Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Gempa M5,3 Guncang Laut Flores: Pusat Gempa 54 km NNE Labuan Bajo, Potensi Tsunami Diperiksa

BencanaBudi SantosoBudi SantosoSumber: EarthquakeBot
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Gempa M5,3 Guncang Laut Flores: Pusat Gempa 54 km NNE Labuan Bajo, Potensi Tsunami Diperiksa
BAGIKAN:

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,3 mengguncang wilayah 54 km NNE Labuan Bajo, Nusa Tenggara Barat pada 27 Agustus 2026 pukul 13:33 WIB, menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Kedalaman gempa tercatat pada 10 kilometer, menandakan pergerakan tektonik yang relatif dangkal.

Menurut laporan saksi mata, getaran terasa di Labuan Bajo dan beberapa desa pesisir sekitarnya, namun tidak ada laporan kerusakan struktural signifikan atau korban jiwa hingga saat ini. Tim SAR dan petugas BPBD setempat telah melakukan inspeksi lapangan, memastikan tidak ada bangunan yang mengalami keruntuhan atau kebocoran gas.

BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami setempat selama 30 menit setelah gempa, namun gelombang laut yang terdeteksi berada di bawah ambang peringatan (kurang dari 0,5 meter). Pusat gempa berada di zona subduksi Indo‑Australia yang menukik ke bawah lempeng Eurasia, sehingga potensi tsunami tetap dipantau secara intensif oleh otoritas maritim. Sebagai contoh, gempa M 4,8 Guncang 84 km NNE Labuan Bajo juga menunjukkan potensi tsunami yang dipantau secara ketat.

Sejumlah gempa dengan magnitudo serupa pernah terjadi di wilayah Flores dalam dekade terakhir, termasuk gempa M6,1 pada Januari 2020 yang menimbulkan kerusakan terbatas di daerah Lombok Utara. Aktivitas seismik di zona ini dipengaruhi oleh patahan Flores Back‑Arc Thrust serta sesar-sesar sekunder yang menghubungkan lempeng utama dengan blok‑blok mikro di Pulau Flores.

Analisis Pakar Geofisika

Wilayah NNE Labuan Bajo terletak di sepanjang zona patahan Flores Back‑Arc Thrust, sebuah sistem sesar yang terbentuk akibat subduksi lempeng Indo‑Australia di bawah lempeng Eurasia. Patahan ini berorientasi barat‑timur dan memiliki kecenderungan slip thrust, yang berarti pergerakan vertikal dominan. Sejarah geologis menunjukkan bahwa zona ini telah menghasilkan gempa berkekuatan 5‑6 secara periodik, dengan interval rata‑rata 3‑5 tahun. Pada tahun 2018, gempa M6,9 di Lombok menimbulkan tsunami kecil, sementara pada 2021 gempa M6,2 di Pulau Flores menimbulkan kerusakan struktural pada beberapa rumah tradisional.

Gempa M5,3 kali ini terjadi pada kedalaman dangkal, sehingga energi yang dilepaskan lebih banyak terasa di permukaan, namun tidak cukup kuat untuk memicu tsunami signifikan. Namun, karena kedalaman yang dangkal, probabilitas terjadinya gempa susulan (aftershock) dalam 24‑48 jam ke depan cukup tinggi, dengan magnitudo potensial mencapai 4,5‑5,0. BMKG terus memantau pola seismik menggunakan jaringan seismometer lokal dan satelit GPS untuk mendeteksi pergeseran lempeng yang dapat mempercepat aktivitas tektonik.

Secara ilmiah, wilayah ini tetap berada dalam zona risiko tinggi. Masyarakat disarankan untuk tetap waspada, mengikuti prosedur evakuasi jika peringatan tsunami dikeluarkan, dan memperkuat bangunan sesuai standar tahan gempa. Pemerintah daerah bersama BMKG akan memperbaharui peta bahaya gempa dan tsunami dalam beberapa minggu ke depan, guna meningkatkan kesiapsiagaan komunitas pesisir.

Meow! Tanya Nesi!
😸