500 Hektare Gunung Lakawan Hangus, BPBD Enrekang Akui Tak Berdaya Hadapi Medan Ekstrem

Berita Daerah
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

500 Hektare Gunung Lakawan Hangus, BPBD Enrekang Akui Tak Berdaya Hadapi Medan Ekstrem
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Kebakaran hutan dan lahan di Gunung Lakawan, Enrekang, telah menghanguskan sekitar 500 hektare dan merambat ke kebun bawang merah warga sejak Senin (31/8).
  • Tim gabungan BPBD, TNI, dan Polri kesulitan memadamkan api akibat medan terjal, akses jalan putus, serta ancaman bebatuan panas yang jatuh dari tebing.
  • Sepanjang 2026 tercatat 24 kasus karhutla di Enrekang, namun penyebab pasti kebakaran terbaru ini belum dipastikan apakah akibat kemarau, El Nino, atau faktor manusia.

ENREKANG – Bencana ekologis kembali melanda Sulawesi Selatan. Gunung Lakawan di Kabupaten Enrekang kini dalam kondisi kritis setelah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menghanguskan kurang lebih 500 hektare wilayah. Insiden yang bermula pada Senin malam (31/8) ini tidak hanya mengancam ekosistem pegunungan, tetapi juga telah merambat ke area produktif milik warga, khususnya kebun bawang merah yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Enrekang, Amiruddin, mengonfirmasi luas dampak bencana tersebut pada Rabu (2/9). Meskipun tim gabungan yang terdiri dari personel BPBD, Polri, dan TNI telah diterjunkan, upaya pemadaman berjalan sangat lambat. Kendala utama terletak pada topografi ekstrem; lokasi kebakaran berada di medan terjal yang tidak dapat dijangkau kendaraan operasional, ditambah risiko keselamatan tinggi akibat material batuan panas yang terus berjatuhan dari atas tebing.

Kepala BPBD Enrekang, Syamsul Bahri, mengungkapkan bahwa akses menuju titik api semakin parah karena putusnya jalur penghubung. Armada pemadam kebakaran pun tak mampu menembus lokasi, memaksa petugas dan warga melakukan pemadaman manual dengan risiko besar. "Tebing tinggi dan terjal menjadi penghalang memadamkan api dengan jarak dekat. Bebatuan panas yang jatuh menjadi ancaman membahayakan bagi petugas dan warga," tegasnya.

Data yang dihimpun menunjukkan tren mengkhawatirkan. Sepanjang tahun 2026, karhutla Enrekang telah terjadi sebanyak 24 kali, termasuk insiden di Gunung Lakawan ini. Terkait penyebab, otoritas setempat belum dapat menyimpulkan secara definitif apakah pemicunya adalah anomali iklim seperti El Nino, kekeringan musiman, atau kelalaian manusia seperti pembakaran lahan dan buang puntung rokok sembarangan. Ketidakpastian ini menandakan lemahnya deteksi dini dan investigasi awal di lapangan.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi yang telah lama mengamati pola bencana lingkungan di Indonesia, saya melihat kasus Gunung Lakawan ini bukan sekadar peristiwa alamiah, melainkan cerminan dari kegagalan sistemik manajemen mitigasi bencana daerah. Pernyataan pejabat BPBD yang masih "menduga-duga" penyebab kebakaran—apakah karena El Nino atau ulah manusia—setelah api melalap 500 hektare adalah indikator buruknya respons intelijen lingkungan. Dalam manajemen bencana modern, identifikasi penyebab harus dilakukan paralel dengan pemadaman, bukan menunggu api padam. Keterlambatan ini membuka ruang impunitas bagi pelaku pembakaran lahan jika memang ada unsur kesengajaan, sekaligus menghambat penentuan status darurat yang tepat.

Selain itu, narasi "medan terjal" dan "jalan putus" yang berulang kali dijadikan alasan ketidakmampuan memadamkan api perlu dikritisi secara tajam. Enrekang adalah wilayah pegunungan yang secara geografis memang rentan; seharusnya, ketangguhan infrastruktur dan peralatan pemadaman disesuaikan dengan karakteristik topografi tersebut. Mengandalkan pemadaman manual di era teknologi drone dan helikopter water bombing menunjukkan kesenjangan kapasitas yang fatal. Jika 24 kejadian karhutla sudah terjadi sepanjang 2026, pertanyaannya adalah: apa yang telah dipelajari pemerintah daerah dari 23 kejadian sebelumnya? Apakah ada evaluasi strategis, atau hanya siklus reaktif yang berulang setiap musim kemarau?

Dampak ekonomi dari kebakaran ini juga sering terpinggirkan dalam pemberitaan resmi. Ketika api merambat ke kebun bawang merah, kita sedang menyaksikan ancaman langsung terhadap ketahanan pangan dan pendapatan petani kecil. Kerugian ekologis 500 hektare hutan mungkin bisa pulih dalam puluhan tahun, namun kebangkrutan petani akibat gagal panen bisa memicu krisis sosial seketika. Pemerintah daerah tidak boleh hanya fokus pada statistik luas lahan terbakar, tetapi wajib segera merilis skema kompensasi atau pemulihan ekonomi bagi warga terdampak. Tanpa intervensi ekonomi yang cepat, tekanan untuk membuka lahan baru pasca-bencana justru akan memperparah deforestasi di masa depan.

Terakhir, transparansi data dan komunikasi publik dalam kasus ini masih minim. Masyarakat berhak mengetahui peta sebaran api secara real-time, prediksi arah angin, dan zonasi evakuasi, bukan hanya angka agregat luas lahan. Ketidakjelasan informasi berpotensi menimbulkan panik atau sebaliknya, apatisme warga terhadap peringatan dini. Sebagai pilar keempat demokrasi, pers dan masyarakat sipil harus terus mendesak agar penanganan karhutla di Enrekang tidak berhenti pada seremonial pemadaman, tetapi masuk ke ranah audit kebijakan tata ruang dan penegakan hukum lingkungan yang tegas.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Berapa luas lahan yang terbakar di Gunung Lakawan Enrekang?
A: Berdasarkan data BPBD Enrekang per 2 September 2026, luas lahan yang terbakar mencapai kurang lebih 500 hektare.

Q: Mengapa proses pemadaman kebakaran di Gunung Lakawan sulit dilakukan?
A: Pemadaman terkendala oleh medan yang sangat terjal, akses jalan yang putus sehingga armada damkar tidak bisa masuk, serta bahaya bebatuan panas yang jatuh dari tebing yang mengancam keselamatan petugas.

Q: Apa penyebab kebakaran hutan di Gunung Lakawan Enrekang?
A: Penyebab pasti belum dikonfirmasi secara resmi. Pihak BPBD menyebutkan kemungkinan faktor kekeringan musim kemarau, dampak El Nino, atau aktivitas manusia seperti pembersihan lahan dan membuang puntung rokok sembarangan.

Meow! Tanya Nesi!
😸