Proyek Sampah ke Listrik Bekasi Siap Jalankan 500.000 Ton/Tahun, Investasi Rp3 Triliun Mulai 2028!
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Ringkasan Singkat
- Fasilitas pengolahan sampah menjadi listrik (PSEL) di Ciketing Udik, Bekasi, diproyeksikan beroperasi pertengahan 2028.
- Investasi senilai Rp 3 triliun akan mengolah hingga 500.000 ton sampah per tahun (≈1.500 ton per hari) dan menciptakan 1.000 lapangan kerja.
- Listrik yang dihasilkan dijual ke PLN dengan tarif US$0,20/kWh, sekaligus mengurangi emisi CO₂ sebesar 640.000 ton per tahun.
BPI Danantara mengumumkan bahwa pembangunan PSEL di Ciketing Udik, Bantar Gebang, akan selesai akhir 2027 dan mulai beroperasi pada 2028. Proyek ini menelan biaya Rp 3 triliun dan melibatkan konsorsium terpilih yang lolos evaluasi teknis, hukum, finansial, serta lingkungan.
Menurut CIO Pandu Sjahrir, fasilitas ini akan memproses 500.000 ton sampah per tahun—setara dengan 1.500 ton per hari—dari TPA Sumurbatu, yang khusus menampung limbah kota Bekasi. Dengan kapasitas tersebut, PSEL diharapkan menyerap 70 % total timbulan sampah wilayah dan menurunkan kebutuhan lahan TPA hingga 90 %.
Kerjasama komersial telah ditandatangani melalui Power Purchase Agreement (PPA) dengan PT PLN (Persero). Harga jual listrik ditetapkan pada US$0,20 per kWh untuk seluruh kapasitas, memberikan kepastian off‑take dan mendukung kelangsungan operasional jangka panjang.
Proyek ini juga akan berintegrasi dengan teknologi pirolisis yang dikelola oleh TNI Angkatan Darat, mengubah residu sampah menjadi bahan bakar minyak (BBM) terbarukan. Langkah ini sejalan dengan Perpres No. 109/2025 yang mewajibkan penggunaan teknologi ramah lingkungan dalam pengelolaan sampah perkotaan.
Analisis Pakar
Secara makro, proyek PSEL Bekasi menandai titik balik dalam strategi energi terbarukan Indonesia. Dengan investasi Rp 3 triliun, proyek ini tidak hanya menambah kapasitas listrik bersih, tetapi juga mengurangi beban TPA yang selama ini menjadi beban sosial‑ekonomi bagi kota-kota besar. Dari perspektif bisnis, tarif US$0,20/kWh yang dikunci dalam PPA berada di atas rata‑rata tarif listrik konvensional, sehingga memberikan margin yang menarik bagi investor, terutama bila memperhitungkan kredit karbon sebesar 640.000 ton CO₂ per tahun.
Namun, tantangan utama tetap pada rantai pasokan sampah. Keberhasilan pengolahan 1.500 ton per hari bergantung pada konsistensi aliran sampah dari TPA Sumurbatu dan koordinasi antar‑instansi pemerintah daerah. Jika terjadi gangguan logistik, tingkat utilisasi fasilitas dapat turun drastis, menggerus profitabilitas. Oleh karena itu, penting bagi BPI Danantara untuk mengamankan kontrak jangka panjang dengan otoritas pengelola TPA serta mengimplementasikan sistem monitoring digital yang transparan.
Di sisi lain, sinergi dengan teknologi pirolisis yang dikelola TNI membuka peluang diversifikasi pendapatan. Produk sampingan berupa bahan bakar minyak dapat dipasarkan ke sektor transportasi atau industri, menambah aliran kas selain penjualan listrik. Ini merupakan contoh model bisnis circular economy yang dapat direplikasi di kota lain, memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama dalam waste‑to‑energy di Asia Tenggara.
Kesimpulannya, proyek ini menawarkan kombinasi antara dampak lingkungan yang signifikan, peluang investasi yang menggiurkan, dan tantangan operasional yang harus dikelola secara profesional. Investor yang mengerti dinamika regulasi dan logistik sampah akan menemukan nilai tambah yang substansial dalam jangka menengah hingga panjang.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Kapan fasilitas PSEL di Bekasi akan mulai beroperasi?
A: Diperkirakan pada pertengahan tahun 2028 setelah konstruksi selesai akhir 2027. - Q: Berapa kapasitas pengolahan sampah dan listrik yang dihasilkan?
A: Fasilitas dapat mengolah 500.000 ton sampah per tahun (≈1.500 ton/hari) dan menghasilkan listrik yang dijual ke PLN dengan tarif US$0,20/kWh. - Q: Apa manfaat lingkungan dari proyek ini?
A: Mengurangi emisi CO₂ sebesar 640.000 ton per tahun, menurunkan penggunaan lahan TPA hingga 90 %, dan mendukung target energi terbarukan nasional.


