Siasat Korlantas Rangkul Ojol Lewat 'Polantas KARIB': Solusi Riil atau Sekadar Kosmetik Jalan Raya?

Hukum
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Siasat Korlantas Rangkul Ojol Lewat 'Polantas KARIB': Solusi Riil atau Sekadar Kosmetik Jalan Raya?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Polantas KARIB resmi diluncurkan sebagai program baru Korlantas Polri untuk meningkatkan integritas dan responsivitas pelayanan lalu lintas.
  • Pengemudi ojek online (ojol) diposisikan sebagai mitra strategis dan didorong menjadi agen keselamatan jalan raya.
  • Program ini menuai sorotan kritis terkait efektivitasnya di tengah tekanan ekonomi pengemudi ojol dan rapor merah integritas aparat di lapangan.

TANGERANG SELATAN - Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri kembali meluncurkan jargon baru dalam upaya membenahi citra dan performa pelayanan publik mereka. Melalui Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas Polri) Irjen Wibowo, korps baju cokelat ini memperkenalkan program bernama Polantas KARIB.

Program ini diklaim bukan sekadar akronim tanpa makna. Menurut Wibowo, Polantas KARIB dirancang untuk melahirkan personel polisi lalu lintas yang aktif, responsif, intuitif, dan yang paling krusial: berintegritas. Pengumuman ini disampaikan di sela-sela acara Gebyar Keselamatan Lalu Lintas yang digelar di Pusdiklantas, Tangerang Selatan.

Menariknya, dalam peluncuran program ini, Korlantas membidik segmen masyarakat yang paling akrab dengan aspal jalanan: para pengemudi ojek online (ojol). Wibowo menyebut para pekerja gig ini sebagai mitra strategis yang berada di garda terdepan transportasi publik informal.

"Rekan-rekan ojol adalah mitra strategis Korlantas. Semangat kemitraan ini sangat sejalan dengan program Polantas KARIB yang ingin selalu membangun kemitraan, aktif, responsif, intuitif, dan juga berintegritas dalam melayani masyarakat," ujar Wibowo.

Lebih lanjut, Korlantas tidak hanya memberikan wejangan. Dalam acara tersebut, para pengemudi ojol dibekali dengan pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) serta teknik berkendara aman (safety riding). Wibowo berharap, setelah keluar dari Pusdiklantas, para pengemudi ojol tidak lagi sekadar menjadi peserta seremonial, melainkan bertransformasi menjadi agen keselamatan lalu lintas yang nyata di lapangan.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis yang telah mengamati dinamika kepolisian selama puluhan tahun, saya melihat peluncuran Polantas KARIB ini dengan sikap optimisme yang sangat hati-hati, bahkan cenderung skeptis. Di satu sisi, langkah merangkul komunitas ojol adalah strategi komunikasi publik yang cerdas. Ojol adalah entitas terbesar di jalan raya urban saat ini. Namun, menjadikannya sebagai 'tameng' kampanye keselamatan tanpa menyentuh akar masalah kesejahteraan mereka adalah sebuah simplifikasi yang berbahaya.

Mari kita bicara jujur. Mengapa pelanggaran lalu lintas oleh ojol begitu masif? Jawabannya bukan semata-mata karena mereka tidak tahu cara berkendara yang aman, melainkan karena tekanan sistemik algoritma aplikator yang memaksa mereka berkejaran dengan waktu demi mengejar target harian yang kian mencekik. Ketika Korlantas meminta mereka menjadi 'pelopor keselamatan', ada kontradiksi nyata antara tuntutan perut dan tuntutan hukum di jalan raya. Tanpa adanya regulasi yang membenahi sistem tarif dan beban kerja ojol, pelatihan safety riding ini hanya akan menjadi kosmetik yang cepat luntur oleh kerasnya aspal jalanan.

Selain itu, aspek 'Berintegritas' dalam akronim KARIB adalah pekerjaan rumah terbesar Polri yang belum selesai. Publik sudah terlanjur skeptis dengan penegakan hukum lalu lintas yang kerap diwarnai praktik transaksional di lapangan. Menuntut masyarakat atau ojol untuk tertib, sementara oknum aparat sendiri masih sering mempertontonkan tebang pilih dalam penegakan hukum, adalah sebuah ironi. Integritas tidak bisa dibangun hanya dengan meluncurkan program baru di atas panggung seremonial; ia harus dibuktikan dengan reformasi internal yang radikal dan pembersihan oknum-oknum nakal secara transparan.

Pada akhirnya, kita harus mengawal apakah Polantas KARIB ini akan benar-benar mengubah kultur pelayanan kepolisian di jalan raya, ataukah ini hanya akan berakhir sebagai program musiman yang meredup setelah masa jabatan pejabatnya usai. Kemitraan dengan ojol harus diletakkan dalam koridor kolaborasi yang adil, bukan sekadar memindahkan beban tanggung jawab ketertiban jalan raya dari pundak aparat ke pundak para pekerja informal yang sudah cukup terbebani oleh kerasnya hidup.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Apa sebenarnya inti dari program Polantas KARIB yang baru diluncurkan?
A: Polantas KARIB adalah program Korlantas Polri yang menekankan perubahan kultur pelayanan polisi lalu lintas agar lebih Aktif, Responsif, Intuitif, dan Berintegritas dalam melayani masyarakat.

Q: Mengapa pengemudi ojol dilibatkan secara khusus dalam program ini?
A: Pengemudi ojol dianggap sebagai mitra strategis karena mereka menghabiskan sebagian besar waktu mereka di jalan raya dan memiliki jaringan komunitas yang kuat, sehingga diharapkan efektif menjadi agen pelopor keselamatan berkendara.

Q: Pelatihan apa saja yang didapatkan oleh para pengemudi ojol dalam program ini?
A: Para pengemudi ojol mendapatkan pelatihan Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD) untuk menangani kecelakaan di jalan, serta pelatihan berkendara aman (safety riding) untuk meningkatkan keterampilan berkendara mereka.

Meow! Tanya Nesi!
😸