Selasa, 3 November 2026 ☼Jakarta 29°C
berita hari ini.

Tendangan ‘Kungfu’ Mengguncang Piala Soeratin U-13: PSSI DIY Siap Gertak!

OlahragaMaya SariMaya SariSumber: CNN Olahraga
Maya Sari
Maya Sari
Wartawan Olahraga

Ahli dalam liputan bulu tangkis dan berbagai event olahraga internasional.

Tendangan ‘Kungfu’ Mengguncang Piala Soeratin U-13: PSSI DIY Siap Gertak!
BAGIKAN:

Ringkasan Singkat

  • Insiden tendangan keras menyerang kepala pemain Baturetno memicu kemarahan di lapangan Dwi Windu, Bantul.
  • Wasit hanya memberi kartu kuning, sementara PSSI DIY sudah menggelar sidang disiplin.
  • Pemain Mataram Utama dan petugas pertandingan berpotensi dijatuhi sanksi berat setelah korban menjalani CT‑Scan.

Pertandingan Piala Soeratin U‑13 pada Kamis, 20 Agustus, yang mempertemukan Baturetno melawan Mataram Utama (MU) di Lapangan Dwi Windu, Bantul, berubah menjadi sorotan nasional setelah sebuah tendangan “kungfu” menghantam kepala pemain Baturetno, Adskhan Jarrar Fauzy. Pada menit ke‑66, pemain MU, Firmansyah Purbo Wicaksono, melompat tinggi dan mengayunkan kaki seakan meniru gerakan seni bela diri, tepat menampar kepala lawan. Dampaknya? Adskhan terjatuh, namun berani melanjutkan laga hingga peluit akhir.

Namun, drama belum selesai. Wasit hanya mengeluarkan kartu kuning untuk Firmansyah, memicu protes sengit dari pihak Baturetno. Pembina SSB Baturetno, Sarjoko, menuntut hukuman merah bagi pelaku, serta sanksi larangan bermain di wilayah DIY selama beberapa tahun. Ia juga menuntut agar wasit yang dianggap lalai tidak lagi memimpin pertandingan selama satu hingga dua tahun.

Sementara itu, Wendy Umar, Sekretaris Umum PSSI DIY, mengonfirmasi bahwa komite disiplin telah menggelar sidang pada Jumat, 21 Agustus, dan sedang menunggu keputusan akhir. Timnya telah mengumpulkan bukti foto, video, serta laporan pengawas pertandingan. Wendy menambahkan bahwa Adskhan sempat merasakan pusing dan mual setelah pulang, sehingga dilarikan ke Rumah Sakit JIH untuk CT‑Scan. Hasilnya baik, namun pemain tersebut masih dipantau selama 24 jam ke depan.

PSSI DIY juga telah menghubungi keluarga Adskhan untuk memberikan dukungan moral dan memastikan prosedur pencegahan serupa di masa mendatang. Kasus ini menambah daftar insiden keras di level junior yang menuntut penegakan disiplin lebih tegas, mengingat dampak psikologis dan fisik yang dapat mengganggu perkembangan bakat muda.

Analisis Pakar

Sebagai pengamat olahraga yang telah menelusuri ribuan pertandingan sejak usia dini, saya melihat insiden ini bukan sekadar “kecelakaan” melainkan cerminan kegagalan dalam pengawasan dan edukasi nilai sportivitas pada level akar rumput. Tendangan yang menyerupai gerakan kungfu menandakan kurangnya kontrol emosi dan pemahaman taktik dasar. Di usia U‑13, pemain seharusnya masih belajar dasar‑dasar teknik, bukan mengandalkan kekuatan brutal yang berpotensi melukai lawan.

Lebih jauh, keputusan wasit yang hanya memberi kartu kuning menimbulkan pertanyaan tentang standar penilaian pelanggaran berat. Menurut FIFA Laws of the Game, tindakan yang mengancam keselamatan pemain harus langsung dikenai kartu merah. Jika tidak, kita membuka celah bagi perilaku agresif berulang, yang pada akhirnya merusak integritas kompetisi.

PSSI DIY memang sudah mengambil langkah cepat dengan menggelar sidang disiplin, namun kecepatan bukan satu‑satunya faktor. Proses disiplin harus transparan, konsisten, dan disertai edukasi bagi semua pelatih serta pemain tentang pentingnya fair play. Sanksi larangan bermain selama bertahun‑tahun memang dapat menjadi efek jera, namun harus diimbangi dengan program rehabilitasi mental bagi pelaku, agar tidak sekadar “mengurung” masalah.

Terakhir, kasus ini menjadi panggilan bagi seluruh stakeholder sepak bola Indonesia—asosiasi, klub, pelatih, dan orang tua—untuk menegakkan budaya keselamatan di lapangan. Kita harus menanamkan nilai sportivitas sejak dini, karena generasi muda adalah aset terbesar sepak bola bangsa. Jika tidak, insiden serupa akan terus muncul, menggerogoti kepercayaan publik dan menghambat perkembangan talenta muda Indonesia.

Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)

  • Q: Apa sanksi yang mungkin dijatuhkan kepada pemain MU yang melakukan tendangan?
  • A: PSSI DIY dapat memberikan kartu merah, larangan bermain selama 1‑3 tahun, atau bahkan sanksi administratif bagi klub.
  • Q: Mengapa wasit hanya memberi kartu kuning?
  • A: Wasit menilai aksi tersebut tidak memenuhi kriteria pelanggaran keras pada saat itu, namun keputusan tersebut kini dipertanyakan dan akan ditinjau kembali oleh Komite Disiplin.
  • Q: Bagaimana kondisi kesehatan pemain Baturetno setelah insiden?
  • A: CT‑Scan menunjukkan tidak ada cedera serius, namun pemain masih dipantau selama 24 jam dan diberikan perawatan medis serta dukungan moral.
Meow! Tanya Nesi!
😸