Fenomena ‘Aura Farming’ Mengguncang Plaza Publik di Amerika Latin: Dari TikTok ke Kontroversi Kota

Dunia
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Fenomena ‘Aura Farming’ Mengguncang Plaza Publik di Amerika Latin: Dari TikTok ke Kontroversi Kota
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • ‘Aura farming’ menjadi kompetisi informal di ruang publik Meksiko, Argentina, Brasil, dan Kosta Rika, menarik ratusan ribu penonton daring.
  • Acara tidak memiliki aturan resmi; penilaian didasarkan pada respons penonton dan viralitas di media sosial.
  • Para pakar menilai tren ini mencerminkan keinginan generasi muda untuk kembali berkumpul secara fisik setelah pandemi, meski menimbulkan perdebatan regulasi.

Sejak awal 2024, istilah aura farming menyebar dari video viral seorang anak Indonesia hingga menjadi aksi kolektif di Mexico City dan kota‑kota lain di Amerika Latin. Di sana, remaja menggelar "pertarungan aura" di alun‑alun, taman, atau plaza, di mana dua peserta saling menampilkan tarian singkat, gerakan berirama, dan pose yang diyakini memancarkan "aura" terkuat. Tanpa juri, aturan, atau kriteria penilaian yang baku, keberhasilan diukur dari sorakan, tepuk tangan, dan jumlah penonton yang menonton ulang video di TikTok atau Instagram.

Profesor humaniora Frederick Luis Aldama dari Universitas Texas di Austin menekankan bahwa fenomena ini bukan sekadar moda hiburan daring, melainkan manifestasi budaya publik yang sudah lama mengakar di kawasan tersebut. "Plaza, taman, dan ruang ketiga selalu menjadi tempat pertemuan sosial," ujarnya, menambahkan bahwa pertarungan aura menawarkan ruang aman bagi pemuda untuk mengekspresikan diri, menguji kreativitas, dan membangun jaringan sosial secara langsung.

Di Brasil, kreator konten Victor Gabriel Tourinho Camargo, lebih dikenal sebagai Uvitinho, menyelenggarakan turnamen di kota Suzano yang melibatkan lebih dari 200 peserta. Ia menjelaskan bahwa tujuan acara adalah "mengambil sesuatu yang populer di internet dan mewujudkannya ke dunia nyata," sekaligus menekankan nilai inklusifitas: "Ada campuran orang‑orang yang pemalu, antisosial, dan ekstrovert… mereka semua bermain bersama dan berteman."

Sementara di Buenos Aires, kreator Cieloween mengorganisir pertarungan aura di Chinatown, menekankan kebebasan gaya—dari gerakan serius hingga aksi komikal—sebagai cara membangun komunitas. "Intinya adalah bertemu orang, bersama‑sama, terhubung dengan orang‑orang yang memiliki minat yang sama," katanya.

Namun, tidak semua pihak menyambut positif. Wali Kota Cuiabá, Abílio Brunini, melarang acara serupa di ruang publik utama, mengkhawatirkan potensi gangguan ketertiban dan rasa malu bagi peserta. Meski demikian, aksi tetap berlangsung di lokasi alternatif, menandakan ketegangan antara kebebasan ekspresi budaya jalanan dan regulasi kota.

Analisis Pakar

Fenomena ‘aura farming’ menyoroti transformasi ruang publik menjadi arena performatif yang dipengaruhi oleh logika platform digital. Dari perspektif sosiologi budaya, aksi ini dapat dibaca sebagai upaya generasi Z untuk mengklaim kembali ruang ketiga—tempat pertemuan informal yang selama pandemi menjadi virtual. Dengan meniadakan struktur formal (juri, skor), mereka menegaskan nilai otentisitas yang diukur lewat respons emosional massa, bukan standar institusional.

Secara politik, keberadaan kompetisi tanpa regulasi menimbulkan pertanyaan tentang peran pemerintah kota dalam mengatur penggunaan ruang publik. Sementara beberapa otoritas menganggapnya gangguan, penolakan dapat dilihat sebagai bentuk kontrol atas ekspresi budaya yang tidak terinstitusionalisasi. Kebijakan yang terlalu represif berisiko menyingkirkan praktik kreatif yang sebenarnya dapat memperkuat kohesi sosial, terutama di wilayah dengan tradisi plaza yang kuat.

Dari sudut ekonomi kreatif, aura farming membuka peluang baru bagi industri konten lokal. Influencer seperti Uvitinho dan Cieloween memonetisasi acara melalui sponsor, penjualan merchandise, dan peningkatan follower. Namun, ketergantungan pada algoritma platform menimbulkan risiko volatilitas: popularitas dapat memudar seketika jika tren bergeser, meninggalkan pertanyaan tentang keberlanjutan ekonomi bagi pelaku.

Terakhir, fenomena ini menegaskan kembali pentingnya literasi media di kalangan muda. Memahami bahwa “aura” yang dipertunjukkan adalah konstruksi visual yang dirancang untuk viralitas membantu mengurangi potensi dampak negatif, seperti tekanan sosial untuk tampil sempurna atau eksposur berlebihan. Pendidikan yang mengintegrasikan analisis kritis terhadap konten daring dapat memperkuat kemampuan generasi muda untuk berpartisipasi secara sehat dalam budaya digital yang terus berkembang.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa yang dimaksud dengan aura farming?
    A: Istilah ini merujuk pada aksi menampilkan gerakan atau pose yang dianggap memancarkan “aura” kuat, biasanya untuk menarik perhatian di media sosial tanpa usaha yang tampak berlebihan.
  • Q: Mengapa kompetisi ini tidak memiliki juri atau aturan resmi?
    A: Karena konsepnya berakar pada spontanitas dan respons penonton; penilaian didasarkan pada sorakan, tepuk tangan, dan jumlah penonton daring.
  • Q: Apakah pemerintah dapat melarang acara aura farming di ruang publik?
    A: Pemerintah kota memiliki wewenang mengatur penggunaan ruang publik, namun larangan dapat menimbulkan perdebatan tentang kebebasan berekspresi dan dampak sosial budaya.
Meow! Tanya Nesi!
😸