Fenomena 'Lapar' Kredit: Saat Pinjol dan Paylater Jadi Penyelamat Likuiditas Masyarakat

Ekonomi & Pasar
Hendra GunawanHendra Gunawan
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Fenomena 'Lapar' Kredit: Saat Pinjol dan Paylater Jadi Penyelamat Likuiditas Masyarakat
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Pembiayaan non-bank (Pinjol, Paylater, Pegadaian) mengalami lonjakan pertumbuhan signifikan, dengan Pegadaian tumbuh tertinggi mencapai 50,73% (yoy).
  • Sektor perbankan masih mendominasi pangsa pasar kredit nasional sebesar 90,10% dengan pertumbuhan kredit investasi yang kuat di angka 25,13%.
  • OJK memastikan risiko kredit digital tetap terkendali dengan rasio risiko pinjol berada di level 4,32% per Juli 2026.

Kebutuhan masyarakat Indonesia terhadap akses pendanaan cepat kini tidak lagi hanya bergantung pada pintu bank. Data terbaru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan tren pergeseran perilaku konsumen yang semakin menggandrungi pembiayaan alternatif, mulai dari pinjaman daring (pinjol), buy now pay later (BNPL), hingga pergadaian.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengungkapkan bahwa sektor pergadaian mencatatkan lonjakan paling fantastis, yakni tumbuh 50,73% secara tahunan (yoy) per Juli 2026. Tidak ketinggalan, instrumen digital juga melesat; pinjol tumbuh 24,76%, sementara BNPL perbankan naik 31,22% dan BNPL perusahaan pembiayaan melonjak tajam hingga 54,65%.

Meski penetrasi kredit digital tumbuh agresif, OJK mengklaim kualitas aset tetap terjaga. Rasio risiko kredit pinjol tercatat berada pada level 4,32%, sebuah angka yang menunjukkan manajemen risiko masih dalam koridor aman.

Namun, jika melihat peta besar Sektor Jasa Keuangan, bank umum tetap menjadi raksasa yang tak tergoyahkan dengan penguasaan pasar mencapai 90,10%. Pertumbuhan kredit perbankan sendiri mencatatkan angka 13,58% (yoy), yang didorong kuat oleh kredit investasi (25,13%) dan kredit modal kerja (11,04%). Hal ini memberikan sinyal positif bahwa dunia usaha, terutama UMKM, mulai kembali ekspansif.

Analisis Pakar

Sebagai pengamat ekonomi makro, saya melihat fenomena ini sebagai pedang bermata dua. Di satu sisi, lonjakan pertumbuhan pada sektor non-bank—terutama Paylater dan Pinjol—menunjukkan bahwa inklusi keuangan digital telah berhasil menjangkau segmen unbankable. Namun, kita harus kritis melihat motif di baliknya: apakah ini merupakan bentuk produktivitas ekonomi atau sekadar strategi bertahan hidup (survival mechanism) masyarakat dalam menghadapi tekanan biaya hidup yang meningkat?

Pertumbuhan BNPL yang mencapai 54,65% di perusahaan pembiayaan sangat mengkhawatirkan jika didorong oleh konsumsi impulsif. Ada risiko terciptanya 'gelembung utang' di level rumah tangga. Ketika masyarakat terbiasa dengan kemudahan kredit jangka pendek untuk konsumsi, daya beli riil jangka panjang bisa tergerus karena sebagian besar pendapatan habis hanya untuk membayar cicilan dan bunga yang relatif lebih tinggi dibandingkan kredit bank.

Di sisi lain, pertumbuhan kredit investasi perbankan yang mencapai 25,13% adalah kabar baik yang sesungguhnya. Ini menandakan adanya optimisme dari pelaku usaha untuk melakukan ekspansi kapasitas produksi. Jika kredit investasi ini benar-benar mengalir ke sektor riil dan UMKM, maka pertumbuhan ekonomi kita akan memiliki fondasi yang lebih kokoh daripada sekadar pertumbuhan yang didorong oleh konsumsi berbasis utang digital.

Saran saya bagi regulator adalah memperketat pengawasan terhadap credit scoring di sektor fintech. Jangan sampai kemudahan akses justru menjadi jebakan utang sistemik. OJK perlu memastikan bahwa pertumbuhan double digit ini dibarengi dengan literasi keuangan yang mumpuni, agar masyarakat tidak terjebak dalam siklus gali lubang tutup lubang yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi makro di masa depan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Mengapa masyarakat lebih memilih Paylater dan Pinjol dibandingkan kredit bank?
A: Karena proses pengajuan yang jauh lebih cepat, syarat dokumen yang minimal, dan aksesibilitas digital yang bisa dilakukan kapan saja tanpa perlu tatap muka.

Q: Apakah pertumbuhan kredit investasi di bank menunjukkan ekonomi membaik?
A: Ya, karena kredit investasi digunakan untuk pengadaan aset tetap atau ekspansi usaha, yang mengindikasikan adanya optimisme pelaku usaha terhadap prospek pasar ke depan.

Q: Berapa risiko kredit pinjol saat ini menurut OJK?
A: Per Juli 2026, rasio risiko kredit pinjol berada pada level 4,32%, yang dinilai masih dalam kategori terjaga.

Meow! Tanya Nesi!
😸