Langit Palangka Raya 'Disandera' Asap: Mengapa Karhutla Terus Melumpuhkan Penerbangan Kita?

Berita Daerah
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Langit Palangka Raya 'Disandera' Asap: Mengapa Karhutla Terus Melumpuhkan Penerbangan Kita?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melumpuhkan aktivitas penerbangan di Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya.
  • Jarak pandang yang merosot tajam di bawah ambang batas aman memaksa maskapai membatalkan jadwal penerbangan demi keselamatan penumpang.
  • Krisis tahunan yang terus berulang ini memicu kritik tajam terhadap lambatnya mitigasi bencana dan lemahnya penegakan hukum terhadap pelaku pembakar lahan.

Bencana tahunan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menunjukkan taringnya di Kalimantan Tengah. Kali ini, kelumpuhan total menghantam sektor transportasi udara di Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya. Akibat jarak pandang yang merosot tajam dan membahayakan keselamatan penerbangan, sejumlah maskapai terpaksa mengambil keputusan pahit: membatalkan jadwal penerbangan mereka.

Kondisi ini bukan sekadar gangguan teknis, melainkan tamparan keras bagi kesiapan mitigasi bencana di daerah. Kabut asap pekat yang menyelimuti wilayah Palangka Raya membuat jarak pandang berada jauh di bawah standar keselamatan penerbangan sipil. Penumpang yang telantar di bandara hanya bisa pasrah menghadapi situasi yang terus berulang setiap musim kemarau tiba tanpa ada solusi permanen dari pemangku kebijakan.

Otoritas bandara mengonfirmasi bahwa pembatalan ini terpaksa dilakukan demi menghindari risiko fatal di udara. Namun, di balik alasan keselamatan tersebut, ada kerugian ekonomi yang masif dan isolasi wilayah yang perlahan mencekik aktivitas masyarakat Kalimantan Tengah akibat bencana karhutla yang tak kunjung padam.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis yang telah mengawal isu lingkungan selama puluhan tahun, saya melihat kelumpuhan di Bandara Tjilik Riwut ini bukan lagi sekadar 'bencana alam', melainkan kegagalan sistemik yang dipelihara. Setiap tahun kita disuguhi retorika yang sama dari pemerintah tentang komitmen penanggulangan karhutla, namun setiap tahun pula rakyat Kalimantan Tengah dipaksa menghirup racun dan terisolasi karena jalur udara yang lumpuh. Ini adalah bentuk pembiaran yang nyata.

Pendekatan penanganan karhutla di Indonesia masih sangat reaktif, bukan preventif. Pemerintah dan aparat penegak hukum tampak gagap ketika api sudah membesar, sibuk melakukan bom air (water bombing) yang memakan biaya triliunan rupiah, sementara akar masalahnya—yaitu pembukaan lahan dengan cara membakar oleh korporasi nakal dan spekulan tanah—tidak pernah diberantas hingga ke akarnya. Sanksi administratif yang lembek tidak akan pernah memberikan efek jera.

Dampak dari lumpuhnya penerbangan ini sangat luar biasa. Secara ekonomi, mobilitas bisnis terhenti, logistik terhambat, dan citra investasi kita di mata internasional kian terpuruk. Lebih jauh lagi, ada tragedi kemanusiaan yang tidak terhitung nilainya: kesehatan generasi muda kita yang digadaikan demi keserakahan segelintir pihak yang meraup untung dari pembakaran lahan gambut.

Sudah saatnya pemerintah mengambil langkah radikal. Cabut izin konsesi perusahaan yang di lahannya ditemukan titik api, tanpa pandang bulu. Jika negara terus-menerus kalah oleh asap dan para pembakar hutan, maka kita sedang berjalan menuju kebangkrutan ekologis yang tidak akan pernah bisa kita bayar kembali.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Mengapa penerbangan di Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya dibatalkan?
A: Pembatalan dilakukan karena kabut asap pekat akibat karhutla menurunkan jarak pandang (visibility) di bawah batas aman minimum yang diizinkan untuk aktivitas lepas landas dan pendaratan pesawat.

Q: Apa dampak ekonomi dari pembatalan penerbangan akibat karhutla ini?
A: Dampaknya meliputi kerugian finansial langsung bagi maskapai dan penumpang, terganggunya rantai pasok logistik, serta penurunan aktivitas bisnis dan pariwisata di wilayah Kalimantan Tengah.

Q: Bagaimana solusi jangka panjang untuk mengatasi gangguan penerbangan akibat asap karhutla?
A: Solusi jangka panjangnya adalah penegakan hukum pidana yang tegas bagi korporasi pembakar lahan, restorasi lahan gambut secara masif, serta peningkatan teknologi navigasi bandara agar tetap dapat beroperasi dalam kondisi jarak pandang terbatas.

Meow! Tanya Nesi!
😸