Profesor IIUM Diberhentikan: Klaim Kontroversial tentang Melayu Kuno Terbang dan Hubungan Historis Lainnya

Ringkasan Singkat
- Profesor linguistik Solehah Yaacob dipecat dari International Islamic University Malaysia (IIUM) setelah serangkaian pernyataan yang dianggap pseudo‑sejarah.
- Klaimnya meliputi kemampuan Melayu kuno untuk terbang, mengajarkan kungfu terbang ke China, serta asal‑usul Khadijah, istri Nabi Muhammad, yang dikaitkan dengan dunia Melayu.
- IIUM membentuk panel investigasi, menegaskan pentingnya integritas akademik, sementara komunitas ilmiah menolak tuduhan tersebut sebagai mitos.
Profesor Solehah Yaacob, yang selama lebih dua dekade mengajar linguistik Arab di IIUM, menjadi sorotan publik pada akhir 2024 hingga awal 2025 karena serangkaian pernyataan yang menantang konsensus sejarah regional. Salah satu yang paling menonjol adalah tuduhannya bahwa Melayu kuno memiliki kemampuan terbang dan bahkan mentransfer teknik "kungfu terbang" kepada praktisi di Tiongkok. Klaim tersebut tidak didukung oleh bukti arkeologis maupun tekstual, dan secara luas dikritik oleh sejarawan serta ahli antropologi sebagai mitos modern.
Pernyataan lain yang memicu kontroversi meliputi teori bahwa bangsa Romawi belajar pembuatan kapal dari pelaut‑pelaut Melayu, serta hipotesis bahwa Khadijah, istri Nabi Muhammad SAW, mungkin berasal dari latar belakang Melayu. Kedua tuduhan tersebut tidak memiliki dasar sumber primer yang dapat diverifikasi, dan bahkan dalam satu artikel akademik tahun 2018 yang ditulis oleh Solehah, ditemukan kutipan dari situs satir The Onion yang dipresentasikan sebagai fakta.
IIUM merespons dengan membentuk panel penyelidikan internal pada November 2025, sekaligus memulai proses disipliner yang berujung pada pemecatan Solehah. Dalam pernyataan resmi, universitas menegaskan bahwa langkah tersebut diambil untuk melindungi reputasi institusi dan menegakkan standar integritas akademik. Sebagai konsekuensi, Solehah tidak lagi berhak mengklaim afiliasi dengan IIUM.
Selain kontroversi historis, Solehah juga mengemukakan teori geologi yang menyatakan bahwa endapan bijih besi di Kedah berasal dari meteorit, sebuah hipotesis yang ditolak oleh studi arkeologi terbaru yang menunjukkan bahwa mineral tersebut terbentuk secara endogen tanpa bukti hujan meteorit di wilayah tersebut.
Analisis Pakar
Kasus pemecatan Solehah Yaacob menyoroti ketegangan yang semakin tajam antara kebebasan akademik dan tanggung jawab ilmiah. Di satu sisi, universitas harus melindungi ruang bagi inovasi pemikiran; di sisi lain, penyebaran klaim yang tidak terverifikasi dapat merusak kredibilitas institusi dan menyesatkan publik. Penelitian historis, khususnya yang berkaitan dengan identitas kebangsaan, memerlukan metodologi yang ketat, peer‑review yang transparan, dan sumber primer yang dapat dipertanggungjawabkan.
Penggunaan sumber satir seperti The Onion dalam karya ilmiah mencerminkan kegagalan proses editorial dan peer‑review. Hal ini mengingatkan komunitas akademik akan pentingnya verifikasi silang dan pelatihan literasi sumber bagi peneliti muda. Ketika klaim‑klaim spektakuler seperti "Melayu kuno terbang" atau "Khadijah berakar dari Melayu" muncul tanpa bukti arkeologis atau teks historis, mereka tidak hanya menodai disiplin ilmu, tetapi juga berpotensi memicu narasi nasionalistik yang berbahaya.
Respons IIUM, meskipun tegas, juga membuka pertanyaan tentang mekanisme pengawasan internal di institusi pendidikan tinggi di Asia Tenggara. Apakah ada prosedur yang cukup untuk menilai kualitas publikasi sebelum disebarluaskan? Bagaimana universitas menyeimbangkan kebebasan akademik dengan kebutuhan untuk menjaga standar ilmiah? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini penting untuk mencegah terulangnya insiden serupa.
Secara lebih luas, episode ini menggarisbawahi peran media sosial dalam mempercepat penyebaran informasi—baik yang faktual maupun yang fiktif. Viralitas klaim pseudo‑sejarah dapat memicu reaksi emosional yang kuat, terutama bila menyentuh identitas etnis atau agama. Oleh karena itu, peran jurnalis, platform digital, dan lembaga pendidikan dalam melakukan verifikasi fakta menjadi semakin krusial dalam era informasi yang cepat berubah.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Mengapa Solehah Yaacob dipecat dari IIUM?
A: Karena ia mengeluarkan sejumlah pernyataan yang tidak didukung bukti ilmiah, melanggar kode etik akademik, dan menimbulkan keraguan terhadap integritas institusi. - Q: Apakah ada bukti arkeologis yang mendukung klaim bahwa Melayu kuno dapat terbang?
A: Tidak. Semua klaim tersebut tidak memiliki dasar dalam temuan arkeologis atau dokumen historis yang dapat diverifikasi. - Q: Bagaimana IIUM menangani kasus serupa di masa depan?
A: Universitas berkomitmen memperkuat proses review internal, meningkatkan pelatihan metodologi penelitian, dan menegakkan standar etika publikasi yang lebih ketat.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Senjata 'Pasukan Lula': Strategi Gerilya Media Sosial yang Membalikkan Arah Pilpres Brasil

Gebrakan Global: 33 Negara Perintahkan Warga Stok Bahan Darurat Hadapi Ancaman Siber dan Cuaca

Guncangan Ganda India: Siklon Murasu Ancam Pemulihan Pasca-Arnab, 30.000 Warga Dievakuasi
