Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Kemenpora Bentak Galang Dana Atlet Tuli: Apa Artinya Bagi Indonesia di Panggung Internasional?

OlahragaEka SaputraEka SaputraSumber: CNN Olahraga
Eka Saputra
Eka Saputra
Pakar MotoGP & Basket

Selalu terdepan dalam menyajikan berita balap motor dan olahraga bola basket.

Kemenpora Bentak Galang Dana Atlet Tuli: Apa Artinya Bagi Indonesia di Panggung Internasional?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • 24 atlet tuli menggalang dana Rp700 juta untuk kompetisi di Malaysia tanpa koordinasi resmi.
  • Kemenpora menegaskan hanya dapat fasilitasi kontingen yang terafiliasi dengan NPC Indonesia.
  • Pengorganisasian yang tidak resmi dianggap "festival" dan tidak diakui oleh federasi internasional.

Jakarta, 1 September 2026 – Gelombang semangat para Atlet Tuli yang berusaha mengumpulkan dana untuk mengikuti Asia Pacific Deaf Multi‑Sport Championships 2026 di Penang, Malaysia, kini menimbulkan pertanyaan besar tentang tata kelola dan legitimasi dalam olahraga disabilitas Indonesia.

Melalui Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Surono dan Plt. Deputi Bidang Pembudayaan Olahraga Budi Ariyanto Muslim, Kemenpora menegaskan bahwa dukungan pemerintah hanya dapat diberikan kepada kontingen yang terdaftar resmi di bawah payung NPC Indonesia. Tanpa afiliasi ini, tidak ada jalur pendanaan atau fasilitas yang dapat disalurkan.

Surono menambahkan, “Penentuan kejuaraan single event harus melalui konsolidasi bersama antara NPC Indonesia dan Kemenpora. Prioritas utama tetap pada cabang dan atlet berpotensi tinggi yang dapat mengantar Indonesia meraih medali di Paralimpiade, ASEAN Para Games, dan Asian Para Games.”

Ia menekankan pentingnya kepatuhan pada statuta International Paralympic Committee (IPC) serta by‑law ICSD untuk memastikan pembinaan, anggaran, dan dukungan pemerintah berjalan secara efektif, efisien, dan tepat sasaran.

Sementara itu, Budi Ariyanto Muslim menegaskan, “Kami akan mendukung organisasi yang memiliki afiliasi internasional. Turnamen di Malaysia tidak memiliki sanksi resmi, sehingga dapat dikategorikan sebagai festival, bukan kompetisi yang diakui federasi internasional.”

Analisis Pakar

Sebagai pengamat olahraga yang telah menelusuri jejak para atlet disabilitas sejak awal 2000‑an, saya melihat dua hal krusial dalam dinamika ini. Pertama, kebutuhan mendesak akan struktur organisasi yang inklusif. Tanpa jaringan resmi, atlet‑atlet berbakat terpaksa mengandalkan crowdfunding yang rentan terhadap ketidakpastian dan kurangnya akuntabilitas. Kedua, peran Kemenpora sebagai katalisator kebijakan harus lebih proaktif dalam memfasilitasi jalur legal bagi kelompok minoritas olahraga, bukan sekadar menutup pintu karena formalitas.

Strategi jangka panjang seharusnya meliputi pembentukan liaison office khusus disabilitas di dalam Kemenpora, yang berfungsi sebagai penghubung antara NPC Indonesia, federasi internasional, serta komunitas atlet. Dengan begitu, proses seleksi, pendanaan, dan persiapan kompetisi dapat terstandardisasi, mengurangi risiko “festival” yang tidak diakui.

Selanjutnya, penting bagi Atlet Tuli dan organisasi mereka untuk menegosiasikan MoU (Memorandum of Understanding) dengan NPC Indonesia. Hal ini tidak hanya memberi legitimasi, tetapi juga membuka akses ke program beasiswa, pelatihan teknis, dan sponsor korporat yang biasanya mengalir ke jalur resmi.

Akhirnya, mari kita ingat bahwa tujuan utama adalah menyiapkan atlet‑atlet terbaik untuk Paralimpiade. Setiap langkah administratif yang tampak “birokratis” sebenarnya adalah fondasi bagi prestasi di panggung dunia. Jika Kemenpora, NPC, dan komunitas atlet dapat bersinergi, Indonesia bukan hanya akan mengirimkan delegasi, tetapi juga menorehkan medali emas yang menginspirasi generasi selanjutnya.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa Kemenpora tidak dapat membantu atlet tuli yang menggalang dana secara mandiri?
    A: Karena bantuan pemerintah hanya diberikan kepada kontingen yang terafiliasi resmi dengan NPC Indonesia, sesuai dengan statuta IPC.
  • Q: Apa yang dimaksud dengan turnamen di Malaysia dianggap “festival”?
    A: Turnamen tersebut tidak diakui oleh federasi internasional, sehingga tidak memiliki sanksi resmi dan tidak masuk dalam kalender kompetisi resmi.
  • Q: Bagaimana cara atlet tuli mendapatkan dukungan resmi untuk kompetisi internasional?
    A: Atlet harus bergabung dengan organisasi yang terdaftar di NPC Indonesia, kemudian melalui proses seleksi dan persetujuan Kemenpora serta NPC untuk mendapatkan dana dan fasilitas.

BERITA TERKAIT (Olahraga)

Meow! Tanya Nesi!
😸