Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Kalimantan Tengah Dihantam 2.110 Hotspot Karhutla: Upaya Air 4,6 Juta Liter Masih Gagal Padam Api

Berita DaerahBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Nasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Kalimantan Tengah Dihantam 2.110 Hotspot Karhutla: Upaya Air 4,6 Juta Liter Masih Gagal Padam Api
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • BNPB mencatat 2.110 hotspot karhutla di KalimantanTengah pada 25 Agustus 2026.
  • Luas lahan terbakar diperkirakan lebih dari 7.634 hektar, namun jarak pandang masih normal (>10 km).
  • Operasi darat dan udara, termasuk 5 water bombing dengan total 4,6 juta liter air, belum berhasil memadamkan api di Katingan, Murung Raya, dan Lamandau.

Jakarta, 26 Agustus 2026 – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan adanya 2.110 titik panas (hotspot) kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di KalimantanTengah pada hari Rabu, 26 Agustus. Data tersebut diambil dari pemantauan antara pukul 00.00 hingga 23.59 WIB tanggal 25 Agustus 2026.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyebutkan bahwa selain 2.110 hotspot, terdapat 55 fire spot atau titik api yang masih aktif. Menurutnya, indikasi luas lahan yang terbakar mencapai lebih dari 7.634 hektar. Meski begitu, jarak pandang di wilayah tersebut masih berada pada level normal, yakni di atas 10 kilometer.

Berbagai operasi darat telah diluncurkan untuk memadamkan api, menahan penyebaran, dan melakukan pendinginan. Namun, beberapa zona kritis seperti Katingan, MurungRaya, dan Lamandau masih menunjukkan tanda-tanda kebakaran yang belum teratasi.

Di sisi udara, BNPB mencatat dua patroli udara serta lima misi waterbombing menggunakan helikopter. Total air yang dikeluarkan mencapai 4,6 juta liter, disalurkan ke titik-titik api di enam provinsi prioritas: Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatra Selatan, Jambi, dan Riau.

Analisis Pakar

Angka hotspot yang mencapai ribuan di satu provinsi dalam satu hari menandakan kegagalan sistematis dalam pencegahan kebakaran hutan. Meskipun BNPB mengklaim jarak pandang masih normal, realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya: asap tebal menutupi wilayah pemukiman, mengganggu kesehatan warga, dan menurunkan kualitas udara secara signifikan. Hal ini menimbulkan pertanyaan serius tentang akurasi data satelit yang dipublikasikan dan transparansi laporan resmi.

Operasi water bombing yang menghabiskan 4,6 juta liter air tampak mengesankan, namun efektivitasnya dipertanyakan. Air yang dijatuhkan ke kanopi hutan sering kali menguap sebelum mencapai dasar, sementara angin kencang dapat menyebarkan bara api lebih jauh. Tanpa koordinasi yang matang antara tim darat dan udara, serta tanpa strategi pemadaman jangka panjang, upaya ini hanyalah solusi sementara yang menguras sumber daya.

Lebih mengkhawatirkan lagi adalah keberlanjutan kebakaran di daerah seperti Katingan, Murung Raya, dan Lamandau. Daerah‑daerah ini dikenal memiliki konsesi perkebunan dan pertambangan yang luas, yang selama bertahun‑tahun menjadi sumber utama pembakaran lahan untuk membuka lahan baru. Keterlibatan perusahaan-perusahaan besar dalam praktik pembakaran yang tidak transparan harus diusut secara mendalam, termasuk potensi pelanggaran hukum lingkungan.

Terakhir, respons pemerintah daerah masih terkesan reaktif. Diperlukan kebijakan preventif yang mengintegrasikan satelit, sensor tanah, dan partisipasi masyarakat lokal. Tanpa penegakan hukum yang tegas terhadap pelaku pembakaran, angka hotspot akan terus meningkat, memperparah krisis iklim dan kesehatan publik di Indonesia.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa banyak hotspot yang terdeteksi di Kalimantan Tengah pada 25 Agustus 2026?
    A: Sebanyak 2.110 hotspot karhutla tercatat.
  • Q: Berapa luas lahan yang diperkirakan terbakar?
    A: Lebih dari 7.634 hektar.
  • Q: Berapa total air yang digunakan dalam operasi water bombing?
    A: Sekitar 4,6 juta liter air.

BERITA TERKAIT (Berita Daerah)

Meow! Tanya Nesi!
😸