Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Gempa M 4,7 Guncang Ruteng, BMKG Pantau Potensi Susulan

BencanaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: EarthquakeBot
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Gempa M 4,7 Guncang Ruteng, BMKG Pantau Potensi Susulan
BAGIKAN:

BMKG mencatat gempa bumi berkekuatan magnitude 4,7 terjadi pada 26 Agustus 2026 pukul 21:34:58 WIB di kedalaman 10 kilometer, berpusat 34 km NNE Kota Ruteng, Flores. Data awal menunjukkan pusat gempa berada di zona subduksi antara Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia.

Menurut laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tidak ada laporan kerusakan struktural maupun korban jiwa hingga saat ini. Guncangan terasa lemah di beberapa desa sekitar Ruteng, namun tidak menimbulkan kepanikan massal. Tim tanggap darurat setempat telah melakukan inspeksi lapangan untuk memastikan tidak ada dampak tersembunyi.

BMKG menegaskan bahwa gempa ini termasuk dalam kategori ringan (III pada skala intensitas Modified Mercalli) dan tidak menimbulkan potensi tsunami. Namun, otoritas mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan, terutama mengingat aktivitas tektonik yang terus berlangsung di wilayah ini.

Wilayah Flores dikenal memiliki jaringan patahan aktif, termasuk Sesar Flores dan Sesar Rote, yang berkontribusi pada frekuensi gempa moderat hingga kuat. Sejarah gempa di daerah ini mencatat beberapa peristiwa signifikan, seperti gempa magnitude 6,5 pada tahun 1992 yang menimbulkan kerusakan luas di Manggarai. Penelitian terbaru menunjukkan akumulasi stres tektonik yang masih tinggi, sehingga pemantauan berkelanjutan menjadi krusial.

Analisis Pakar Geofisika

Wilayah NNE Ruteng berada di zona transisi antara Sesar Flores yang memotong Pulau Flores secara timur-barat dan Sesar Rote yang lebih jauh ke selatan. Kedua patahan ini merupakan bagian dari sistem tektonik kompleks yang dihasilkan oleh subduksi Lempeng Indo-Australia di bawah Lempeng Eurasia. Aktivitas tektonik ini menghasilkan akumulasi energi yang dilepaskan secara periodik melalui gempa berukuran sedang hingga kuat.

Sejarah seismik menunjukkan bahwa daerah ini mengalami rata-rata 2-3 gempa magnitude 4,0–5,0 setiap tahunnya, dengan interval gempa susulan biasanya berkisar antara beberapa menit hingga beberapa hari. Meskipun gempa magnitude 4,7 tidak cukup kuat untuk memicu tsunami, analisis model tsunami menunjukkan bahwa gempa dengan magnitudo di atas 6,5 di zona ini berpotensi menghasilkan gelombang laut kecil, terutama jika terjadi di kedalaman dangkal.

Para ahli memperkirakan bahwa potensi gempa susulan setelah peristiwa ini berada pada tingkat moderat, mengingat akumulasi stres yang belum sepenuhnya terlepas. Oleh karena itu, BMKG dan LEMBAGA ILMU BUMI (LIPI) akan meningkatkan frekuensi pemantauan seismik dan memperbaharui peta risiko gempa untuk membantu pemerintah daerah dalam menyiapkan langkah mitigasi yang tepat.

Meow! Tanya Nesi!
😸