PM Anwar Minta Prabowo Selamatkan Investasi Felda yang Terancam Rugi RM2,5 Miliar
Pakar ekonomi makro yang sering menulis mengenai investasi dan pasar saham.

Ringkasan Singkat
- PM Anwar Ibrahim mengirim surat ke Prabowo Subianto minta intervensi atas kerugian potensial Felda di Eagle High Plantations (BWPT).
- Kerugian diproyeksikan mencapai RM2,5 miliar (≈Rp10,75 triliun), sementara dana yang masih dapat diselamatkan hanya sekitar RM200 juta.
- Kasus masih dalam proses hukum di Indonesia, menimbulkan pertanyaan tentang tata kelola investasi lintas‑negara dan risiko nilai tukar.
Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, pada Selasa (25/8/2026) menyalurkan surat resmi kepada Presiden Prabowo Subianto. Surat itu menyoroti potensi kerugian finansial yang dapat menelan RM2,5 miliar atau setara Rp10,75 triliun bagi Felda, badan pemerintah Malaysia yang mengelola lahan pertanian.
Kerugian tersebut, kata Anwar, berasal dari keputusan manajemen Felda pada tahun 2016 ketika Felda melalui anak perusahaan FIC Properties Sdn Bhd membeli saham Eagle High Plantations (BWPT) senilai US$505,4 juta. Harga akuisisi itu kemudian dikritik keras karena jauh di atas nilai pasar, memicu penurunan nilai saham dan menambah beban keuangan.
Menurut perhitungan terbaru, hanya sekitar RM200 juta yang masih berpotensi diselamatkan melalui restrukturisasi atau penjualan aset. Sisa nilai investasi diperkirakan akan menjadi beban kerugian yang harus ditanggung Felda, yang pada gilirannya dapat memengaruhi neraca keuangan lembaga dan menurunkan kepercayaan investor asing terhadap proyek‑proyek agribisnis Malaysia.
Anwar menegaskan bahwa masalah ini sedang berada dalam proses hukum di Indonesia. Ia meminta Presiden Prabowo untuk meninjau kasus tersebut secara mendalam, tidak hanya sebagai langkah diplomatik, tetapi juga sebagai upaya melindungi kepentingan fiskal Malaysia. Pemerintah Malaysia berjanji mempercepat proyek‑proyek kesejahteraan dasar tanpa menunggu alokasi anggaran tahun depan, sekaligus menekankan pentingnya tata kelola, integritas, dan akuntabilitas dalam mengelola aset publik.
Analisis Pakar
Secara makro, kasus ini menyoroti dua risiko utama yang sering diabaikan dalam investasi lintas‑negara: political risk dan valuation risk. Keputusan Felda pada 2016 tampaknya didorong oleh agenda politik—menunjukkan komitmen pemerintah Malaysia untuk memperluas jejak agribisnisnya di Asia Tenggara—bukan oleh analisis nilai intrinsik. Akibatnya, ketika pasar mengoreksi nilai saham BWPT, kerugian tidak hanya menumpuk di neraca Felda, tetapi juga menimbulkan beban politik bagi pemimpin yang menandatangani kesepakatan tersebut.
Dari perspektif bisnis, kerugian RM2,5 miliar setara dengan hampir 5 % PDB Malaysia pada tahun 2026. Jika tidak ditangani, beban ini dapat menggerogoti cadangan devisa, memperlemah rating kredit negara, dan meningkatkan biaya pinjaman luar negeri. Oleh karena itu, intervensi Prabowo bukan sekadar bantuan bilateral; ia menjadi mekanisme mitigasi risiko sovereign yang dapat menstabilkan nilai tukar rupiah‑ringgit serta menenangkan pasar modal regional.
Strategi pemulihan yang realistis harus melibatkan restrukturisasi utang, penjualan sebagian aset non‑strategis, dan pencarian mitra strategis yang memiliki keahlian agrikultur modern. Felda perlu mengadopsi prinsip good governance—transparansi, audit independen, dan komite risiko—sehingga investor dapat menilai kembali eksposur mereka dengan lebih akurat. Tanpa reformasi struktural, kasus ini akan menjadi contoh klasik “political patronage” yang menggerogoti kepercayaan investor.
Terakhir, bagi perusahaan Indonesia yang beroperasi di sektor agribisnis, kasus Felda menjadi peringatan penting: pastikan due diligence mencakup analisis nilai pasar yang independen, serta skenario risiko nilai tukar dan regulasi. Kegagalan dalam hal ini dapat berujung pada litigasi panjang, kerugian finansial signifikan, dan kerusakan reputasi yang sulit dipulihkan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Mengapa investasi Felda di Eagle High Plantations dianggap merugikan?
A: Karena harga beli US$505,4 juta jauh di atas nilai pasar saat itu, sehingga penurunan harga saham menyebabkan potensi kerugian hingga RM2,5 miliar. - Q: Apa peran Presiden Prabowo dalam kasus ini?
A: Prabowo diminta meninjau dan membantu menyelesaikan sengketa hukum serta mencari solusi pemulihan nilai investasi Felda di Indonesia. - Q: Bagaimana dampak kerugian ini bagi ekonomi Malaysia?
A: Kerugian dapat mengurangi cadangan devisa, menurunkan rating kredit negara, dan meningkatkan biaya pinjaman luar negeri, sekaligus menurunkan kepercayaan investor asing.


