Kebakaran Raksasa di Gunung Arjuno‑Welirang: 146 Hektare Hangus, Upaya Pemadaman Terganggu Medan Curam

Berita Daerah
Siti RahmawatiSiti Rahmawati
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Kebakaran Raksasa di Gunung Arjuno‑Welirang: 146 Hektare Hangus, Upaya Pemadaman Terganggu Medan Curam
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kawasan Tahura Raden Soerjo di Gunung Arjuno‑Welirang diperkirakan telah menghanguskan sekitar 146 hektare. Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, Jumadi, menyatakan bahwa angka tersebut masih bersifat perkiraan sementara dan akan diverifikasi setelah seluruh proses pemadaman selesai.

"140‑an hektare (perkiraan terdampak karhutla), yang pertama rilis ya, sebelum nanti ada kejadian lagi belum yang kemarin," ujar Jumadi pada Senin (24/8). Ia menambahkan bahwa operasi darat terhambat karena titik api terakhir berada di lereng menuju puncak Arjuno dengan kemiringan mencapai 60‑70 derajat, sehingga petugas sulit menjangkau.

Untuk mengatasi kendala tersebut, tim gabungan mengerahkan helikopter bantuan dari BNPB yang dapat menurunkan 1.000 liter air per penerbangan. Titik pengisian air dipusatkan di kolam Kaliandra, Taman Safari, dan tandon air BPBD Pasuruan di Lapangan Kaliandra agar operasi udara tidak terhambat. "Sekarang masih dilakukan water bombing. Titik‑titik lain seperti di Kembar 1, Kembar 2, dan sekitar Lapangan Kotak sudah padam. Tinggal satu titik yang sedang difokuskan," jelasnya.

Pihak Dinas Kehutanan belum dapat memberikan evaluasi mengenai kerugian flora dan fauna. "Kita konsentrasi dulu pada pemadaman. Setelah itu baru kita evaluasi dampaknya terhadap habitat," tegasnya.

Mengenai penyebab kebakaran, Jumadi belum dapat memastikan apakah insiden ini murni kelalaian atau ada unsur kesengajaan. Namun ia menegaskan, "Kalau api yang membawa pasti manusia. Tapi sengaja atau tidak, itu yang belum kita ketahui."

Kebakaran mulai terjadi sejak Selasa (18/8) dan jalur pendakian Gunung Arjuno‑Welirang ditutup sementara sejak Rabu (19/8) berdasarkan surat pengumuman UPT Tahura Raden Soerjo No. 500.4.6.10/1276/123.7.2/2026.

Analisis Pakar

Sebagai jurnalis investigasi, saya melihat pola yang terlalu familiar: kebakaran hutan di wilayah rawan kebakaran selalu diiringi dengan dugaan aktivitas manusia, namun penyelidikan formal jarang mengungkap motif atau pelaku. Pada kasus ini, ketidakjelasan penyebab kebakaran menimbulkan pertanyaan serius tentang efektivitas pengawasan dan penegakan hukum di kawasan konservasi.

Medan curam 60‑70 derajat yang menyulitkan tim darat bukan hanya masalah teknis; itu mengindikasikan kurangnya perencanaan mitigasi sebelumnya. Pemerintah daerah seharusnya memiliki peta risiko yang memetakan zona paling rawan, serta menyiapkan infrastruktur logistik—seperti helipad atau pos pemantauan—sebelum bencana terjadi.

Penggunaan helikopter BNPB memang mengurangi waktu respons, namun kapasitas 1.000 liter per penerbangan masih jauh dari kebutuhan untuk mengendalikan api di lereng yang luas. Ini menyoroti keterbatasan anggaran dan prioritas alokasi sumber daya pada penanggulangan kebakaran hutan di Indonesia.

Terakhir, penutupan jalur pendakian tanpa estimasi waktu pemulihan menimbulkan dampak ekonomi bagi komunitas lokal yang bergantung pada pariwisata. Pemerintah harus menyusun rencana pemulihan yang terintegrasi—meliputi rehabilitasi ekosistem, kompensasi ekonomi, dan program edukasi bagi penduduk sekitar—sebelum kebakaran berikutnya kembali mengancam.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Berapa luas area yang terbakar di Tahura Raden Soerjo?
    A: Sekitar 146 hektare, namun angka ini masih perkiraan sementara dan akan diverifikasi setelah pemadaman selesai.
  • Q: Apa penyebab utama kebakaran hutan ini?
    A: Penyebab pasti belum dapat dipastikan; pihak berwenang mencurigai adanya faktor manusia, baik kelalaian maupun kesengajaan.
  • Q: Mengapa jalur pendakian Gunung Arjuno‑Welirang ditutup?
    A: Karena kebakaran masih aktif dan area pendakian berada di zona berbahaya, sehingga penutupan bertujuan melindungi pendaki dan memudahkan operasi pemadaman.
Meow! Tanya Nesi!
😸