China di Persimpangan: Pilih Dolar AS atau Dukung Iran?

Ekonomi & Pasar
Hendra GunawanHendra Gunawan
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

China di Persimpangan: Pilih Dolar AS atau Dukung Iran?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Washington mengancam putuskan akses sistem keuangan AS bagi entitas yang bantu Iran menghindari sanksi.
  • China harus menyeimbangkan kebutuhan dolar AS untuk perdagangan global dengan upaya memperkuat sistem pembayaran alternatif seperti CIPS.
  • Sebagai pembeli minyak Iran terbesar, Beijing berada di bawah tekanan geopolitik yang dapat memengaruhi arus perdagangan dan nilai tukar.

Jakarta – Scott Bessent, Menteri Keuangan AS, menegaskan bahwa lembaga keuangan yang memfasilitasi pencucian uang atau menghindari sanksi Iran akan "menjadi sasaran" dan berisiko kehilangan akses ke dolar AS. Pernyataan itu menambah ketegangan bagi Iran dan negara‑negara yang masih bertransaksi dengan Tehran, terutama China yang membeli lebih dari 80% minyak Iran yang dikirim lewat laut.

Beijing menanggapi dengan menegaskan kesiapan melindungi kepentingannya dan menolak sanksi sepihak yang dianggap tidak memiliki dasar hukum internasional. Sementara itu, China terus mengembangkan CIPS—sistem pembayaran lintas‑negara yang dirancang sebagai alternatif dolar AS. Meskipun CIPS belum dapat menggantikan peran dolar secara menyeluruh, ia menjadi instrumen lindung nilai geopolitik yang penting.

Para pengamat menilai dilema ini bukan sekadar soal pilihan mata uang, melainkan tentang kontrol atas jaringan keuangan global. Jika Washington benar‑benar menutup pintu bagi bank‑bank China, dampaknya akan meluas ke rantai pasok, nilai tukar yuan, dan bahkan kebijakan moneter domestik. Namun, tekanan tersebut juga dapat mempercepat fragmentasi sistem keuangan internasional, memberi ruang bagi inisiatif regional seperti CIPS untuk mengisi kekosongan.

Analisis Pakar

Sebagai ekonom makro, saya melihat dua skenario utama. Pertama, China memilih bernegosiasi dengan Washington, menyesuaikan prosedur kepatuhan anti‑sanksi, dan tetap menjaga aliran dolar. Langkah ini akan menunda transformasi struktural pada sistem pembayaran, namun menimbulkan biaya kepatuhan yang signifikan bagi bank‑bank besar. Kedua, Beijing mempercepat diversifikasi dengan memperluas penggunaan CIPS, mengalihkan sebagian transaksi energi ke yuan, dan menegosiasikan swap line dengan sekutu strategis. Skenario ini menuntut investasi infrastruktur dan kepercayaan pasar, tetapi dapat mengurangi kerentanan terhadap tekanan politik AS.

Secara bisnis, perusahaan multinasional yang beroperasi di Asia harus menyiapkan dua jalur pembayaran: satu berbasis dolar untuk pasar tradisional, dan satu lagi berbasis yuan atau CIPS untuk transaksi dengan mitra China‑Iran. Risiko nilai tukar akan meningkat, sehingga hedging menjadi wajib. Selain itu, rantai pasok energi yang bergantung pada minyak Iran harus menilai ulang kontrak jangka panjang, mengingat potensi gangguan akses ke sistem keuangan AS.

Strategi China juga memberi sinyal kepada negara‑negara berkembang bahwa alternatif sistem keuangan global sedang terbentuk. Jika CIPS berhasil menarik likuiditas, kita dapat menyaksikan pergeseran pangsa pasar pembayaran internasional dari SWIFT ke platform regional dalam jangka menengah. Hal ini akan menambah kompleksitas regulasi bagi bank internasional, yang harus menyesuaikan kebijakan AML/KYC dengan standar ganda.

Akhirnya, keputusan Washington akan menjadi ujian bagi kebijakan luar negeri AS. Menutup akses ke dolar dapat menimbulkan backlash ekonomi yang meluas, terutama jika China menanggapi dengan langkah balasan yang melibatkan pembatasan investasi atau penyesuaian nilai tukar yuan. Bagi investor, sinyal ini harus diinterpretasikan sebagai peningkatan volatilitas geopolitik yang memerlukan strategi alokasi aset yang lebih fleksibel.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa konsekuensi bagi bank China jika kehilangan akses ke sistem keuangan AS?
    A: Mereka akan kesulitan melakukan transaksi lintas‑batas dalam dolar, meningkatkan biaya pembiayaan, dan berpotensi menurunkan likuiditas pasar domestik.
  • Q: Bagaimana CIPS dapat mengurangi ketergantungan pada dolar?
    A: CIPS menyediakan jaringan pembayaran yang memungkinkan konversi yuan secara langsung, memotong kebutuhan perantara berbasis dolar dalam perdagangan bilateral.
  • Q: Apakah Iran akan tetap mengekspor minyak ke China?
    A: Selama China tidak dipaksa oleh sanksi AS yang mengikat, Tehran kemungkinan besar akan mempertahankan volume ekspor ke Beijing, mengingat China menyerap lebih dari 80% minyak Iran.
Meow! Tanya Nesi!
😸