Senin, 2 November 2026 โ˜ผJakarta 29ยฐC
berita hari ini.

Gempa Magnitudo 5,6 Guncang Tenggara Maba Maluku Utara, BMKG Pastikan Tidak Berpotensi Tsunami

BencanaBudi SantosoBudi SantosoSumber: EarthquakeBot
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Gempa Magnitudo 5,6 Guncang Tenggara Maba Maluku Utara, BMKG Pastikan Tidak Berpotensi Tsunami
BAGIKAN:

Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 5,6 mengguncang wilayah tenggara Maba, Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara, pada Selasa (1/9/2026) pukul 11:22:20 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa pusat gempa berada di laut, namun berdasarkan pemodelan matematis, aktivitas seismik ini dipastikan tidak memiliki potensi untuk memicu gelombang tsunami di sepanjang pesisir Maluku Utara maupun wilayah sekitarnya.

Berdasarkan data parameter seismisitas, episenter gempa bumi terletak pada koordinat lepas pantai berjarak sekitar 82 kilometer arah tenggara Maba dengan kedalaman hiposenter yang dikategorikan dangkal hingga menengah. Guncangan gempa dilaporkan dirasakan oleh masyarakat di wilayah Halmahera Timur dan sebagian Halmahera Tengah dengan skala intensitas II-III MMI (Modified Mercalli Intensity). Pada skala ini, getaran dirasakan nyata di dalam rumah seakan-akan ada truk berat yang sedang melintas, membuat sebagian warga sempat keluar rumah untuk menyelamatkan diri.

Hingga laporan ini diturunkan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat belum menerima laporan resmi mengenai adanya kerusakan infrastruktur vital maupun korban jiwa akibat guncangan tersebut. Kendati demikian, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa, serta selalu memverifikasi informasi dari kanal resmi pemerintah guna menghindari kepanikan akibat berita bohong (hoaks).

Analisis Pakar Geofisika

Secara tektonik, wilayah Halmahera dan Laut Maluku merupakan salah satu kawasan dengan kompleksitas geologi paling aktif dan dinamis di dunia. Gempa bumi berkekuatan M 5,6 di tenggara Maba ini dipicu oleh aktivitas deformasi batuan di dalam lempeng (intraplate earthquake) atau akibat aktivitas sesar aktif lokal yang berasosiasi dengan zona subduksi ganda Laut Maluku (Molucca Sea Double Subduction). Di kawasan ini, Lempeng Laut Maluku tersubduksi ke dua arah sekaligus: ke barat di bawah Busur Sangihe dan ke timur di bawah Busur Halmahera, menciptakan akumulasi tegangan (stress) tektonik yang sangat tinggi secara terus-menerus.

Sejarah kegempaan (seismisitas historis) menunjukkan bahwa kawasan Halmahera telah berulang kali diguncang gempa kuat, baik yang bersifat merusak di darat maupun yang memicu tsunami lokal di laut. Namun, untuk gempa kali ini, magnitudo 5,6 tidak memiliki energi kinetik yang cukup besar untuk melakukan deformasi vertikal dasar laut secara masif. Secara teoritis, tsunami hanya akan terbentuk jika gempa bumi memiliki magnitudo minimal 7,0, berpusat di laut dangkal (kedalaman kurang dari 70 km), dan memiliki mekanisme sesar naik (thrust fault) atau sesar turun (normal fault) yang signifikan.

Meskipun tidak berpotensi tsunami, proses pelepasan energi (stress release) pada batuan di sekitar episenter masih akan terus berlangsung. Oleh karena itu, kemunculan gempa bumi susulan (aftershocks) dengan magnitudo yang lebih kecil sangat wajar terjadi hingga sistem patahan tersebut mencapai kesetimbangan tektonik yang baru. Masyarakat diimbau untuk tidak menempati bangunan yang strukturnya sudah melemah akibat guncangan utama guna menghindari risiko runtuhan.

Meow! Tanya Nesi!
๐Ÿ˜ธ