Senin, 2 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Aliansi AS-Korsel Retak? Kim Yo Jong Manfaatkan Keputusan Trump untuk Sudutkan Seoul

DuniaSiti RahmawatiSiti RahmawatiSumber: CNN Internasional
Siti Rahmawati
Siti Rahmawati
News Desk

Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.

Aliansi AS-Korsel Retak? Kim Yo Jong Manfaatkan Keputusan Trump untuk Sudutkan Seoul
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Kim Yo Jong mengkritik keras ketergantungan militer Korea Selatan terhadap Amerika Serikat setelah Donald Trump secara sepihak memangkas latihan militer gabungan.
  • Pyongyang menyebut Seoul berada dalam posisi "menyedihkan" dan tidak memiliki kedaulatan penuh atas komando militernya sendiri.
  • Langkah Trump ini diambil atas dasar hubungan pribadinya dengan Kim Jong Un, yang memicu perdebatan mengenai masa depan keamanan di Semenanjung Korea.

Dinamika geopolitik di Semenanjung Korea kembali memanas setelah KimYoJong, adik perempuan pemimpin tertinggi Korea Utara, melontarkan kritik tajam terhadap Korea Selatan. Pernyataan ini menyusul keputusan mendadak Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menginstruksikan pengurangan skala latihan militer gabungan antara AS dan Korea Selatan tanpa konsultasi mendalam terlebih dahulu dengan Seoul.

Kim Yo Jong menggambarkan situasi tersebut sebagai "kekacauan yang belum pernah terjadi sebelumnya." Dalam rilis resmi yang dikutip oleh media regional, ia menyebut Seoul berada dalam posisi yang memprihatinkan karena harus tunduk pada keputusan sepihak dari Washington. Menurutnya, ketergantungan pertahanan Korea Selatan pada AS menunjukkan kelemahan struktural dalam kedaulatan militer negara tersebut.

Tidak hanya menyasar kebijakan militer, Kim Yo Jong juga mengkritik respons dari kepemimpinan di Seoul, termasuk figur politik seperti LeeJaeMyung. Meskipun pihak Seoul mencoba membingkai pengurangan latihan ini sebagai peluang untuk membangun kemandirian pertahanan dan meretas jalan menuju perdamaian baru, Pyongyang menilai argumen tersebut hanyalah pembelaan yang lemah untuk menutupi hilangnya pengaruh tawar-menawar mereka.

Di sisi lain, DonaldTrump menegaskan bahwa keputusan memangkas latihan militer tersebut didasarkan pada hubungan baiknya dengan Kim Jong Un. Trump menilai latihan skala besar tersebut tidak hanya memakan biaya besar, tetapi juga provokatif dan menghambat proses diplomasi denuklirisasi di kawasan Asia Timur.

Analisis Pakar

Dari perspektif hubungan internasional, insiden ini menyoroti kerentanan klasik dalam aliansi asimetris. Ketika negara adidaya (AS) mengambil keputusan unilateral yang berdampak langsung pada keamanan mitranya (Korea Selatan), hal itu merusak kredibilitas komitmen pencegahan terintegrasi (integrated deterrence). Kim Yo Jong dengan cerdik memanfaatkan celah ini untuk memainkan narasi "negara boneka", sebuah propaganda lama Pyongyang yang kini mendapatkan momentum akibat gaya diplomasi transaksional ala Trump.

Kebijakan luar negeri Trump yang mengutamakan kalkulasi biaya-manfaat (cost-benefit analysis) sering kali mengabaikan nilai-nilai strategis jangka panjang dari aliansi tradisional. Dengan menyebut latihan militer "terlalu mahal" dan "provokatif", Trump secara tidak langsung memvalidasi narasi Korea Utara yang selama ini memandang latihan tersebut sebagai persiapan invasi. Bagi Seoul, ini adalah alarm keras bahwa payung keamanan nuklir AS tidak lagi bersifat absolut dan sangat bergantung pada dinamika politik domestik di Washington.

Secara strategis, Pyongyang sedang menerapkan wedge strategy—sebuah upaya untuk memecah belah aliansi AS-Korsel. Dengan mempermalukan Seoul di panggung publik dan memuji hubungan pribadi antara Kim dan Trump, Korea Utara berusaha mengisolasi Korea Selatan dari sekutu utamanya. Jika Seoul merasa tidak lagi didukung sepenuhnya oleh AS, mereka mungkin terpaksa mengambil langkah ekstrem, seperti mempercepat program persenjataan mandiri atau melakukan konsesi sepihak kepada Utara, yang keduanya akan mengubah peta keamanan regional secara drastis.

Ke depan, dinamika ini menuntut Korea Selatan untuk mendefinisikan ulang doktrin pertahanannya. Ketergantungan pada AS harus diimbangi dengan peningkatan kapasitas pertahanan konvensional mandiri (OPCON transfer) dan diversifikasi kemitraan strategis di kawasan Indo-Pasifik. Selama Washington terus menunjukkan inkonsistensi dalam komitmen keamanannya, Pyongyang akan terus mengeksploitasi retakan ini untuk memperkuat posisi tawar nuklirnya tanpa harus memberikan konsesi yang berarti.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

Q: Mengapa Donald Trump mengurangi latihan militer dengan Korea Selatan?
A: Trump mengurangi latihan tersebut karena menganggapnya terlalu mahal, provokatif bagi Korea Utara, dan untuk menjaga hubungan diplomatik yang baik dengan Kim Jong Un guna memfasilitasi negosiasi denuklirisasi.

Q: Apa tanggapan Korea Utara melalui Kim Yo Jong terkait keputusan ini?
A: Kim Yo Jong mengolok-olok Korea Selatan, menyebut mereka sebagai "militer boneka" yang tidak memiliki kendali atas pertahanannya sendiri karena keputusan militer penting diambil secara sepihak oleh AS.

Q: Bagaimana dampak pengurangan latihan militer ini terhadap aliansi AS-Korsel?
A: Pengurangan sepihak ini menimbulkan kekhawatiran di Seoul mengenai komitmen keamanan AS, memperlihatkan keretakan dalam aliansi, dan dimanfaatkan oleh Korea Utara untuk melemahkan posisi tawar Korea Selatan.

Meow! Tanya Nesi!
😸