Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Gempa M5,6 Guncang Papua Barat, BMKG Pantau Potensi Dampak

BencanaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: EarthquakeBot
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Gempa M5,6 Guncang Papua Barat, BMKG Pantau Potensi Dampak
BAGIKAN:

BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) mencatat gempa bumi berkekuatan magnitude 5,6 terjadi pada 2 September 2026 pukul 03:04:54 WIB di kedalaman yang belum dipublikasikan, berpusat 155 km barat-barat daya (WSW) dari Abepura, Papua. Guncangan dirasakan di beberapa wilayah Kabupaten Jayapura dan sekitarnya, namun hingga saat ini belum ada laporan kerusakan signifikan atau korban jiwa.

Tim tanggap darurat setempat segera melakukan verifikasi lapangan, sementara pusat gempa di BMKG menegaskan bahwa skala intensitas dirasakan berada pada level III–IV pada skala Modified Mercalli, yang biasanya menimbulkan getaran ringan pada bangunan tidak tahan gempa. Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan dan mematuhi prosedur evakuasi jika terjadi peringatan tsunami.

Gempa ini terjadi di zona tektonik kompleks yang melibatkan lempeng Indo-Australia dan lempeng Pasifik, serta sejumlah patahan mikro di wilayah Papua. Meskipun magnitudenya berada pada kategori sedang, karakteristik pergerakan lempeng dapat memicu aktivitas seismik lanjutan dalam beberapa hari ke depan.

BMKG akan terus memantau aktivitas seismik dan memperbaharui informasi melalui kanal resmi. Masyarakat disarankan untuk menyiapkan perlengkapan darurat, mengamankan barang-barang berat, dan mengikuti arahan petugas keamanan setempat.

Analisis Pakar Geofisika

Wilayah Papua terletak di pinggiran batas lempeng Indo-Australia yang menukik ke bawah lempeng Pasifik, menciptakan zona subduksi yang sangat aktif. Patahan utama yang memengaruhi area Abepura antara lain Patahan Mamberamo‑Bintuni dan sistem patahan mikro yang menghubungkan zona subduksi dengan zona transform di Pulau New Guinea. Sejarah gempa di wilayah ini menunjukkan frekuensi kejadian magnitude 5–6 setiap beberapa tahun, dengan contoh signifikan pada gempa M6,2 di Papua pada tahun 2019 yang menimbulkan kerusakan struktural di beberapa desa.

Potensi tsunami dari gempa M5,6 ini relatif rendah karena kedalaman hiposenter yang diperkirakan berada di bawah 30 km dan gerakan tektonik yang lebih dominan lateral daripada vertikal. Namun, BMKG tetap mengeluarkan peringatan dini tsunami selama 30 menit pertama sebagai langkah pencegahan standar. Gempa susulan (aftershock) biasanya muncul dalam rentang waktu 24–72 jam dengan magnitudo menurun, namun tidak menutup kemungkinan terjadinya gempa sekunder yang lebih kuat bila terjadi pergeseran pada patahan utama.

Secara ilmiah, pemantauan kontinu menggunakan jaringan seismometer lokal dan satelit GPS sangat penting untuk mendeteksi deformasi permukaan yang dapat mengindikasikan akumulasi stres tektonik. Data terbaru menunjukkan pergerakan perlahan lempeng sebesar 2–3 cm per tahun di sekitar Papua, yang secara kumulatif dapat memicu gempa lebih besar dalam skala dekade. Oleh karena itu, kesiapsiagaan masyarakat dan peningkatan standar bangunan tahan gempa menjadi kunci mitigasi risiko di wilayah rawan seismik ini.

Meow! Tanya Nesi!
😸