Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Ali/Devin Gugur di China Masters 2026: Pelajaran Berharga dari Kekalahan di 16 Besar

OlahragaDimas PratamaDimas PratamaSumber: CNN Olahraga
Dimas Pratama
Dimas Pratama
Pengamat Olahraga

Mantan jurnalis olahraga yang kini berfokus pada analisis taktik sepak bola lokal maupun Eropa.

Ali/Devin Gugur di China Masters 2026: Pelajaran Berharga dari Kekalahan di 16 Besar
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Ganda putra Indonesia Ali Faathir Rayhan/Devin Artha Wahyudi tersingkir di babak 16 besar China Masters 2026.
  • Mereka kalah dua gim langsung dari pasangan Malaysia Tee Kai Wun/Yap Roy King dengan skor 16-21, 19-21.
  • Ali/Devin sempat unggul di awal kedua gim, namun gagal mempertahankan momentum dan kalah dalam pertarungan sengit.

Pertarungan sengit terjadi di Shenzhen Arena pada Kamis (3/9) saat Ali Faathir Rayhan/Devin Artha Wahyudi harus mengakui keunggulan wakil Malaysia, Tee Kai Wun/Yap Roy King, di babak 16 besar China Masters 2026. Pasangan Indonesia yang tampil agresif sejak awal harus menerima kenyataan pahit setelah dikalahkan dalam dua gim langsung 16-21, 19-21.

Pada gim pertama, Ali/Devin membuka permainan dengan percaya diri dan sempat unggul 5-3. Namun, keunggulan itu sirna setelah Tee/Yap berhasil menyamakan kedudukan 5-5 dan kemudian berbalik memimpin 8-5. Meski sempat menyamakan skor 8-8, ganda Malaysia kembali menunjukkan dominasi dan menutup gim pertama dengan keunggulan 11-9 di jeda, lalu melesat menjadi 21-16.

Gim kedua menjadi ajang kebangkitan pasangan Indonesia. Ali/Devin tampil lebih agresif dan berhasil unggul 4-1, bahkan sempat mempertahankan keunggulan tipis 7-6. Sayang, Tee/Yap yang berpengalaman mampu mengejar dan berbalik unggul 11-10 di interval. Setelah jeda, pasangan Malaysia tancap gas dan terus menekan. Ali/Devin memberikan perlawanan sengit hingga memperkecil skor menjadi 18-19, namun kegagalan memanfaatkan peluang emas membuat mereka akhirnya menyerah 19-21 di gim penentuan.

Analisis Pakar

Sebagai pengamat olahraga yang telah mengikuti perjalanan bulu tangkis Indonesia selama puluhan tahun, saya melihat kekalahan Ali/Devin kali ini bukan semata-mata karena kualitas lawan yang lebih baik, melainkan lebih pada kegagalan taktik dan mental dalam momen krusial. Di awal kedua gim, mereka menunjukkan permainan menyerang yang efektif dengan variasi pukulan silang dan dropshot tajam. Namun, ketika Tee/Yap mulai membaca pola permainan mereka, Ali/Devin tidak memiliki rencana cadangan. Mereka terlalu mengandalkan kecepatan tanpa diimbangi dengan penguasaan net yang solid, sementara lawan justru cerdas memanfaatkan bola-bola lambung untuk membongkar pertahanan Indonesia.

Yang paling menyakitkan adalah kehilangan momentum setelah interval. Pada gim pertama, mereka kehilangan konsentrasi setelah skor 11-9, memberi lawan ruang untuk melesat. Di gim kedua, unggul 11-10 justru menjadi titik balik bagi Malaysia. Ini menunjukkan lemahnya transisi permainan Ali/Devin saat berada dalam tekanan. Mereka juga gagal memanfaatkan peluang saat skor 18-19—seharusnya mereka bisa lebih sabar membangun reli, namun justru terburu-buru melakukan pengembalian yang keluar. Kegagalan ini bukan hanya soal teknik, tapi juga soal pengalaman dan kematangan mental di turnamen Super 750.

Jika dibandingkan dengan ganda putra senior seperti Fajar/Alfian atau Hendra/Ahsan, Ali/Devin masih kurang dalam hal variasi servis dan pertahanan balik. Tee/Yap bukanlah lawan yang sulit dikalahkan jika kita mampu menekan mereka di tiga area: pengembalian servis, net play, dan serangan balik cepat. Sayangnya, Ali/Devin terlalu fokus pada serangan frontal dan kurang memanfaatkan celah di sisi lapangan lawan. Saya menilai pelatih harus segera mengevaluasi strategi mereka, terutama dalam menghadapi pasangan bertipe agresif seperti Malaysia. Mereka perlu lebih sering berlatih skenario tekanan tinggi dan simulasi pertandingan dengan interval ketat agar tidak terburu-buru saat momen genting.

Namun, saya tidak serta-merta menghakimi mereka. Ini adalah bagian dari proses tumbuh menjadi atlet dunia. Mereka baru berpasangan beberapa tahun dan sudah menunjukkan perkembangan signifikan. Kekalahan dari Tee/Yap yang notabene berada di peringkat 12 dunia bukanlah aib. Yang penting adalah bagaimana mereka bangkit dan belajar dari kesalahan. Saya yakin, dengan kerja keras dan evaluasi menyeluruh, Ali/Devin bisa menjadi ancaman serius di turnamen-turnamen berikutnya. Namun, mereka harus segera memperbaiki konsistensi dan ketahanan mental, karena lawan-lawan di level atas tidak akan memberi ampun jika kita lengah.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Siapa lawan yang mengalahkan Ali/Devin di China Masters 2026?
    A: Mereka dikalahkan oleh pasangan ganda putra Malaysia, Tee Kai Wun/Yap Roy King, di babak 16 besar dengan skor 16-21, 19-21.
  • Q: Kapan pertandingan Ali/Devin vs Tee/Yap berlangsung?
    A: Pertandingan dilangsungkan pada Kamis, 3 September 2026, di Shenzhen Arena, China, sebagai bagian dari turnamen China Masters Super 750.
  • Q: Apakah Ali/Devin masih memiliki peluang untuk lolos ke turnamen besar lainnya setelah kekalahan ini?
    A: Ya, kekalahan di China Masters tidak mengurangi poin ranking mereka secara signifikan. Mereka masih berpeluang tampil di turnamen berikutnya seperti Japan Open dan Hong Kong Open, asalkan terus berlatih dan memperbaiki kelemahan taktik.
Meow! Tanya Nesi!
😸