Ambisi EBT 30% di 2034: Investasi Meningkat, Namun Mengapa Masih Melandai?

Ekonomi & Pasar
Siti AmaliaSiti Amalia
Siti Amalia
Siti Amalia
Analis Finansial

Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Ambisi EBT 30% di 2034: Investasi Meningkat, Namun Mengapa Masih Melandai?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Kementerian ESDM menargetkan bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) mencapai 30% pada tahun 2034.
  • Capaian saat ini berada di kisaran 17,3%, dengan kapasitas terpasang meningkat menjadi 16,32 GW.
  • Pemerintah mengakui tren investasi EBT masih melandai dan berupaya memangkas regulasi untuk menarik investor.

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian ESDM tengah berpacu dengan waktu untuk mengejar target bauran Energi Baru dan Terbarukan (EBT) sebesar 30 persen pada tahun 2034. Meski menunjukkan tren positif, perjalanan menuju transisi energi hijau ini masih menghadapi tantangan struktural yang cukup signifikan.

Direktur Jenderal EBTKE, Eniya Listiani Dewi, mengungkapkan bahwa realisasi bauran energi nasional saat ini berada di angka 17,3 persen pada semester ini, setelah sebelumnya sempat menyentuh 18,3 persen pada triwulan lalu. Dalam kebijakan strategis nasional, pemerintah mematok target antara 17 hingga 21 persen sebagai batu loncatan menuju target besar 2034.

Dari sisi infrastruktur, terdapat pertumbuhan kapasitas terpasang yang konsisten. Jika pada 2021 kapasitas EBT hanya berada di angka 12 gigawatt (GW), kini angka tersebut telah merangkak naik menjadi 16,32 GW. Namun, Eniya memberikan catatan kritis bahwa meskipun investasi naik, pertumbuhannya cenderung melandai.

Komposisi EBT saat ini masih didominasi oleh sektor non-listrik seperti biodiesel (FAME) sebesar 5,01 persen dan biomassa 2,82 persen. Sementara di sektor kelistrikan, bioenergi memimpin dengan 4,19 persen, diikuti tenaga air, panas bumi, surya, dan bayu. Untuk mengakselerasi pertumbuhan ini, pemerintah berkomitmen memangkas birokrasi dan mempercepat investasi EBT melalui penyederhanaan regulasi ekosistem energi.

Analisis Pakar

Sebagai pengamat ekonomi makro, saya melihat ada diskoneksi yang cukup mengkhawatirkan antara target ambisius pemerintah dengan realitas di lapangan. Angka 30% pada 2034 bukanlah target yang mudah dicapai jika kita hanya mengandalkan pertumbuhan organik yang 'melandai'. Kenaikan kapasitas dari 12 GW ke 16,32 GW dalam tiga tahun memang positif, namun secara proporsional, ini belum cukup untuk mengimbangi pertumbuhan permintaan listrik nasional yang terus meningkat seiring dengan industrialisasi dan hilirisasi.

Masalah utama yang saya tangkap adalah kata 'melandai' yang disebutkan oleh Dirjen EBTKE. Dalam dunia investasi, tren melandai adalah sinyal merah. Ini mengindikasikan bahwa insentif yang ada saat ini kurang menarik bagi investor swasta, atau ada risiko regulasi (regulatory risk) yang membuat modal besar masih ragu untuk masuk. Kita tidak bisa hanya mengandalkan 'penyederhanaan regulasi' di atas kertas; investor membutuhkan kepastian harga (feed-in tariff) yang kompetitif dan skema pengembalian modal yang jelas, terutama untuk proyek skala besar seperti panas bumi dan tenaga surya.

Selain itu, ketergantungan yang tinggi pada sektor non-listrik (seperti biodiesel) untuk mendongkrak angka bauran EBT adalah strategi yang berisiko. Kita harus berani mendorong transformasi fundamental pada sektor kelistrikan. Tenaga surya dan bayu yang kontribusinya masih di bawah 1% menunjukkan bahwa penetrasi teknologi energi bersih di Indonesia masih sangat lambat. Tanpa adanya reformasi pada struktur pasar listrik dan pengurangan subsidi energi fosil secara bertahap, EBT akan selalu kalah bersaing secara ekonomi.

Kesimpulannya, target 2034 hanya akan menjadi angka di atas kertas jika pemerintah tidak segera melakukan terobosan radikal dalam menciptakan ekosistem investasi. Indonesia perlu beralih dari sekadar 'memfasilitasi' menjadi 'mengakselerasi' dengan memberikan jaminan risiko investasi yang lebih kuat. Jika tren investasi tetap melandai, target 30% tersebut akan menjadi beban fiskal dan reputasi internasional Indonesia dalam komitmen perubahan iklim.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Berapa target bauran EBT Indonesia tahun 2034?
A: Pemerintah menargetkan bauran Energi Baru dan Terbarukan (EBT) mencapai 30 persen pada tahun 2034.

Q: Apa sumber EBT terbesar di Indonesia saat ini?
A: Dari sektor non-listrik, biodiesel (FAME) memberikan kontribusi terbesar (5,01%), sedangkan di sektor listrik, bioenergi menjadi penyumbang utama (4,19%).

Q: Mengapa investasi EBT di Indonesia disebut melandai?
A: Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun ada peningkatan modal yang masuk, kecepatan pertumbuhannya menurun, yang kemungkinan disebabkan oleh hambatan regulasi atau kurangnya insentif yang menarik bagi investor.

Meow! Tanya Nesi!
😸