Prabowo Joget 'Oke Gas' di Posko Pengungsi NTT: Gimik Politik atau Empati Tulen?
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Presiden Prabowo mengunjungi posko pengungsi di Nusa Tenggara Timur setelah gempa berkekuatan 7,7 SR.
- Di dapur umum Lapangan Berdikari, anak‑anak meminta sang pemimpin menirukan joget "Oke Gas" yang menjadi slogan kampanye Pilpres 2024.
- Prabowo menanggapi dengan mencolek perut anak‑anak dan melanjutkan inspeksi fasilitas air bersih serta tenda pengungsi, sambil tertawa bersama kepala daerah.
Ketika gempa magmagnitudo 7,7 mengguncang Nusa Tenggara Timur pada akhir Agustus, sorotan media tidak hanya tertuju pada kerusakan infrastruktur melainkan juga pada kunjungan politikus tingkat tinggi. Pada Rabu (26/8), Presiden Prabowo Subianto tiba di posko pengungsian Lapangan Berdikari, Nagekeo, untuk meninjau sumber air bersih, instalasi water treatment, dan tenda tempat para korban menginap.
Suasana berubah menjadi tidak formal ketika sekelompok anak‑anak yang berada di dapur umum mulai menirukan gerakan joget "Oke Gas"—slogan kampanye Prabowo yang sempat menjadi viral pada Pilpres 2024. Salah satu anak berseru, "Oke gas, oke gas", diikuti oleh teriakan lain, "Pak Prabowo goyang‑goyang, goyang‑goyang". Alih‑alih menuruti permintaan tersebut, sang presiden hanya mencolek perut mereka, lalu melanjutkan inspeksi sambil tertawa bersama kepala daerah yang mendampinginya.
Reaksi spontan anak‑anak tersebut menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah aksi joget ini sekadar candaan polos ataukah sebuah gimik politik yang dirancang untuk menambah citra humanis di tengah tragedi? Sementara sebagian publik menyambut hangat kehadiran pemimpin tertinggi di lokasi bencana, kritikus menilai bahwa sorotan pada joget dapat mengalihkan perhatian dari kebutuhan mendesak korban.
Di sisi lain, kunjungan Prabowo tidak lepas dari agenda pemerintahan: memastikan ketersediaan air bersih, menilai kesiapan tenda darurat, dan mengkoordinasikan bantuan logistik solusi darurat. Namun, dalam konteks politik, setiap gerakan di lapangan bencana berpotensi menjadi bahan kampanye, terutama menjelang pemilihan umum yang semakin dekat.
Analisis Pakar
Menurut saya, Budi Santoso, jurnalis senior investigasi, aksi joget "Oke Gas" di posko pengungsi mencerminkan dilema etika yang sering dihadapi politisi saat mengunjungi zona bencana. Di satu sisi, kehadiran pemimpin dapat meningkatkan moral korban dan menegaskan komitmen pemerintah. Di sisi lain, penggunaan simbol kampanye—seperti slogan "Oke Gas"—di tengah tragedi dapat menimbulkan persepsi bahwa kepentingan politik mendahului kepedulian kemanusiaan.
Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa aksi simbolik di lokasi bencana sering kali menghasilkan "political optics" yang menguntungkan bagi tokoh publik, namun tidak selalu diikuti oleh peningkatan substantif dalam penanganan. Dalam kasus NTT, meski Prabowo meninjau fasilitas air bersih, tidak ada penjelasan konkret mengenai alokasi dana tambahan atau timeline perbaikan jangka panjang. Hal ini menimbulkan pertanyaan: apakah kunjungan tersebut lebih bersifat inspeksi superficial atau memang menandai langkah konkret?
Selanjutnya, respons anak‑anak yang meminta joget menyoroti fenomena budaya pop yang meresap ke dalam politik Indonesia. Slogan "Oke Gas" telah menjadi meme nasional, dan pemanfaatannya dalam konteks bencana dapat dianggap sebagai upaya meredam ketegangan dengan humor. Namun, bagi korban yang masih berduka, humor yang tidak sensitif dapat terasa menyinggung. Pemerintah harus menyeimbangkan antara pendekatan humanis yang mengakrabkan diri dengan masyarakat dan menjaga integritas moral dalam penanganan bencana.
Terakhir, media memiliki peran penting untuk tidak terjebak dalam narasi sensasional. Fokus pada joget dapat mengaburkan isu‑isu kritis seperti distribusi bantuan, pemulihan infrastruktur, dan kesiapan mitigasi bencana di masa depan. Jurnalisme investigatif harus menuntut transparansi, menelusuri alur bantuan, dan mengawasi apakah kunjungan politikus berujung pada kebijakan yang berkelanjutan atau sekadar aksi foto‑op.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Apa tujuan Prabowo mengunjungi posko pengungsi di NTT?
A: Untuk meninjau kondisi air bersih, fasilitas penampungan, dan menunjukkan kepedulian pemerintah terhadap korban gempa. - Q: Mengapa anak‑anak meminta Prabowo menirukan joget "Oke Gas"?
A: "Oke Gas" adalah slogan kampanye Prabowo yang populer; anak‑anak menirukannya sebagai bentuk candaan dan keakraban. - Q: Apakah aksi joget tersebut menimbulkan kontroversi?
A: Ya, sebagian publik menilai aksi tersebut dapat mengalihkan fokus dari kebutuhan mendesak korban dan dianggap sebagai gimik politik.


