Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Mengenang Dolly Parton: Dari Desa Tennessee ke Panggung Dunia, Si Ratu Country yang Tak Pernah Padam!

SelebritiRio DewantaraRio DewantaraSumber: CNN Selebriti
Rio Dewantara
Rio Dewantara
Kritikus Film

Menyajikan ulasan tajam seputar film lokal, internasional, dan dunia perfilman.

Mengenang Dolly Parton: Dari Desa Tennessee ke Panggung Dunia, Si Ratu Country yang Tak Pernah Padam!
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Dolly Parton meninggal dunia pada usia 80 tahun, meninggalkan warisan musik dan budaya yang tak ternilai.
  • Perjalanan hidupnya dimulai dari keluarga miskin di Pittman Center, Tennessee, hingga menjadi ikon global dengan jutaan penghargaan.
  • Kariernya melintasi musik, film, dan teater, termasuk proyek musikal yang akan meluncur ke Broadway.

Berita utama

Selasa (25/8) dunia hiburan dikejutkan dengan kabar duka: Dolly Parton resmi berpulang pada usia 80 tahun. Pengumuman ini disampaikan oleh keponakannya, Bryan Seaver, lewat video Instagram yang mengungkapkan bahwa keputusan ini sudah disiapkan oleh sang bibi beberapa tahun lalu. “Ini adalah kehormatan yang bercampur kebanggaan luar biasa dan kesedihan mendalam,” kata Seaver, menambahkan bahwa kesedihan itu milik mereka yang mencintainya, bukan Dolly sendiri.

Dolly lahir pada 1946 di Pittman Center, Tennessee, dalam keluarga beranggotakan 12 bersaudara. Keterbatasan ekonomi membuatnya terbiasa dengan porsi makanan yang tak selalu cukup, namun semangatnya tak pernah padam. Pada usia enam tahun, ia sudah memetik gitar pertama dan menyanyikan lagu-lagu di gereja kakeknya, bahkan setahun kemudian mulai menulis liriknya sendiri.

Setelah lulus SMA, Dolly memutuskan pindah ke Nashville pada 1964. Di sana, ia meniti karier di klub-klub musik, menulis lagu untuk artis lain, dan akhirnya menarik perhatian Porter Wagoner. Undangan tampil di The Porter Wagoner Show menjadi batu loncatan besar, menjadikannya bintang country yang tak terbantahkan.

Puncak kariernya mulai terasa pada 1971 ketika lagu Joshua menempati posisi pertama di tangga lagu country, diikuti Coat of Many Colors yang menempati urutan keempat. Tahun 1974, Dolly menulis I Will Always Love You sebagai salam perpisahan untuk Wagoner—lagu yang kemudian menjadi megah ketika dibawakan oleh Whitney Houston dalam film The Bodyguard (1992).

Tak hanya musik, Dolly juga menapaki dunia film dengan peran ikonik di 9 to 5 (1980) bersama Lily Tomlin dan Jane Fonda, serta sejumlah judul lain seperti The Best Little Whorehouse in Texas (1982) dan Steel Magnolias (1989). Pada 1987, kolaborasinya dalam album Trio bersama Linda Ronstadt dan Emmylou Harris menambah deretan prestasinya.

Sepanjang karier, Dolly mengumpulkan segudang penghargaan: 1 Emmy, 11 Grammy, 10 Country Music Association Awards, 7 Academy of Country Music Awards, 3 American Music Awards, serta dua nominasi Oscar dan satu Oscar kehormatan. Musisi sekaligus pengusaha, ia juga meluncurkan pertunjukan musikal Dolly: A True Original Musical yang dijadwalkan menembus Broadway pada tahun ini.

Setelah kehilangan suaminya, Carl Dean, pada Maret 2025, kesehatan Dolly menurun. Ia mengakui mengabaikan beberapa masalah kesehatan selama merawat sang pasangan. Meski begitu, sang “Ratu Tabloid” tetap bersinar, bahkan berkelakar menjadi “Ratu AI Media Sosial”.

Seaver menutup dengan harapan Dolly beristirahat dalam “hamparan kapas lembut”, mengingat baju-baju berhiaskan batu permata imitasi yang selalu ia kenakan. “Beristirahatlah dengan tenang, Bibi Dolly,” tuturnya, menambahkan doa dan rasa terima kasih yang mendalam.

Analisis Pakar

Sebagai pengamat budaya pop, saya melihat kepergian Dolly Parton bukan sekadar kehilangan seorang artis, melainkan berakhirnya sebuah era yang mengajarkan kita tentang ketekunan, kreativitas, dan keberanian berinovasi. Dolly bukan hanya “Ratu Country”; ia adalah arsitek identitas pop‑country yang memadukan estetika glitter‑glamour dengan akar pedesaan. Keberaniannya menonjolkan diri lewat fashion berhiaskan kristal, sekaligus menulis lirik yang menyentuh hati, menciptakan dualitas yang jarang ditemui di industri musik.

Transformasi Dolly dari penyanyi kampung ke ikon global juga mencerminkan dinamika sosial‑ekonomi Amerika pada era 60‑80‑an. Dari keluarga berpenghasilan rendah, ia memanfaatkan platform gereja dan radio lokal untuk menembus Nashville, sebuah contoh klasik “American Dream”. Namun, yang lebih menarik adalah cara ia mengubah narasi kemiskinan menjadi kekayaan emosional dalam lagu‑lagunya—seperti Coat of Many Colors yang menjadi hymn tentang kebanggaan diri meski dalam keterbatasan.

Di ranah film, Dolly menunjukkan bahwa seorang musisi country dapat beradaptasi dengan genre komedi dan drama, memperluas batasan stereotip gender dalam industri hiburan. Kolaborasinya dalam Trio menegaskan pentingnya solidaritas perempuan dalam musik, sebuah pesan yang relevan di era #MeToo. Bahkan hingga kini, musikalnya yang akan meluncur ke Broadway menjadi bukti bahwa warisan kreatifnya terus berdenyut, menginspirasi generasi baru artis yang ingin menyeimbangkan komersialisme dan keaslian.

Terakhir, kepergian Dolly mengingatkan kita pada pentingnya kesehatan mental dan fisik bagi seniman senior. Ia mengakui mengabaikan masalah kesehatan demi mendampingi suami tercinta—sebuah pelajaran berharga bahwa self‑care tidak boleh ditinggalkan, tak peduli seberapa besar cinta atau dedikasi yang kita miliki. Dolly meninggalkan warisan bukan hanya dalam catatan musik, tetapi juga dalam nilai‑nilai kemanusiaan yang ia pegang teguh.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Kapan tepatnya Dolly Parton meninggal?
    A: Dolly Parton meninggal pada Selasa, 25 Agustus 2026, pada usia 80 tahun.
  • Q: Apa lagu paling terkenal yang ditulis Dolly Parton?
    A: “I Will Always Love You” adalah salah satu lagu paling ikonik yang ditulis Dolly, kemudian dipopulerkan kembali oleh Whitney Houston.
  • Q: Apakah ada proyek musikal Dolly yang akan tayang?
    A: Ya, musikal “Dolly: A True Original Musical” dijadwalkan menembus Broadway pada tahun 2025‑2026.

BERITA TERKAIT (Selebriti)

Meow! Tanya Nesi!
😸