaya diri yang semakin terlihat sejak awal tahun ini. Ketika poin-poin kritis datang, ia kerap memilih pukulan aman yang justru memberi kesempatan lawan untuk menyerang. Ini adalah pola yang sama yang terulang di beberapa turnamen sebelumnya. Saya berpendapat bahwa tim pelatih perlu melakukan evaluasi menyeluruh, mungkin dengan menambahkan psikolog olahraga, untuk membangun kembali ketangguhan mentalnya. Tanpa itu, sulit bagi Janice untuk bersaing di level top 30, apalagi mendekati top 10.
Selanjutnya, kita harus melihat strategi penjadwalan turnamen. Janice terlihat kelelahan? Mungkin. Namun, pemain top seperti Iga Swiatek atau Aryna Sabalenka juga memainkan jadwal padat, tapi mereka mampu menjaga performa. Perbedaan terletak pada pemulihan dan periodisasi latihan. Saya menyarankan Janice dan tim untuk lebih fokus pada kualitas daripada kuantitas turnamen. Pilih beberapa turnamen WTA 1000 atau 500 yang cocok dengan karakter permainannya โ lapangan cepat atau lambat, kondisi cuaca โ agar ia bisa mengumpulkan poin maksimal. Jangan asal turun di semua turnamen hanya demi poin kecil, karena itu hanya akan menguras energi dan merusak kepercayaan diri.
Terakhir, saya ingin mengingatkan bahwa perjalanan seorang petenis tidak pernah linear. Banyak pemain hebat seperti Petra Kvitova atau Victoria Azarenka pernah mengalami penurunan drastis sebelum bangkit kembali. Yang terpenting adalah bagaimana Janice menyikapi periode sulit ini. Saya melihat bakat dan kemampuan dasar yang luar biasa pada dirinya โ pukulan forehand yang kuat dan pergerakan lincah. Dengan kerja keras, evaluasi, dan dukungan penuh dari pecinta tenis Indonesia, saya yakin ia bisa kembali melesat. Namun, waktu tidak menunggu. Musim kejuaraan berikutnya sudah di depan mata, dan setiap pertandingan menjadi ajang pembuktian. Mari kita doakan dan dukung Janice untuk segera menemukan ritme terbaiknya!
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Q: Mengapa peringkat Janice Tjen bisa turun drastis dari 36 ke 51 hanya dalam satu turnamen?
A: Penurunan ini bukan hanya karena kekalahan di US Open, tetapi juga karena ia gagal mempertahankan poin dari turnamen yang sama tahun lalu. Di US Open 2025, ia mencapai babak ketiga, sehingga poinnya besar. Kekalahan di babak pertama tahun ini membuatnya kehilangan sebagian besar poin tersebut, ditambah hasil buruk di turnamen sebelumnya yang tidak menambah banyak poin.
Q: Siapa Mirra Andreeva dan mengapa ia begitu sulit dikalahkan?
A: Mirra Andreeva adalah petenis muda Rusia yang kini menduduki peringkat 5 dunia. Ia dikenal dengan permainan agresif, pukulan groundstroke yang datar dan cepat, serta kemampuan membaca permainan lawan yang matang meski usianya masih belia. Gaya bermainnya yang menyerang sejak awal membuat lawan kesulitan mengembangkan pola permainan.
Q: Apakah Janice Tjen masih punya peluang untuk masuk kembali ke top 30 WTA tahun ini?
A: Secara matematis, masih sangat mungkin jika ia mampu tampil konsisten di turnamen-turnamen tersisa, terutama di ajang WTA 1000 dan 500. Namun, ia harus segera memperbaiki servis dan mentalitas di momen kritis. Dengan sisa turnamen sekitar 4-5 ajang besar, target masuk top 30 masih realistis asal ia bisa mencapai setidaknya perempat final di beberapa turnamen.
BERITA TERKAIT (Olahraga)

PSG kukuh di puncak Liga Champions, Barcelona kejar ketertinggalan setelah matchday keempat

Australia Rayu Mathew Baker, Piala Asia 2027 Diundur, Megawati Hangestri Debut di Liga Korea

Lepas dari BAM, Cheah Yee See Menikah dengan Teo Kok Siang di Bali
