Bali Jadi Pusat Revolusi Surya: Pemerintah Target 100 GW PLTS dalam 3 Tahun

Ekonomi & Pasar
Hendra GunawanHendra Gunawan
Hendra Gunawan
Hendra Gunawan
Pengamat Bisnis

Menyoroti perkembangan startup, bisnis lokal, dan ekonomi digital di Indonesia.

Bali Jadi Pusat Revolusi Surya: Pemerintah Target 100 GW PLTS dalam 3 Tahun
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Presiden Prabowo Subianto meluncurkan proyek PLTS 100 GWp di Bali dengan target selesai 2029.
  • Program ini diproyeksikan menghemat Rp73,9 triliun per tahun dan menggantikan 13 GW pembangkit diesel.
  • Investasi di sektor solar, baterai, dan jaringan listrik diperkirakan ciptakan 760.000+ lapangan kerja hijau.

Jakarta, CNBC Indonesia – Pada Selasa (25/8/2026), Presiden Prabowo Subianto secara resmi meluncurkan dan melakukan groundbreaking Program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt‑peak (GWp) di Monumen Operasi Lintas Laut Jawa‑Bali, Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali. Acara ini menandai puncak ambisi pemerintah dalam Klaster Kemandirian Energi dan Air yang menjadi prioritas nasional.

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan bahwa proyek 100 GWp akan dilaksanakan secara bertahap: fase pertama 17 GWp, fase kedua 18 GWp, dan fase ketiga 30 GWp, dengan target akhir 2029. Jika tercapai, efisiensi biaya listrik nasional diperkirakan mencapai Rp73,9 triliun per tahun, sekaligus menurunkan ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Target menengah 2026 adalah menambah 30 GWp PLTS sekaligus mematikan 13 GW pembangkit diesel (PLTD). Padahal potensi energi surya Indonesia mencapai 3.294 GWp, namun terpasang baru 1,5 GWp hingga April 2026 – sebuah kesenjangan yang ingin dijembatani lewat program ini.

Selama 2025, pemerintah telah menyiapkan 15 pembangkit energi terbarukan (EBT) – 12 PLTS dan 3 mikrohidro (PLTMH) – dengan total investasi Rp103,3 miliar, melayani 1.831 rumah tangga dan 131 fasilitas umum. Pada 2026, 39 lokasi PLTS terpadu di wilayah 3T akan melayani 4.259 rumah tangga dengan nilai pembangunan Rp450,2 miliar, serta tiga proyek PLTMH untuk 464 rumah tangga (investasi Rp50,4 miliar).

Program Listrik Desa telah menjangkau 1.403 lokasi di 36 provinsi, memberikan Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) kepada 220.845 rumah tangga tidak mampu. Pemerintah menegaskan bahwa PLTS 100 GWp bukan sekadar transisi energi, melainkan mesin pertumbuhan ekonomi baru yang akan memicu investasi di sektor pembangkit, penyimpanan baterai, dan jaringan kelistrikan, sekaligus memperkuat industri photovoltaic (PV) dalam negeri.

Analisis Pakar

Secara makro, target 100 GWp dalam tiga tahun menandakan perubahan paradigma kebijakan energi Indonesia. Jika dibandingkan dengan roadmap ASEAN, Indonesia berusaha melampaui rata‑rata regional yang masih berada di kisaran 30‑40 GWp total kapasitas surya terpasang. Keberhasilan program ini sangat bergantung pada penyediaan lahan, regulasi izin, dan, yang paling krusial, value chain domestik – mulai dari modul PV, inverter, hingga sistem penyimpanan baterai.

Investasi sebesar Rp450‑500 miliar per tahun untuk fase awal akan menambah tekanan pada anggaran negara, namun potensi penghematan Rp73,9 triliun per tahun memberikan rasio manfaat‑biaya yang sangat menggiurkan. Lebih penting lagi, penggantian 13 GW PLTD dengan energi bersih akan mengurangi beban subsidi BBM dan menurunkan emisi CO₂ secara signifikan, sejalan dengan komitmen Indonesia pada Paris Agreement.

Dari perspektif pasar tenaga kerja, proyeksi 760.000+ green jobs dalam RUPTL 2025‑2034 membuka peluang bagi tenaga kerja terampil, khususnya di bidang instalasi PV, operasi‑pemeliharaan, dan manajemen baterai. Namun, realisasi lapangan kerja ini memerlukan program pelatihan yang terkoordinasi antara kementerian tenaga kerja, perguruan tinggi, dan industri. Tanpa upskilling yang memadai, risiko “skill gap” dapat menghambat pencapaian target tenaga kerja hijau.

Terakhir, keberhasilan proyek ini akan sangat dipengaruhi pada stabilitas jaringan listrik. Integrasi 100 GWp energi surya menuntut upgrade infrastruktur transmisi dan sistem manajemen beban yang cerdas (smart grid). Pemerintah harus mempercepat investasi di jaringan fleksibel dan teknologi penyimpanan agar fluktuasi produksi surya tidak menimbulkan ketidakseimbangan pasokan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa lama target pemerintah untuk menyelesaikan 100 GWp PLTS?
    A: Target penyelesaian adalah tahun 2029, dengan fase pertama 17 GWp, fase kedua 18 GWp, dan fase ketiga 30 GWp.
  • Q: Berapa besar penghematan biaya listrik yang diproyeksikan?
    A: Pemerintah memperkirakan efisiensi biaya listrik mencapai Rp73,9 triliun per tahun.
  • Q: Berapa banyak lapangan kerja hijau yang akan tercipta?
    A: Diperkirakan lebih dari 760.000 pekerjaan termasuk dalam kategori green jobs dalam RUPTL 2025‑2034.
Meow! Tanya Nesi!
😸