Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Bilal Hasan Bidikan Sabuk UFC 2028: Langkah Matang atau Ambisi Terlalu Dini?

OlahragaEka SaputraEka SaputraSumber: CNN Olahraga
Eka Saputra
Eka Saputra
Pakar MotoGP & Basket

Selalu terdepan dalam menyajikan berita balap motor dan olahraga bola basket.

Bilal Hasan Bidikan Sabuk UFC 2028: Langkah Matang atau Ambisi Terlalu Dini?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Target Juara: Bilal Hasan menetapkan 2028 sebagai tahun incaran sabuk juara kelas terbang UFC, tidak mau terburu-buru meski debut KO gemilang.
  • Prioritas Pemulihan & Pertarungan: Fokus utama saat ini adalah recovery dan pertarungan berikutnya, bahkan rela menunda kunjungan ke Indonesia demi jadwal duel.
  • Lawan Incaran: Petarung Brasil Andre Lima menjadi target berikutnya, namun Bilal siap hadapi siapa pun yang ditunjuk UFC.

Jakarta, Dimas Pratama — Semangat juang Bilal Hasan di oktagon memang membara. Namun, alih-alih terbawa euforia kemenangan KO atas Nilson Rojas di UFC Fight Night, petarung berdarah Indonesia ini memilih jalan panjang. Dengan kepala dingin dan perhitungan taktis, Bilal menegaskan bahwa sabuk juara kelas terbang bukanlah buruan instan—targetnya baru akan direbut pada tahun 2028.

Bagi pecinta MMA Tanah Air, pernyataan ini mungkin terdengar lamban. Tapi coba cermati: usia Bilal baru 25 tahun, baru satu duel resmi di UFC. Kualitasnya memang belum terukur di papan atas. “Saya mengincar juara di 2028 atau mungkin akhir tahun depan, tergantung seberapa cepat UFC menekan saya,” ujar Bilal dengan nada percaya diri namun realistis, Kamis (3/9). Ia bahkan menyebut jika UFC memberinya jadwal padat—setiap dua bulan atau bahkan dua kali sebulan—maka percepatan mungkin terjadi.

Saat ini, prioritas nomor satu adalah pemulihan pasca-debut. Kemenangan KO di ronde kedua atas Rojas di China memang manis, tapi tubuh tetap perlu istirahat. Bilal juga sudah mengincar nama berikutnya: Andre Lima, petarung Brasil yang dianggapnya sebagai batu ujian sempurna. “Saya ingin selanjutnya, Insya Allah lawan Andre Lima. Atau jika UFC pilih lain, saya ladeni. Saya hanya berkata 'Ya' untuk setiap pertarungan,” tegasnya dengan semangat pantang mundur.

Yang menarik, Bilal memilih untuk menunda pulang ke Jakarta dan Bogor, tanah asal orangtuanya, demi menjaga ritme latihan dan kesiapan tempur. Rencana ke Indonesia bulan Desember terpaksa ditangguhkan jika ada duel. “Mungkin awal tahun depan,” ujarnya. Ini menunjukkan dedikasi total—seorang pejuang sejati yang rela berkorban demi puncak karier.

Analisis Pakar

Oleh: Dimas Pratama, Pengamat Olahraga

Keputusan Bilal Hasan untuk tidak terburu-buru adalah langkah cerdas nan dewasa. Di era di mana banyak petarung muda terbakar ambisi dan jatuh karena kurang pengalaman, Bilal memilih fondasi yang kokoh. Kelas terbang UFC adalah salah satu divisi terkeras—di sana ada nama-nama seperti Alexandre Pantoja, Brandon Moreno, dan Deiveson Figueiredo yang sudah bertarung di level elite selama bertahun-tahun. Memaksakan diri mengejar sabuk dalam 1-2 tahun ke depan hanya akan berisiko mengorbankan karier jangka panjang.

Saya melihat target 2028 sebagai waktu yang sangat realistis. Jika Bilal bisa bertarung 4-5 kali setahun dengan kualitas yang meningkat, maka pada 2027-2028 ia sudah memiliki rekor 10-12 kemenangan di UFC, cukup untuk masuk peringkat lima besar dan berhak menantang juara. Yang lebih penting, ia memberi ruang bagi timnya untuk menyusun strategi perlawanan terhadap tipe-tipe lawan tertentu. Misalnya, Andre Lima adalah petarung dengan gaya serang agresif—mengalahkannya akan membuktikan kemampuan bertahan Bilal di bawah tekanan.

Namun, saya juga menyoroti risiko dari jadwal padat. Bilal menyebut kemungkinan bertarung dua kali sebulan—itu sangat berat untuk pemulihan, apalagi di kelas terbang yang mengandalkan kecepatan dan refleks. UFC biasanya tidak memforsir petarung baru seperti itu kecuali ada situasi darurat. Saya berharap tim Bilal tetap menjaga keseimbangan antara agresivitas karier dan kesehatan atlet. Jangan sampai keinginan cepat naik peringkat malah berujung cedera.

Yang tak kalah penting adalah aspek mental dan adaptasi budaya. Bilal lahir di Hawaii dan besar di AS, tapi darah Indonesia mengalir kuat. Ia sempat menyebut rencana ke Indonesia—saya menyarankan agar ia tetap menyempatkan diri untuk menjalin ikatan dengan fans Tanah Air, karena dukungan moral dari Indonesia bisa menjadi energi ekstra di oktagon. Namun, jika jadwal bertabrakan, prioritas tetaplah pertarungan. Saya yakin, dengan perencanaan matang dan kerja keras, sabuk juara kelas terbang bukanlah mimpi—Bilal Hasan bisa menjadi juara dunia pertama Indonesia di UFC pada 2028. Tentu saja, semua tergantung pada konsistensi, taktik, dan sedikit keberuntungan dalam menghindari cedera.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Kapan Bilal Hasan bertarung lagi setelah debut KO?
    A: Bilal menargetkan duel berikutnya dalam waktu dekat, kemungkinan akhir 2026 atau awal 2027, tergantung jadwal UFC dan proses pemulihan. Ia siap bertarung setiap dua bulan sekali jika diperlukan.
  • Q: Siapa lawan yang diincar Bilal untuk laga kedua?
    A: Ia menginginkan petarung Brasil, Andre Lima, namun Bilal juga menyatakan siap meladeni siapa pun yang ditunjuk UFC untuk menguji kemampuannya.
  • Q: Apakah Bilal Hasan benar-benar bisa menjadi juara UFC di 2028?
    A: Target tersebut realistis mengingat usianya (25 tahun) dan jalur karier yang terencana. Dengan rekor bersih dan kemenangan atas nama-nama top, peluangnya besar, asalkan ia menjaga kondisi fisik dan mental.
Meow! Tanya Nesi!
😸