Gempa Magnitudo 4,9 Guncang Laut Flores di Utara Ruteng, Pakar Ingatkan Karakteristik Sesar Naik Aktif
Menyajikan liputan berita terkini secara cepat dan akurat langsung dari sumbernya.
Masyarakat di wilayah Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), dikejutkan oleh guncangan gempa bumi tektonik berkekuatan Magnitudo 4,9 yang mengguncang wilayah Laut Flores pada Jumat malam (21/8/2026) pukul 23:21:53 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan bahwa episenter gempa terletak pada koordinat laut di sebelah utara Ruteng, dengan kedalaman menengah yang memicu getaran di beberapa wilayah sekitar.
Pusat gempa terdeteksi berada di 83 kilometer sebelah utara-timur laut (NNE) Kota Ruteng, Kabupaten Manggarai. Berdasarkan pemodelan matematis dan analisis awal, getaran gempa ini dirasakan dalam skala intensitas II-III MMI (Modified Mercalli Intensity) di wilayah Ruteng dan sekitarnya, di mana getaran dirasakan nyata di dalam rumah seakan-akan ada truk besar yang berlalu. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai kerusakan infrastruktur maupun korban jiwa akibat peristiwa tektonik tersebut.
Mengingat gempa terjadi pada larut malam saat sebagian besar warga sedang beristirahat, kepanikan sempat terjadi di beberapa titik pemukiman padat. Pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Manggarai segera mengimbau warga untuk tetap tenang, menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa, serta terus memantau informasi resmi dari kanal BMKG guna menghindari disinformasi yang kerap beredar pasca-gempa.
Analisis Pakar Geofisika
Secara tektonik, wilayah utara Pulau Flores merupakan salah satu kawasan dengan tingkat seismisitas paling aktif dan kompleks di Indonesia. Gempa bumi berkekuatan M 4,9 yang berpusat di 83 km utara-timur laut Ruteng ini dipicu oleh aktivitas Flores Back-Arc Thrust (Sesar Naik Busur Belakang Flores). Sesar naik ini membentang dari utara Bali hingga utara Flores dan terbentuk akibat tekanan (kompresi) dari interaksi lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah lempeng Eurasia, serta deformasi kerak bumi di zona belakang busur kepulauan.
Sejarah kegempaan mencatat bahwa Sesar Naik Flores memiliki rekam jejak destruktif yang sangat signifikan. Salah satu peristiwa paling mematikan dalam sejarah modern Indonesia adalah Gempa dan Tsunami Flores 12 Desember 1992 (Magnitudo 7,8) yang menewaskan lebih dari 2.000 jiwa. Karakteristik sesar naik di wilayah ini memang cenderung menghasilkan gempa dangkal hingga menengah dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault) yang sangat efisien dalam mentransfer energi ke kolom air laut jika kekuatannya melebihi Magnitudo 6,5.
Untuk parameter gempa kali ini (M 4,9), energi yang dilepaskan tidak cukup kuat untuk mendeformasi dasar laut secara signifikan, sehingga tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Kendati demikian, masyarakat diimbau untuk tetap waspada terhadap potensi gempa susulan (aftershocks). Gempa susulan merupakan proses pelepasan sisa tegangan (stress release) pada batuan di sekitar bidang patahan untuk mencapai kesetimbangan baru. Meskipun magnitudo gempa susulan umumnya cenderung menurun, struktur bangunan yang sudah melemah akibat guncangan pertama tetap rentan mengalami kerusakan pada guncangan berikutnya.