Di Ambang Kolaps Seperti Venezuela? Presiden Iran Ungkap Strategi Hadapi 'Perang Skala Penuh' Lawan AS
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Ringkasan Singkat
- Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan negaranya berada dalam "perang skala penuh" (ekonomi, militer, dan keamanan) melawan Amerika Serikat.
- Meskipun menghadapi tekanan sanksi berat yang sempat diproyeksikan akan meruntuhkan negara seperti Venezuela, Iran mengklaim tetap solid dan mampu bertahan.
- Upaya diplomasi AS-Iran yang sempat dimediasi oleh Qatar dan Pakistan kini kembali buntu akibat perselisihan implementasi nota kesepahaman dan navigasi di Selat Hormuz.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, secara terbuka mendeklarasikan bahwa negaranya kini tengah terlibat dalam "perang skala penuh" melawan Amerika Serikat. Konflik multidimensi ini mencakup sektor ekonomi, militer, hingga keamanan nasional.
Dalam pidato resminya yang disiarkan oleh kantor berita IRNA, Pezeshkian mengakui bahwa tekanan eksternal telah memicu kesulitan domestik yang signifikan. Ia bahkan menyatakan rasa "malu" pemerintah atas beban ekonomi yang harus dipikul oleh rakyatnya. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa Teheran tidak akan tunduk pada tekanan sepihak, merujuk pada ancaman sanksi ekonomi ekstrem yang kerap digaungkan oleh tokoh-tokoh politik AS, termasuk Donald Trump.
Menariknya, Pezeshkian menepis prediksi para analis Barat yang sempat memperkirakan Iran akan mengalami keruntuhan ekonomi total serupa dengan krisis Venezuela. Sebaliknya, ia mengklaim ketahanan nasional Iran justru membuktikan soliditas dan kohesi sosial yang mengejutkan dunia internasional. Di tengah badai sanksi, Teheran kini fokus menjaga stabilitas internal guna mencegah polarisasi dan konflik domestik.
Di sisi lain, dinamika diplomasi kedua negara sebenarnya sempat menunjukkan titik terang pada Juni lalu melalui nota kesepahaman yang dimediasi oleh Pakistan dan Qatar. Namun, harapan rekonsiliasi tersebut kembali kandas. Perundingan kini menemui jalan buntu akibat perbedaan tajam mengenai teknis implementasi kesepakatan serta aturan navigasi maritim di kawasan strategis Selat Hormuz, yang merupakan urat nadi perdagangan minyak global.
Analisis Pakar
Dari perspektif hubungan internasional, retorika "perang skala penuh" yang dilontarkan oleh Presiden Masoud Pezeshkian mencerminkan realitas pahit dari kegagalan diplomasi koersif. Penggunaan sanksi ekonomi sebagai senjata politik oleh Washington—terutama sejak penarikan diri AS dari kesepakatan nuklir (JCPOA)—telah memaksa Iran mengadopsi strategi "ekonomi perlawanan". Pezeshkian, yang dikenal sebagai figur relatif moderat, kini harus memainkan peran ganda: menjaga stabilitas domestik yang rapuh akibat inflasi tinggi, sekaligus mempertahankan postur defensif yang kuat di hadapan sekutu regionalnya.
Pernyataan Pezeshkian yang membandingkan Iran dengan Venezuela sangat menarik untuk dicermati. Berbeda dengan Venezuela yang sangat bergantung pada pasar minyak Barat sebelum krisis, Iran telah membangun jaringan perdagangan bawah tanah (shadow market) yang canggih selama beberapa dekade. Dukungan strategis dari kekuatan global seperti China dan Rusia juga memberikan napas buatan bagi perekonomian Teheran. Dengan demikian, ketahanan Iran bukan sekadar hasil dari "solidaritas rakyat" seperti yang diklaim secara populis, melainkan buah dari adaptasi geopolitik yang pragmatis dan diversifikasi kemitraan non-Barat.
Namun, kebuntuan di Selat Hormuz menunjukkan bahwa risiko eskalasi militer tetap berada pada level yang mengkhawatirkan. Selat Hormuz bukan hanya wilayah kedaulatan Iran, melainkan jalur transit bagi hampir seperlima konsumsi minyak dunia. Ketika Iran menggunakan kontrol navigasi di selat ini sebagai kartu tawar (bargaining chip), mereka sebenarnya sedang menyandera stabilitas ekonomi global. Bagi AS dan sekutunya, kebebasan navigasi di jalur ini adalah harga mati, yang menjelaskan mengapa kehadiran militer Barat di Teluk Persia terus diperkuat.
Pada akhirnya, kebuntuan diplomasi pasca-kesepakatan Juni membuktikan bahwa rasa saling tidak percaya (mutual distrust) antara Washington dan Teheran sudah terlalu mengakar. Mediasi oleh Qatar dan Pakistan hanya mampu meredakan ketegangan taktis, namun gagal menyelesaikan akar konflik struktural. Selama AS terus menuntut konsesi penuh tanpa menawarkan pencabutan sanksi yang kredibel, dan selama Iran terus memperluas pengaruh regional serta program nuklirnya, maka "perang hibrida" ini akan terus berlangsung tanpa pemenang yang jelas.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Q: Apa yang dimaksud dengan "perang skala penuh" yang dinyatakan oleh Presiden Iran?
A: Istilah ini merujuk pada perang hibrida yang tidak hanya melibatkan konfrontasi militer fisik, melainkan tekanan ekonomi ekstrem (sanksi), perang siber, sabotase keamanan, dan perang informasi yang dilancarkan oleh AS terhadap Iran.
Q: Mengapa Selat Hormuz menjadi titik krusial dalam konflik AS-Iran?
A: Selat Hormuz adalah jalur pelayaran vital global yang dilalui oleh sekitar 20% pasokan minyak dunia. Kontrol atau gangguan navigasi di selat ini oleh Iran dapat memicu lonjakan harga energi global secara drastis.
Q: Mengapa upaya mediasi antara AS dan Iran sebelumnya mengalami kegagalan?
A: Meskipun sempat ada nota kesepahaman pada Juni yang dimediasi Qatar dan Pakistan, perundingan buntu karena perbedaan pandangan mengenai detail implementasi sanksi, komitmen nuklir, serta aturan navigasi keamanan di Selat Hormuz.
BERITA TERKAIT (Dunia)

Senjata 'Pasukan Lula': Strategi Gerilya Media Sosial yang Membalikkan Arah Pilpres Brasil

Gebrakan Global: 33 Negara Perintahkan Warga Stok Bahan Darurat Hadapi Ancaman Siber dan Cuaca

Guncangan Ganda India: Siklon Murasu Ancam Pemulihan Pasca-Arnab, 30.000 Warga Dievakuasi
