⚠️INFO GEMPA BUMI: Magnitudo 5.2 di 48 km NE of Ruteng, Indonesia pada 24/8/2026, 04.20.16. Baca peringatan dan analisis selengkapnya.

Projo Rayakan HUT ke-12 Tanpa Jokowi, Budi Arie Tegaskan Dukungan pada Prabowo—Apa Maknanya?

Politik
Budi SantosoBudi Santoso
Budi Santoso
Budi Santoso
Editor

Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Projo Rayakan HUT ke-12 Tanpa Jokowi, Budi Arie Tegaskan Dukungan pada Prabowo—Apa Maknanya?
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Presiden Joko Widodo tidak hadir dalam perayaan HUT ke-12 Projo di Kalibata, Jakarta Selatan.
  • Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, menyatakan dukungan penuh kepada pemerintahan Prabowo Subianto dan menyoroti masalah korupsi di lingkaran elit.
  • Acara sederhana tanpa banner atau foto presiden menimbulkan pertanyaan tentang simbolisme politik dan strategi relawan.

Acara peringatan Hari Ulang Tahun ke-12 Projo digelar secara sederhana di kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) organisasi tersebut, berlokasi di kawasan Kalibata, Jakarta Selatan, pada Minggu (23/8). Hanya pengurus inti dan puluhan relawan yang hadir, tanpa tampilan banner atau foto presiden yang biasanya menjadi sorotan dalam acara serupa.

Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, mengaku telah mengirim undangan resmi kepada Presiden Joko Widodo. Namun, Budi Arie menjelaskan bahwa Presiden memiliki agenda lain di Jakarta, yakni menjadi saksi dalam pernikahan Sekretaris Pribadi (Sespri) Presiden Prabowo Subianto di JCC, Senayan. "Pak Jokowi ada jadwal setelah menjadi saksi di pernikahan sespri Pak Prabowo, mungkin ada janji, ada jadwal," ujar Budi Arie di lokasi, menolak mengungkap detail agenda tersebut.

Keberadaan logo Projo di dinding depan kantor menjadi satu-satunya simbol visual yang menampilkan siluet Presiden. "Ada. Ini kan cuman logo aja. Semua logonya ada kok," tegas Budi Arie ketika ditanya mengapa tidak ada foto Jokowi, Prabowo, atau Wapres Gibran.

Dalam pidatonya, Budi Arie menegaskan dukungan penuh kepada pemerintahan Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming. Ia menyoroti paradoks antara klaim anti‑korupsi pemerintah dan praktik korupsi yang masih merajalela di kalangan elit. "Enggak bisa ngomong pemerintahan antikorupsi kalau membiarkan praktik‑praktik korupsi di sekitar elit‑elit pemerintahan," ujarnya dengan nada kritis.

Analisis Pakar

Penolakan kehadiran Presiden Jokowi dalam perayaan HUT ke-12 Projo bukan sekadar masalah logistik. Dalam konteks politik Indonesia, kehadiran presiden pada acara relawan yang secara historis menjadi mesin mobilisasi dukungan menjadi sinyal legitimasi. Ketidakhadirannya, meski dijelaskan dengan agenda pernikahan, membuka ruang interpretasi bahwa hubungan antara Projo dan pemerintahan kini berada pada titik transisi.

Lebih jauh, keputusan Budi Arie untuk menegaskan dukungan kepada Prabowo Subianto dan Gibran menandai pergeseran aliansi politik. Projo, yang dulu dikenal sebagai sayap relawan Jokowi, kini tampak mengalihkan fokusnya ke pemerintahan baru. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang konsistensi ideologi organisasi dan apakah dukungan tersebut bersifat pragmatis demi akses sumber daya atau memang mencerminkan perubahan visi.

Isu anti‑korupsi yang diangkat Budi Arie juga patut mendapat sorotan kritis. Pernyataan bahwa pemerintah tidak dapat mengklaim antikorupsi sambil membiarkan praktik korupsi di kalangan elit mengandung kebenaran yang tak dapat diabaikan. Namun, tanpa data konkret atau contoh spesifik, retorika tersebut berisiko menjadi slogan politik semata. Sebagai jurnalis investigasi, saya menuntut bukti yang lebih kuat—misalnya, laporan audit atau kasus penindakan hukum—untuk menilai sejauh mana pemerintah Prabowo memang menegakkan komitmen anti‑korupsi.

Akhirnya, simbolisme visual—atau ketiadaannya—juga mengirim pesan. Tidak ada baliho atau foto presiden, hanya logo organisasi. Ini bisa diartikan sebagai upaya menurunkan eksposur politik dalam rangka menghindari kontroversi, atau sebagai strategi untuk menekankan identitas kolektif Projo di atas figur individual. Dalam iklim politik yang semakin terpolarisasi, keputusan semacam ini tidak lepas dari pertimbangan taktis.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Mengapa Presiden Jokowi tidak hadir dalam perayaan HUT ke-12 Projo?
    A: Menurut Ketua Umum Projo, Budi Arie, Presiden memiliki agenda lain di Jakarta, yaitu menjadi saksi dalam pernikahan Sekretaris Pribadi Presiden Prabowo Subianto di JCC, Senayan.
  • Q: Apa itu Projo?
    A: Projo (Relawan Jokowi) adalah organisasi massa yang dibentuk untuk mendukung program dan agenda pemerintahan Presiden Joko Widodo, serta menjadi jaringan sukarelawan di tingkat nasional.
  • Q: Apa yang dimaksud Budi Arie dengan kritik terhadap korupsi di lingkaran elit?
    A: Budi Arie menegaskan bahwa pemerintah tidak dapat mengklaim dirinya anti‑korupsi jika praktik korupsi masih meluas di kalangan pejabat tinggi dan elit politik, menuntut tindakan lebih tegas dalam penindakan kasus korupsi.
Meow! Tanya Nesi!
😸