Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Perebutan Kursi Nomor Satu WHO: Menkes RI Bersaing dengan Raksasa Kesehatan Timur Tengah dan Eropa

DuniaBudi SantosoBudi SantosoSumber: CNN Internasional
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Perebutan Kursi Nomor Satu WHO: Menkes RI Bersaing dengan Raksasa Kesehatan Timur Tengah dan Eropa
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Empat kandidat resmi diusulkan untuk menggantikan Tedros Adhanom Ghebreyesus sebagai Direktur Jenderal WHO berikutnya, termasuk Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin.
  • Kandidat lainnya merupakan figur berpengaruh di sektor kesehatan global: Hanan Mohammed Al-Kuwari (Qatar), Hanan Balkhy (Arab Saudi), dan Hans Henri P. Kluge (Belgia).
  • Pencalonan ini mencerminkan dinamika geopolitik baru, mempertemukan para veteran medis institusional dengan pendekatan manajemen korporat non-medis dari Indonesia.

Perebutan kepemimpinan di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) resmi dimulai seiring munculnya empat nama kuat sebagai calon Direktur Jenderal WHO masa depan. Mereka diproyeksikan menggantikan Tedros Adhanom Ghebreyesus yang masa jabatannya akan segera berakhir. Berdasarkan rilis resmi WHO, keempat kandidat tersebut membawa portofolio kepemimpinan yang sangat kontras, mencerminkan visi yang berbeda tentang bagaimana arsitektur kesehatan dunia pasca-pandemi harus dikelola.

Kandidat pertama, Hanan Mohammed Al-Kuwari yang diusulkan oleh Qatar, merupakan tokoh sentral dalam modernisasi sistem kesehatan di Teluk. Menjabat sebagai Menteri Kesehatan Qatar periode 2016-2024, Hanan memiliki reputasi kuat dalam manajemen rumah sakit skala besar melalui kepemimpinannya di Hamad Medical Corporation (HMC). Pengalamannya sebagai Ketua Dewan Eksekutif WHO (2023-2024) memberinya keunggulan diplomatik yang signifikan di Jenewa.

Sementara itu, Arab Saudi mengusulkan Hanan Balkhy, seorang dokter spesialis anak dan pakar kesehatan masyarakat yang saat ini menjabat sebagai Direktur Regional WHO untuk Mediterania Timur (WHO EMRO). Balkhy dikenal luas atas kepemimpinannya dalam memerangi resistensi antimikroba (AMR) di tingkat global saat menjabat sebagai Asisten Dirjen WHO pada 2019-2024. Profil akademis dan klinisnya yang kuat menjadikannya kandidat favorit bagi negara-negara yang menginginkan kepemimpinan berbasis sains murni.

Eropa diwakili oleh Hans Henri P. Kluge dari Belgia, yang saat ini menjabat sebagai Direktur Regional WHO Eropa. Kluge adalah birokrat kesehatan karier yang telah mengabdi di WHO sejak 1999. Dengan pengalaman lapangan yang luas dalam menangani penyakit menular seperti tuberkulosis dan HIV di Rusia, Myanmar, hingga Korea Utara, Kluge merepresentasikan kontinuitas institusional dan pemahaman mendalam tentang birokrasi internal WHO.

Di sisi lain, Indonesia menghadirkan kejutan dengan mengusulkan Budi Gunadi Sadikin. Berbeda dengan tiga kandidat lainnya, Budi tidak memiliki latar belakang medis. Ia adalah seorang bankir senior dan mantan Direktur Utama Bank Mandiri serta PT Inalum. Namun, rekam jejaknya dalam memimpin reformasi sistem kesehatan Indonesia di tengah hantaman pandemi Covid-19, serta kesuksesannya menggalang dana kesehatan global (Financial Intermediary Fund) saat Presidensi G20 Indonesia, menjadikannya kandidat 'out-of-the-box' yang sangat diperhitungkan.

Analisis Pakar

Dari perspektif hubungan internasional, kontestasi pemilihan Dirjen WHO kali ini bukan sekadar persaingan figur, melainkan refleksi dari pergeseran geopolitik kesehatan global. Kehadiran dua kandidat kuat dari kawasan Teluk (Qatar dan Arab Saudi) menunjukkan peningkatan pengaruh diplomatik dan finansial Timur Tengah di panggung multilateral. Kedua negara ini tidak lagi hanya menjadi donor pasif, melainkan aktif berupaya mengarahkan kebijakan kesehatan global. Hal ini berpotensi menantang dominasi tradisional negara-negara Barat dalam menentukan agenda WHO.

Di sisi lain, pencalonan Budi Gunadi Sadikin oleh Indonesia membawa narasi yang sangat menarik mengenai dikotomi kepemimpinan: "Teknokrat Medis vs. Manajer Profesional". Secara historis, WHO selalu dipimpin oleh dokter atau pakar kesehatan masyarakat. Namun, krisis pandemi lalu menunjukkan bahwa kegagalan penanganan kesehatan sering kali bukan karena kurangnya sains, melainkan karena buruknya manajemen logistik, rantai pasok, dan diplomasi keuangan. Budi Gunadi, dengan latar belakang korporasi dan finansialnya, menawarkan pendekatan pragmatis yang berfokus pada efisiensi dan restrukturisasi sistemik—sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh WHO yang sering dikritik lamban dan birokratis.

Kendati demikian, tantangan terbesar bagi kandidat non-medis seperti Budi Gunadi adalah meyakinkan komunitas ilmiah global dan negara-negara anggota tradisional bahwa ia mampu menavigasi isu-isu teknis kesehatan yang kompleks tanpa bias komersial. Sebaliknya, kandidat seperti Hans Kluge dan Hanan Balkhy harus membuktikan bahwa mereka memiliki visi reformasi yang cukup radikal untuk membawa WHO keluar dari bayang-bayang kegagalan awal penanganan Covid-19 dan ancaman pandemi di masa depan.

Pada akhirnya, pemilihan ini akan ditentukan oleh lobi-lobi diplomatik di belakang layar. Dukungan dari blok-blok regional seperti Uni Afrika, ASEAN, dan Uni Eropa akan menjadi kunci. Indonesia harus mampu mengemas profil Budi Gunadi sebagai representasi suara 'Global South' yang menuntut kesetaraan akses kesehatan, sebuah isu sensitif yang hingga kini masih gagal diselesaikan secara tuntas oleh kepemimpinan WHO saat ini.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Siapa saja empat kandidat calon Direktur Jenderal WHO yang baru?
A: Empat kandidat tersebut adalah Hanan Mohammed Al-Kuwari (Qatar), Hanan Balkhy (Arab Saudi), Hans Henri P. Kluge (Belgia), dan Budi Gunadi Sadikin (Indonesia).

Q: Mengapa pencalonan Budi Gunadi Sadikin dari Indonesia dianggap unik?
A: Budi Gunadi Sadikin adalah satu-satunya kandidat yang tidak memiliki latar belakang pendidikan medis atau kesehatan masyarakat. Ia memiliki latar belakang sebagai bankir dan eksekutif korporasi, namun sukses memimpin Kementerian Kesehatan RI melewati masa kritis pandemi Covid-19.

Q: Apa tantangan terbesar yang akan dihadapi oleh Direktur Jenderal WHO berikutnya?
A: Dirjen WHO berikutnya harus menghadapi tantangan reformasi birokrasi internal, kesiapan menghadapi ancaman pandemi masa depan, isu resistensi antimikroba (AMR), serta ketimpangan distribusi fasilitas kesehatan antara negara maju dan berkembang (Global South).

Meow! Tanya Nesi!
😸