China dan Rusia Tolak Sanksi AS: Dampak Besar bagi Iran dan Sistem Keuangan Global
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Amerika Serikat mengumumkan sanksi ekonomi total terhadap Iran, menargetkan sektor keuangan, energi, dan transportasi.
- China dan Rusia menolak ikut serta, menyebut sanksi itu melanggar hukum internasional dan Piagam PBB.
- Para pengamat memperingatkan bahwa kebijakan ini dapat mengguncang pasar energi dunia dan memperdalam fragmentasi sistem keuangan global.
Presiden Donald Trump menegaskan pada 20 Agustus lewat platform Truth Social bahwa sanksi baru ini akan menjadi "perang ekonomi paling menghancurkan" yang pernah terjadi, dengan ancaman konsekuensi berat bagi negaraānegara yang tetap melakukan transaksi dengan Tehran. Kebijakan tersebut bertujuan menciptakan isolasi total terhadap Iran, memutuskan aksesnya ke lembaga keuangan internasional, bandara, serta perusahaan multinasional.
Namun, respons dari dua sekutu strategis Iran, China dan Rusia, sangat tegas. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menyatakan bahwa kerja sama Beijing dengan Tehran berada dalam kerangka hukum internasional dan tidak boleh diganggu. Ia menambahkan bahwa sanksi sekunder AS dianggap "sepihak, ilegal, dan tanpa otorisasi Dewan Keamanan PBB," serta berpotensi mengganggu tatanan keuangan global.
Rusia, melalui juru bicara Maria Zakharova, mengumumkan kesiapan Moskow untuk berkoordinasi dengan Iran dan negaraānegara lain yang berkepentingan dalam menanggapi apa yang disebutnya sebagai "tekanan tidak sah". Zakharova menyoroti dampak geopolitik dari eskalasi militer AS dan Israel terhadap Iran, yang menurutnya telah memengaruhi pasar energi duniaāsekitar satu per lima pasokan minyak dan sepertiga pasokan gas diperkirakan terdampak.
Ketegangan ini menambah kompleksitas hubungan internasional di tengah persaingan geopolitik yang semakin tajam. Sementara Washington berupaya memaksa perubahan perilaku Tehran melalui tekanan ekonomi, Beijing dan Moskow tampaknya memilih jalur diplomasi alternatif, memperkuat jaringan perdagangan energi yang berada di luar sistem keuangan Barat.
Analisis Pakar
Penolakan China dan Rusia terhadap sanksi AS bukan sekadar sikap politik simbolis; ia mencerminkan upaya jangka panjang kedua negara untuk membangun infrastruktur keuangan alternatif, seperti sistem pembayaran berbasis blockchain dan jaringan clearing yang tidak tergantung pada SWIFT. Jika sanksi ini berhasil menutup akses Iran ke pasar keuangan Barat, Tehran kemungkinan akan memperdalam kemitraannya dengan Beijing dan Moskow, mempercepat pergeseran aliran modal ke jalur yang lebih terdesentralisasi.
Dari perspektif ekonomi global, kebijakan Washington dapat menimbulkan efek domino pada harga energi. Pengurangan pasokan minyak dan gas Iranāyang sudah berada di bawah tekanan karena konflik regionalādapat memicu lonjakan harga komoditas, memperburuk inflasi di negaraānegara importir energi, terutama di Eropa yang tengah berusaha mengurangi ketergantungan pada energi Rusia.
Secara hukum internasional, sanksi sekunder yang tidak mendapat mandat Dewan Keamanan PBB menimbulkan pertanyaan tentang legitimasi dan konsistensi kebijakan luar negeri AS. Hal ini membuka ruang bagi negaraānegara lain untuk menolak kepatuhan, memperkuat narasi bahwa sistem sanksi multilateral sedang terfragmentasi menjadi blokāblok geopolitik yang saling bersaing.
Ke depan, dinamika ini dapat mempercepat pembentukan blok ekonomi baru yang berpusat pada Asia dan Eurasia, dengan China dan Rusia sebagai motor utama. Bagi Iran, kemampuan untuk mengakses pasar alternatif akan menjadi faktor kunci dalam mempertahankan stabilitas ekonomi domestik dan melanjutkan program nuklirnya, yang tetap menjadi titik fokus kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apakah China dan Rusia akan memberlakukan sanksi balasan terhadap AS?
A: Hingga kini, kedua negara lebih memilih menolak sanksi sekunder dan memperkuat kerja sama ekonomi dengan Iran, tanpa mengumumkan sanksi balasan langsung. - Q: Bagaimana sanksi AS dapat memengaruhi harga minyak dunia?
A: Dengan mengisolasi Iran, pasokan minyak dan gas dari negara tersebut berpotensi berkurang, yang dapat mendorong kenaikan harga energi global, terutama jika pasokan alternatif tidak segera terisi. - Q: Apakah sanksi ini memiliki dasar hukum internasional?
A: Sanksi sekunder yang dijatuhkan oleh AS tidak memiliki otorisasi Dewan Keamanan PBB, sehingga banyak pihak menganggapnya tidak memiliki legitimasi hukum internasional.


