Meninggal 91 Jiwa, Lebih dari 1.200 Luka: Gempa NTT Memuncak dalam Krisis Kemanusiaan
Tim kurasi konten viral yang menyeleksi berita paling relevan untuk pembaca.

Ringkasan Singkat
- Jumlah korban meninggal akibat gempa NTT naik menjadi 91 orang, dengan 40 laki-laki dan 48 perempuan.
- Lebih dari 1.200 orang terluka; mayoritas korban tewas karena dampak langsung reruntuhan bangunan.
- Gempa susulan terus mengguncang wilayah, tercatat 5.688 kali sejak kejadian utama, diperkirakan akan berlangsung 3‑4 minggu lagi.
Dalam konferensi pers yang disiarkan melalui kanal BNPB pada Minggu (23/8), Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan mengumumkan bahwa total korban meninggal akibat gempa di Manggarai dan sekitarnya kini mencapai 91 jiwa, naik empat jiwa sejak laporan sebelumnya.
Rincian kematian per kabupaten/kota menunjukkan beban paling berat di Manggarai Timur (31 jiwa) dan Manggarai (32 jiwa). Korban terdiri dari 39 lansia, 4 batita, 1 balita, 12 anak‑remaja, dan 35 dewasa. Sementara itu, 1.286 orang dilaporkan mengalami luka-luka, baik ringan maupun serius.
Menurut Berton, 51% kematian disebabkan oleh dampak langsung gempa, seperti tertimpa reruntuhan, sedangkan sisanya (49%) merupakan akibat dampak tidak langsung, termasuk komplikasi medis pasca‑bencana.
Data BNPB juga mencatat hingga kini terjadi 5.688 kali gempa susulan, dengan magnitudo tertinggi 6,2 dan terendah 1,1. Hari ini saja warga melaporkan 130 getaran. Pihak berwenang memperkirakan rangkaian gempa susulan ini dapat berlanjut selama tiga hingga empat minggu, menambah beban psikologis dan logistik bagi tim penyelamat.
Analisis Pakar
Situasi di Nusa Tenggara Timur (NTT) kini bukan sekadar soal angka korban, melainkan cermin kegagalan sistem mitigasi bencana yang sudah lama diabaikan. Pemerintah pusat dan daerah tampaknya belum mengintegrasikan data kerentanan wilayah dengan rencana pembangunan infrastruktur yang tahan gempa. Hal ini terlihat dari konsentrasi tinggi korban di daerah Manggarai Timur, yang selama ini dikenal memiliki bangunan tidak memenuhi standar teknik sipil.
Lebih mengkhawatirkan lagi, respons cepat BNPB yang terkesan hanya mengandalkan data kuantitatif tanpa memberikan gambaran jelas tentang distribusi bantuan, menimbulkan pertanyaan tentang transparansi dan akuntabilitas. Keterlambatan identifikasi jenkel korban serta kurangnya informasi tentang kondisi medis para luka-luka menandakan adanya kekurangan koordinasi antara lembaga kesehatan, militer, dan organisasi kemanusiaan.
Gempa susulan yang terus mengguncang wilayah menambah kompleksitas penanggulangan. Pola emporal yang “belum sederhana” menuntut penggunaan teknologi pemantauan seismik real‑time yang lebih canggih, serta sistem peringatan dini yang dapat diakses oleh masyarakat pedesaan. Tanpa investasi pada infrastruktur ini, siklus korban jiwa akan terus berulang setiap kali gempa terjadi.
Terakhir, kebijakan relokasi penduduk di zona rawan gempa harus dipercepat. Pemerintah belum menunjukkan komitmen nyata untuk memindahkan komunitas yang tinggal di daerah rawan longsor atau gempa, meski data BNPB sudah mengidentifikasi titik‑titik kritis. Tanpa langkah preventif, angka korban akan terus meningkat, menambah beban ekonomi dan sosial yang sudah melilit provinsi NTT.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
- Q: Berapa total korban meninggal akibat gempa NTT hingga 23 Agustus 2024?
A: Sebanyak 91 orang. - Q: Berapa banyak orang yang terluka dalam gempa tersebut?
A: Sekitar 1.286 orang. - Q: Berapa lama gempa susulan diperkirakan akan berlangsung?
A: Diperkirakan selama 3‑4 minggu sejak gempa utama.


