Bupati Blora Gandeng UB: Pilot Pertanian Organik & Beasiswa Eksklusif untuk Anak Negeri

Berita Daerah
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Bupati Blora Gandeng UB: Pilot Pertanian Organik & Beasiswa Eksklusif untuk Anak Negeri
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Bupati Arief Rohman tawarkan Blora jadi zona percobaan pertanian organik bersama Universitas Brawijaya.
  • 60% wilayah kabupaten berpotensi untuk riset kehutanan, sekaligus lokasi KKN dan desa percontohan.
  • Slot beasiswa khusus disiapkan bagi putra‑putri Blora, mulai S1 hingga doktoral.

Blora, 27 Agustus 2026 – Dalam sambutan resmi pada orientasi mahasiswa baru Pascasarjana Fakultas Bioindustri Pertanian dan Kehutanan Universitas Brawijaya (UB), Bupati Arief Rohman menegaskan tekadnya menjadikan Kabupaten Blora sebagai pilot project pertanian organik yang dapat direplikasi di seluruh Jawa Tengah.

Menurut Rohman, keunggulan Blora terletak pada populasi peternak sapi yang melimpah, menyediakan bahan baku pupuk kandang secara berkelanjutan. “Kita punya sumber organik yang siap pakai, jadi tidak perlu mengimpor atau mengandalkan pupuk kimia mahal,” ujarnya dalam pernyataan tertulis.

Selain itu, sekitar 60 % wilayah kabupaten ditutupi hutan, membuka peluang riset kehutan yang belum dimanfaatkan. Rohman mengusulkan kolaborasi riset bersama UB, termasuk pembukaan lokasi penelitian lapangan, program Kuliah Kerja Nyata (KKN) di desa‑desa binaan pertanian organik, serta penciptaan desa percontohan yang dapat dijadikan model bagi daerah lain.

Dekan Fakultas Bioindustri Pertanian dan Kehutanan UB, Prof. M. Purnomo, menyambut baik inisiatif tersebut. Ia menilai Blora mulai mengincar “niche product” bernilai tambah tinggi, seperti benih jagung unggul dan komoditas greenhouse, yang dapat memperkuat ketahanan pangan Jawa Tengah‑Jawa Timur sekaligus menahan laju inflasi.

Universitas Brawijaya juga akan membuka kuota beasiswa khusus bagi mahasiswa asal Blora, mulai jenjang S1 hingga S3, dengan persyaratan seleksi ketat. “Kami ingin menyalurkan talenta lokal ke laboratorium kami, sehingga ilmu pengetahuan kembali ke tanah kelahiran,” kata Purnomo.

Rohman menutup paparan dengan mengucapkan terima kasih kepada UB atas kepercayaan menjadi narasumber pada acara orientasi tersebut, sekaligus mengundang dekan, dosen, dan peneliti untuk “silaturahmi” lebih intensif dengan pemerintah daerah.

Analisis Pakar

Langkah Blora mengusung pilot project pertanian organik tampak ambisius, namun tidak lepas dari tantangan struktural. Pertama, keberhasilan model organik sangat bergantung pada kemampuan petani mengelola pupuk kandang secara tepat, menghindari risiko kontaminasi dan penurunan kualitas tanah. Pemerintah daerah harus menyediakan pelatihan teknis yang berkelanjutan, bukan sekadar janji kebijakan.

Kedua, klaim bahwa 60 % wilayahnya adalah hutan memang membuka ruang riset, namun juga menimbulkan pertanyaan tentang tata kelola lahan. Tanpa regulasi yang jelas, upaya penelitian dapat berujung pada konflik agraria antara komunitas lokal, perusahaan kehutanan, dan pihak akademik. Transparansi dalam perizinan dan partisipasi masyarakat harus menjadi prasyarat utama.

Ketiga, beasiswa khusus bagi putra‑putri Blora memang langkah positif untuk mengurangi brain drain, namun seleksi yang terlalu eksklusif berpotensi menimbulkan kesan nepotisme. Kriteria objektif, audit independen, dan pelaporan publik tentang alokasi dana beasiswa diperlukan untuk menjaga integritas program.

Terakhir, kolaborasi dengan UB harus diukur dengan indikator kinerja yang jelas: peningkatan produksi organik, penurunan penggunaan pupuk kimia, dan penciptaan lapangan kerja baru. Tanpa monitoring yang ketat, proyek ini berisiko menjadi “showcase” politik semata tanpa dampak riil bagi petani dan masyarakat Blora.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa saja syarat untuk mendapatkan beasiswa UB bagi mahasiswa asal Blora?
    A: Calon penerima harus berstatus warga Blora, memenuhi persyaratan akademik minimal, lulus seleksi tertulis dan wawancara, serta menunjukkan komitmen pada bidang pertanian atau kehutanan.
  • Q: Bagaimana cara KKN di desa pertanian organik Blora dilaksanakan?
    A: Mahasiswa UB akan ditempatkan di desa binaan selama satu semester, melakukan pendampingan teknis, survei tanah, dan pelatihan petani dalam penggunaan pupuk organik serta praktik pertanian berkelanjutan.
  • Q: Apakah proyek organik ini akan melibatkan petani kecil?
    A: Ya, pemerintah daerah berjanji akan mengintegrasikan petani kecil melalui program pelatihan, penyediaan bibit unggul, dan akses pasar bagi produk organik mereka.
Meow! Tanya Nesi!
😾