Mandalika Siapkan Pariwisata 365 Hari: Beyond MotoGP, Budaya & Kuliner Jadi Magnet Ekonomi
Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Ringkasan Singkat
- ITDC targetkan Mandalika menjadi destinasi wisata “living” yang aktif sepanjang tahun, bukan hanya saat MotoGP.
- Strategi fokus pada quality tourism lewat pantai, seni budaya, dan kuliner kelas dunia.
- Investor hotel dan sektor layanan diprediksi naik 15‑20% bila ekosistem ini terwujud.
Berita Utama
Dalam wawancara eksklusif bersama Ahmad Fajar, Plt Direktur Utama InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) menegaskan bahwa pengembangan kawasan Mandalika NTB tidak lagi sekadar menjadi event destination untuk MotoGP. Ia menambahkan konsep “living destination” yang menuntut aktivitas pariwisata dan ekonomi berkelanjutan sepanjang tahun.
Menurut Fajar, kunci keberhasilan terletak pada penciptaan quality tourism yang menggabungkan daya tarik pantai, pertunjukan seni budaya, serta kuliner berstandar internasional. “Jika hanya mengandalkan satu event, aliran pendapatan hotel, restoran, dan layanan lainnya akan bersifat musiman. Kami ingin Mandalika menjadi magnet investasi yang stabil,” ujarnya.
ITDC telah menyiapkan masterplan yang mencakup pembangunan hotel bintang lima, pusat kuliner tematik, serta arena pertunjukan seni yang dapat menampung festival tahunan. Proyeksi ekonomi menunjukkan potensi peningkatan transaksi wisata hingga 30% dalam lima tahun ke depan, dengan efek multiplier pada sektor konstruksi, transportasi, dan tenaga kerja lokal.
Analisis Pakar
Strategi “living destination” yang diusung ITDC merupakan langkah tepat dalam mengatasi ketergantungan musiman yang masih menjadi masalah utama destinasi event‑driven di Indonesia. Dari perspektif makroekonomi, diversifikasi produk wisata akan menstabilkan arus devisa, mengurangi volatilitas pendapatan daerah, dan meningkatkan daya beli masyarakat setempat.
Namun, realisasi ambisi tersebut memerlukan sinergi antara pemerintah pusat, provinsi NTB, dan sektor swasta. Kebijakan fiskal yang mendukung, seperti insentif pajak bagi investor hotel dan fasilitas logistik, harus dipadukan dengan regulasi yang melindungi lingkungan pantai dan warisan budaya. Tanpa kontrol yang ketat, risiko over‑development dapat menurunkan nilai estetika Mandalika, yang pada gilirannya mengurangi daya tarik wisatawan premium.
Di sisi lain, penekanan pada kuliner kelas dunia membuka peluang bagi UMKM lokal untuk naik kelas melalui program pelatihan standar internasional. Ini tidak hanya meningkatkan margin keuntungan, tetapi juga menciptakan rantai nilai yang lebih panjang, mulai dari petani ikan hingga restoran bintang lima.
Secara keseluruhan, jika ITDC berhasil mengintegrasikan infrastruktur, branding, dan kebijakan pendukung, Mandalika berpotensi menjadi contoh sukses transformasi destinasi event menjadi ekosistem pariwisata berkelanjutan yang dapat direplikasi di wilayah lain.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Kapan Mandalika akan resmi beroperasi sebagai “living destination”?
- A: ITDC menargetkan fase pertama – penyelesaian hotel bintang lima dan pusat kuliner – selesai pada akhir 2027, dengan operasional penuh diperkirakan 2028.
- Q: Bagaimana dampak proyek ini terhadap harga properti di sekitar Mandalika?
- A: Analisis pasar memperkirakan kenaikan nilai properti sebesar 12‑18% dalam lima tahun pertama, didorong oleh permintaan investor dan wisatawan.
- Q: Apakah ada program khusus untuk melibatkan pelaku usaha mikro di sektor kuliner?
- A: Ya, ITDC bekerja sama dengan Dinas Pariwisata NTB untuk meluncurkan “Mandalika Culinary Academy” yang menyediakan pelatihan, sertifikasi, dan akses pendanaan bagi UMKM.

